Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan

Jumat, 09 Juli 2010

YUK, MENULIS!

Menulis, kegiatan itu sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita. Sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar kita telah diajarkan untuk menulis. Sampai sekarang saat kita telah menjadi guru, kegiatan tulis menulis telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pekerjaan kita sehari-hari.

Setiap harinya sebelum kita mulai mengajar, kita selalu di tuntut untuk membuat rencana pembelajaran yang akan kita sampaikan pada anak didik. Sedangkan pada saat pembelajaran berlangsung kita juga diharuskan mengamati perilaku anak didik yang nantinya akan di catat dalam anecdotal record, running record dan lain sebagainya. Apalagi untuk satuan pendidikan setingkat Taman Kanak-Kanak laporan tiap akhir semester yang akan disampaikan kepada wali murid dalam bentuk narasi. Jadi sebenarnya dunia tulis menulis itu sudah sangat akrab dengan para guru Taman Kanak-Kanak.


Akan tetapi hal yang berkaitan dengan menulis yang sesungguhnya seperti menulis artikel, menulis buku, menulis cerita, menulis karya tulis ataupun menulis yang berkaitan dengan kreativitas dan imajinasi , masih sangat jarang di temui di kalangan para guru. Khususnya para guru Taman Kanak-Kanak. Padahal sebagai guru banyak sekali hal yang dapat kita tuliskan. Kita bisa menulis tentang pengalaman kita saat mengajar anak-anak. Kita juga bisa menuliskan tentang system dan model pembelajaran yang tengah kita jalankan. Kita bisa menulis tentang suka duka menjadi guru Taman Kanak-Kanak. Atau kita juga bisa menulis cerita-cerita pendek untuk disampaikan kepada anak didik.

Dalam pembelajaran di Taman Kanak-Kanak setiap akhir jam pelajaran guru di tuntut untuk bercerita. Biasanya guru menyampaikan cerita berdasarkan buku cerita (story reading). Nah, cerita tersebut bisa juga kita karang sendiri. Disinilah kreativitas guru untuk menulis dapat dikembangkan. Tentunya kita akan merasa bangga dengan cerita karangan kita sendiri, bukan? Apalagi kalau anak didik menyukai cerita kita. Itu sudah merupakan kepuasan tersendiri.

Di media massa banyak kita jumpai tulisan yang mengupas tentang professi guru. Tulisan itu biasanya berupa kritikan ataupun saran terhadap para guru. Baik yang mencela ataupun bersifat membangun. Hanya sayangnya tulisan mengenai guru itu kebanyakan di tulis oleh penulis yang bukan guru. Tentu akan lebih bermakna lagi jika guru tidak hanya dijadikan sebagai obyek tulisan melainkan gurulah yang berlaku sebagai subyek tulisan. Dalam artian guru sendirilah yang seharusnya menulis seluk beluk tentang dunia guru. Tentunya tulisan yang berkaitan dengan guru jika di tulis oleh guru dapat menjadikan pembelajaran yang bermakna bagi seluruh masyarakat.

Manfaat Menulis bagi Guru
Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari kegiatan tulis menulis. Diantaranya, menulis dapat dijadikan sebagai media aktualisasi dan eksistensi diri. Dylan Thomas pernah berkata “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan” (Tabrani Yunis).

Sedangkan bagi guru, menulis itu dapat mengembangkan profesionalitas, memajukan keilmuan, mendatangkan popularitas, kepercayaan diri, dan tentu saja menambah penghasilan.

Bagi guru yang suka menulis, utamanya menulis hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran akan membuat guru menjadi semakin professional dalam mengelola kelasnya. Karena guru yang suka menulis akan mencari ide-ide baru untuk membuat pembelajarannya semakin menarik dan tidak membosankan bagi murid-muridnya.

Guru yang suka menulis juga senantiasa akan selalu menambah ilmu. Guru yang mau menulis juga harus rajin membaca. Dengan rajin membaca wawasan guru akan terbuka semakin luas. Sehingga diharapkan guru dapat menularkan hal tersebut kepada anak didiknya.

Percaya atau tidak kalau menulis itu bisa mendatangkan popularitas. Coba tengok penulis-penulis terkenal macam Buya Hamka, N.H. Dini, Arswendo Atmowiloto, Habiburrahman ElShirazy, Asma Nadia,Dewi Lestari, semua terkenal karena mereka rajin menulis. Dan bagi orang yang sering menulis di media massa, biasanya juga di kenal banyak orang. Apalagi kalau tulisan itu sangat menarik dan mampu menginspirasi orang lain, sudah pasti sang penulis akan selalu melekat di hati penggemarnya. Dan kesempatan itu juga sangat terbuka untuk guru. Guru yang mau menulis dapat menjadi popular. Tengok saja Bapak Wijaya Kusumah, guru dari Sekolah Labschool yang menjuarai Lomba Blog. Beliau punya blog yang sangat bagus sehingga dikunjungi banyak orang. Nah guru-guru yang lain juga bisa seperti Omjay (Panggilan Bapak Wijaya Kusumah).

Seiring dengan popularitas sudah pasti menulis dapat mendatangkan penghasilan tambahan. Coba kalau tulisan kita di muat di media massa, sudah pasti penghasilan kita bertambah dari hasil tulisan kita. Bahkan mungkin hasil menulis dari media bisa lebih besar dari gaji yang kita terima tiap bulannya. Jadi tidak ada lagi cerita sedih guru dengan kesejahteraannya yang memprihatinkan. Itu kalau guru mau menulis.

Disamping imbalan honor yang menggiurkan menulis juga bisa membuat guru menjadi lebih percaya diri. Kalau tulisan kita bisa di muat di media masa tentu kita akan merasa senang dan amat bangga, bukan?

Sering kita mendengar guru-guru senior kepangkatannya terhenti di gol IV a. mereka susah untuk naik ke golongan IV b karena tidak bisa membuat karya tulis. Akibatnya banyak kebohongan yang terjadi. Bagi guru-guru yang sangat ingin naik pangkat, segala cara mereka tempuh. Ada yang meminta bantuan orang lain untuk membuatkan karya tulis. Ada yang melakukan pemalsuan karya tulis yang justru hal tersebut dapat merendahkan martabat dan kredibilitas guru itu sendiri. Padahal hal tersebut bisa kita atasi kalau kita mulai membudayakan menulis pada diri kita sendiri.

Rendahnya minat Guru Taman Kanak-Kanak dalam Menulis
Sudah bukan rahasia lagi kalau para guru itu belum terbiasa menulis. Utamanya guru Taman Kanak-Kanak. Indikatornya banyak sekali. Coba kita amati buku-buku yang tengah beredar, berapa banyak yang di tulis oleh para guru? Juga artikel di surat kabar, tidak banyak yang di tulis oleh guru. Juga buku-buku pedoman untuk sekolah Taman Kanak-Kanak, berapa yang di tulis oleh guru Taman Kanak-Kanak? Hampir tidak ada. Juga dari ajang forum ilmiah yang pernah penulis ikuti. Partisipasi guru Taman Kanak-Kanak untuk mengikuti lomba karya tulis seperti itu sangat rendah sekali. Pada tahun 2008 dari target 30 peserta yang di canangkan masuk final hanya 27 naskah yang masuk. Untuk tahun 2009 lebih parah lagi karena hanya ada 24 naskah yang masuk. Hal ini berbeda dengan para guru sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di mana naskah yang masuk mencapai jumlah ratusan.

Sedangkan dalam mengikuti kegiatan seminar yang bertema karya tulispun guru Taman Kanak-Kanak paling sedikit pesertanya. Entah itu disebabkan oleh kurangnya informasi atau memang kualitas Sumber Daya Manusia yang berada di jenjang Taman Kanak-Kanak itu masih sangat rendah. Dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan Pendidikan (BPPn) provinsi Jawa Tengah tahun 2009, hampir 70 % pendidik di Taman Kanak-Kanak hanya berijasah SLTA, 21 % berijasah D2 dan 8 % saja yang berpendidikan sarjana (Samsudi)

Rendahnya minat para guru Taman Kanak-Kanak untuk menulis lebih disebabkan oleh diri pribadi guru itu sendiri. Mungkin untuk pertama kali menulis guru-guru itu merasa malu, takut akan kritikan, merasa tidak berbakat, kurang percaya diri atau akhirnya bosan. Banyak guru yang merasa tidak mampu sebelum mencoba. Juga adanya paradigma kalau menulis itu sulit sehingga guru malas untuk mencoba, belum terbiasa menulis, ingin menulis tapi tidak tahu harus mulai dari mana, tidak ada waktu untuk menulis atau guru itu sendiri malas membaca sehingga tidak punya ide sama sekali mau menulis tentang apa.

Menurut Wijaya Kusumah (wijayalabs.blogdetik.com), menulis itu bukan bakat, tetapi kebiasaan yang terlatih. Karena menulis itu tidak perlu bakat. Cuma perlu kemauan untuk menulis dan kemauan untuk terus berlatih menulis. Menulis apa saja. Kemampuan menulis bukan lahir karena bakat. Tetapi sesuatu kemampuan yang diciptakan. Menurut Bambang Trim’s yang di kutip oleh Ajeng Kania (nuansaonline.net), tidak ada orang yang dilahirkan sebagai penulis. Yang benar ia tercipta sebagai penulis karena di beri peluang dan rangsangan untuk belajar, berlatih dan berkembang.

Sejatinya tidak ada penulis yang terlatih. Tetapi yang ada adalah penulis yang suka berlatih. Itu berarti siapapun yang punya keinginan dan kemauan yang kuat untuk berlatih menulis pasti akhirnya bisa menulis.

Untuk pertama kali belajar menulis, mungkin kita bisa berlatih dengan menulis buku harian. Dalam buku harian kita bisa menuliskan apapun yang kita inginkan. Tentang kejadian sehari-hari, tentang peristiwa di sekitar kita, tentang hal-hal yang tidak kita setujui bisa kita curahkan semua pada buku harian. Jangan takut salah. Toh hanya kita yang membaca tulisan kita. Juga jangan takut kalau bakalan tidak di muat. Pokoknya tulis saja.

Menulis pada dasarnya adalah mengolah ide ke dalam bentuk kata-kata yang bermakna untuk disampaikan kepada orang lain. Jadi kita berharap dengan menulis kita akan dapat membantu orang lain, menyemangati orang lain melalui tulisan-tulisan kita. Kita tentunya bangga bukan jika tulisan kita mampu membantu orang lain? Dan agar tulisan kita mampu menarik minat orang lain agar mau membaca tulisan kita, maka kita harus terus berlatih menulis. Berlatih menulis memang membutuhkan perjuangan. Yakni perjuangan untuk dapat diterima oleh pembaca(Wijaya Kusumah). Agar dapat menjadi penulis yang dapat diterima salah satu kiatnya adalah belajar dari penulis yang telah mahir(Ajeng Kania). Caranya cukup dengan membaca, menelaah dan mempelajari karya-karya mereka. Kalau memungkinkan kita bisa juga bertanya kepada mereka. Satu hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh penulis adalah rajin-rajinlah membaca. Sebab untuk dapat menulis dengan baik diperlukan banyak membaca agar tulisan kita tidak kering.

Jika membaca saja malas, apakah mungkin seorang guru dapat menulis dengan baik? Mampukah menghasilkan tulisan, minimal artikel yang sesuai dengan bidang tugasnya jika guru itu malas membaca?

Bukan rahasia lagi kalau guru itu juga terkenal malas membaca dan belajar. Memang tidak semua guru begitu. Ada juga guru yang terus menerus membaca untuk menambah pengetahuannya. Mereka menghabiskan waktu untuk memuaskan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan. Guru yang seperti itu tentu saja patut kita acungi jempol dan kita jadikan tauladan, terutama bagi murid dan teman sejawatnya.

Sekarang ini untuk mencari bacaan yang bermutu tidak perlu susah-susah beli buku. Kemajuan teknologi telah memungkinkan kita mengakses bacaan tanpa perlu mengeluarkan uang terlalu banyak. Cukup masuk ke internet, ketemu google (atau search engine yang lain)dan berpuas-puaslah mencari bacaan di sana. Niscaya wawasan kita sebagai penulis pemula akan semakin kaya.

Jika dengan membaca tulisan saja tidak cukup mampu bagi kita untuk menghasilkan ide maka cara lain harus di tempuh. Ingatan manusia itu sangat terbatas. Jadi kita memerlukan bantuan untuk menyegarkan kembali ingatan kita dengan apa yang pernah kita baca sebelumnya. Untuk mengatasi masalah ini, maka kliping adalah sangat cocok untuk menemani penulis pemula memperkaya ide dan gagasan dalam menulis. Carilah tulisan sebanyak-banyaknya lalu di buat kliping dan pelajari. Lalu mulailah berlatih menulis.

Tips Sederhana Penulisan Artikel Nonfiksi 
Bagi sebagian orang menulis artikel fiksi mungkin lebih sulit daripada menulis artikel nonfiksi. Karena saat menulis artikel fiksi kita harus berkutat dengan pengembangan karakter masing-masing tokohnya. Sedangkan untuk artikel nonfiksi kita hanya perlu mencari bahan atau data-datanya.

Di bawah ini tips sederhana penulisan artikel nonfiksi yang di kutip dari Jonru (BelajarMenulis.com). Jonru mengatakan untuk mulai menulis artikel nonfiksi kita perlu mengumpulkan bahan sebagai berikut:
1. Ide
2. Berpikir sistematis
3. Data
4. Fokus pada masalah
5. Satu ide = satu alinea
Jika kelima poin di atas sudah dimiliki, maka Jonru mengatakan insyaallah menulis artikel nonfiksi bisa menjadi pekerjaan yang sangat mudah. Marilah kita pelajari bersama tips-tips dari Jonru berikut ini.
1. Ide
Ide itu ada di mana-mana dan bisa datang kapan saja. Saat kita sedang sendiri, saat kita sedang dalam perjalanan ke tempat mengajar atau juga bisa datang saat kita sedang mengajar. Pokoknya bisa di mana saja. Begitu mendapat ide, jangan tunggu lama-lama. Segera tulis ide kita itu. Walaupun kita baru bisa menulis garis besarnya saja. Hal ini untuk menghindari kita kehilangan ide tersebut.
2. Berpikir Sistematis
Setelah idenya ketemu, saatnya kita berpikir sistematis. Menurut Jonru berpikir sistematis itu penting sekali. Kegagalan para penulis pemula adalah mereka belum terbiasa berpikir sistematis. Akibatnya mereka punya ide tapi bingung harus mulai dari mana menuliskan idenya, bagaimana mengembangkan idenya dan sebagainya. Karena itu jika ingin menjadi penulis artikel nonfiksi yang berhasil, cobalah untuk mulai berpikir secara sistematis. Begitu kita mendapat ide, kita analisis point per point, langkah demi langkah.
3. Data
Data berguna untuk melengkapi tulisan kita agar lebih kaya. Data bisa diperoleh dari hasil membaca buku perpustakaan,dari koran, dari internet, dari bertanya ke teman, ataupun dari seminar-seminar.
4. Fokus pada Masalah
Sudah sering terjadi kalau saat kita menulis masalah maka tulisan kita jadi melebar ke mana-mana. Kita sering kali berpikir apa yang kita tulis masih berkaitan dengan tema utama, tapi sebenarnya hal tersebut tidak perlu untuk di bahas. Kerangka karangan agaknya dapat membantu kita untuk selalu fokus pada masalah.
5. Satu Ide=Satu Alinea
Ini sebenarnya sudah kita ketahui dari saat kita belajar di SD. Tapi mungkin saja kita sudah lupa atau belum membiasakan diri. Buatlah satu kalimat pokok dan kalimat lain sebagai pendukung yang tidak melenceng jauh dari kalimat pokok.

Setelah mempelajari tip-tip tersebut maka menurut Jonru, yang di butuhkan selanjutnya adalah latihan dan terus berlatih agar menjadi penulis yang berhasil.

Setelah itu jangan takut untuk mulai mengirimkan tulisan kita. Bisa kita masukkan ke blog pribadi kita, atau kita kirimkan ke media. Bisa juga kita ikutkan lomba menulis seperti ini. Jangan takut salah, jangan takut di tolak. Pokoknya yang penting nulis dan kirim.

REFERENSI
http://BelajarMenulis.com http://nuansaonline.net/index.php?option=com_content&task=view&id=231&Itemid=39 Samsudi (2009) Materi Seminar Nasional “Membaca Kembali Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidik” Badan Pengembangan Pendidikan (BPPn) Propinsi Jawa Tengah

http://wijayalabs.rezaervani.com/ ?p(2 of 4) 6/4/2009 8:32:05 AM Guru Menulis>>Arsip Blog>> BILA GURU MAU MENULIS. Tabrani Yunis http://wijayalabs.blogdetik.com/2009/01/30/tidak -gampang-jadi-penulis/#comment-419

Tidak ada komentar:

Posting Komentar