Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan www.wahyuti4tklarasati.blogspot.com

Sabtu, 09 Oktober 2010

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL

Selama dua hari ini tiap pagi aku disibukkan oleh permintaan anakku untuk mencarikannya tumbuh-tumbuhan untuk dibawa ke sekolah. Kemarin minta dicarikan tanaman yang memiliki akar serabut dan akar tunggang. Lha, pagi-pagi pergi ke sawah buat nguber tanaman berakar serabut. Untung kakeknya menanam pohon jagung. Untuk yang berkar tunggang di samping rumah banyak tumbuh tanaman rambutan, sisa pembuangan. Ada gunanya juga ternyata. Dan untuk pagi ini anakku minta dicarikan bermacam-macam dedaunan. Ada daun sirih, daun melati air, daun padi, daun jagung, daun ketela pohon, daun pepaya, dan daun lamtoro.

Pokoknya heboh. Namun aku bersyukur, berarti ada sedikit kemajuan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Para guru tidak lagi menganut pembelajaran abstrak sebagaimana aku sekolah dulu yang hanya mengacu pada model pidato dan buku teks, namun sudah menggunakan pembelajaran model kontekstual. Salut.

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah model pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kontektual ini didasarkan pada hasil penelitian dari John Dewey yang menyimpulkan bahwa anak didik akan belajar dengan baik apabila apa yang dipelajari terkait dengan apa yang diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Juga dilandasi oleh teori belajar dari Jerome Brunner yang mengatakan belajar merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya sehingga siswa mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.

Jadi pembelajaran model kontekstual menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Prosesnya tidak mengharapkan siswa hanya menerima pelajaran akan tetapi ada proses mencari dan enemukan sendiri materi tersebut. Disamping itu pembelajaran kontekstual juga mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman di sekolah dengan kehidupan nyata. Materi pelajaran kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak untuk kemudian dilupakan melainkan diajdikan bekal dalam mengarungi kehidupan nyata.

Prinsip dasar pembelajaran kontekstual:
1. Menekankan pada pemecahan masalah.
2. Kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti di rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
3. Mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali.
4. Menekankan pengajaran dalam konteks kehidupan siswa.
5. Mendorong siswa belajar dari satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama.
6. Menggunakan penilaian authentik.

Karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual:
1. Antar siswa perlu bekerja sama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan dan tidak membosankan.
4. Terintegrasi.
5. Menggunakan berbagai sumber.
6. Siswa aktif.
7. Sharing dengan teman.
8. Siswa kritis dan guru kreatif.
9. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, artikel, humor, dan lain-lain.
10. Laporan kepada orang tua siswa bukan hanya rapor melainkan juga hasil karya siswa, hasil praktikum, karangan siswa, dan lain lain, yang dikemas dalam portofolio.
11. Menggunakan penilaian sebenarnya (authentic assesment)

Karakteristik proses pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah diopelajari, degnan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.
3. Adanya pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari anak tentang pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehingga ada perubahan pada perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.

Langkah yang perlu ditempuh guru dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual:
1. Mengembangkan pemikiran, bahwa anak-anak perlu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya (belajar secara mandiri).
2. Melakukan kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Ungkap rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar, misalnya melalui belajar kelopmpok.
5. Hadirkan model untuk contoh pembelajaran.
6. Malakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual:
1. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari siswa.
2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan menyajikan dengan konsep yang akan dibahas dalam pembelajaran.
4. Merancang pembelajaran dengan mengkaitkan konsep dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5. Melaksanakan penilaian pengalaman siswa, di mana hasilnya nanti dijadikan bahan referensi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran.

Perbedaan pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual dengan pendekatan konvensional:
1. Pendekatan kontekstual:
a. Pemahaman makna.
b. Pemilihan informasi atas dasar kebutuhan siswa.
c. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
d. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata.
e. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
f. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
g. Ketrampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
h. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting.
i. Perilaku baik berdasarkan motivasi instrinsik.
j. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri.
k. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik dengan berbagai cara.
2. Pendekatan Konvensional:
a. Menyandarkan pada hafalan.
b. Pemilihan informasi ditentukan oleh guru.
c. Siswa pasif menerima informasi.
d. Pembelajaran abstrak dan teoritis.
e. Terfokus pada disiplin tertentu.
f. Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan.
g. Ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan.
h. Pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.
i. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.
j. Hadian dari perliku baik adalah nilai (angka rapor)
k. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

Menyusun rencana pembelajaran berbasis kontekstual:
- Program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru.
- Berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswa sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.
- Tercermin tujuan pembelajaran.
- Menggunakan media pembelajaran yang tepat.
- Materi pelajaran jelas.
- Ada langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh.
- Ada authentic assesment (dengan apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran)

Pembelajaran berbasis kontekstual pada intinya adalah inkuiri, penemuan sendiri oleh siswa, filosofinya adalah konstruktivisme, pembelajarannya dengan model, bekerja dan belajar kelompok, adanya pertanyaan-pertanyaan, penilaiannya adalah penilaian yang sebenarnya dan di akhiri dengan refleksi.

Guru yang profesional selalu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui berbagai model pembelajaran inovatif berbasis kontekstual menuju pendidikan yang bermutu dan fungsional.

Tugas guru memang berat namun mulia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tatanan nilai-nilai luhur sehingga generasi mendatang tidak hanya menjadi generasi yang cerdas namun juga memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi terhadap Allah SWT. Majulah guru Indonesia.

Source: Materi penataran “Membangun Profesionalitas Guru melalui Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kontekstual” oleh Prof. Dr. Rusdarti, M.Si.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar