Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan

Jumat, 30 April 2010

MENGHARAP ADANYA STANDAR HONOR BAGI GURU WIYATA

Setelah lelah melaksanakan kewajiban belajar mengajar tentu saja kita manantikan adanya imblan bagi pekerjaan yang telah kita lakukan. Tak tekecuali juga bagi guru wiyata bhakti. Tiap bulan tentu saja menanti-nanti honor mengajar sebagai  penyambung hidup. Namun apalah daya ternyata honor yang diterima sangat jauh dari standar layak untuk hidup. Jangankan untuk bisa menopang hidup, membayangkan saja mungkin tidak pernah.

Pernahkah terlintas dalam benak anda, berapa honor yang diterima guru wiyata bhakti tiap bulannya? Kalau di Sekolah Dasar ada dana BOS yang bisa membayar para guru wiyata ini. Bagaimana dengan para guru TK Wiyata bhakti yang kebanyakan mengajar di sekolah swasta? Kalau saya beritahu anda tentu saja mengelus dada. Terlebih bagi guru wiyata yang belum tersertifikasi. Di suatu sekolah  Taman Kanak-Kanak, guru wiyata bhakti dengan ijasah D2 menerima honor hanya 40 ribu rupiah tiap bulan. Coba bayangkan apa yang dapat dilakukan dengan uang sebesar 40 ribu selama satu bulan. Tapi kenyataan itu banyak terjadi di lembaga-lembaga sekolah kita. Bagi sekolah yang yayasannya bonafid mungkin mereka masih menerima gaji ratusan ribu. bagaimana dengan guru yang berwiyata di sekolah miskin?
Peranan guru wiyata bhakti dalam lembaga pendidikan TK tidak bisa dianggap angin lalu saja. Justru mereka adalah motor penggerak dalam kegiatan belajar mengajar di Taman Kanak-Kanak. Bagaimana bisa? Coba pikirkan, ada berapa banyak guru PNS di lembaga TK? Rata-rata hanya satu di tiap sekolah. Sedangkan rata-rata jumlah kelas dalam suatu sekolah TK adalah 2. Bagaimana mungkin guru PNS itu bisa menjalankan pembelajaran jika tidak dibantu oleh guru wiyata bhakti. Bahkan yang terjadi, para guru PNS itu sama sekali tidak pernah atau jarang melakukan kegiatan belajar mengajar. Posisi mereka kebanyakan sebagai kepala sekolah. Dan mereka tidak aktif melaksanakan pembelajaran.
Jadi sudah selayaknya kalau para pemegang kekuasaan di sekolah itu memikirkan juga kesejahteraan bagi anak buahnya. Janganlah hanya menuntut mereka untuk bersikap profesional tanpa memikirkan hak-hak mereka akan kesejahteraan.
Kenapa para guru wiyata mau di bayar sedemikian rendahnya? Mungkin hanya Allah yang tahu. Sambil berharap suatu saat nasib akan berubah. Dengan menjalani tes untuk menjadi guru PNS. Itupun bagi yang usianya belum kadaluwarsa untuk mengikuti tes CPNS, bagaimana dengan guru wiyata bhakti yang usianya sudah melampaui batas minimal untuk mengikuti tes CPNS? adakah harapan hidup bagi mereka?  Bagaimana bisa begitu? Itu juga yang ingin saya tanyakan disini.
Kalau honor saja sangat tidak layak, bagaimana mereka bisa mengajar dengan profesional?
Menjadi guru wiyata agaknya harus siap berkorban jiwa raga. Jangan mengharap bayaran layak kalau anda hanya guru wiyata. Menyedihkan sekali memang guru wiyata di negeri kita ini. Mereka sama sekali tidak dihargai. Padahal mereka adalah guru, turut mencerdaskan anak-anak bangsa. Beban mereka sama dengan guru PNS. Tanggung jawab mereka sama dengan guru-guru PNS. Tapi kenapa untuk honor terjadi kesenjangan yang amat menyedihkan. Rasa-rasanya buruh pabrik dengan ijasah SD lebih berharga dari para guru wiyata ini. Bagaimana tidak? Mereka punya standar upah minimal regional. Andai saja guru-guru wiyata ini juga punya upah standar minimal  untuk honor mereka.
Mungkin pemerintah sudah memikirkan dengan memberikan tunjangan kesejahteraan bagi para guru wiyata ini. Tapi tetap saja hal tersebut tidaklah memadai. Terlebih lagi bagi para guru wiyata yang mengajar di sekolah-sekolah miskin, hanya keridhaan Allah-lah yang mereka harapkan.

2 komentar:

  1. betull bu,semoga Allah membuka jalan bagi kami untuk bs mendpat honor yang lebih layak,amiennn

    BalasHapus
  2. Semoga dengan adanya PP yang baru yang mengatakan antara PNS dan Non PNS adalah sama segera terealisasi. Terima kasih atensinya...

    BalasHapus