Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan www.wahyuti4tklarasati.blogspot.com

Rabu, 26 Desember 2012

[Cerita Anak] Berlibur ke Desa

Cerita ini termuat di majalah Bobo Edisi 15 yang terbit tanggal 21 Juli 2011. Mulanya tidak menyangka cerita ini akan dimut. Jadi ini tulisan pertamaku yang nongol di Majalah Bobo. Pingin lagi dan lagi.



BERLIBUR KE DESA


Liburan semester telah tiba. Ayah berjanji mengajak kami liburan di desa. Kami tentu senang sekali. Karena telah lama kami tidak mengunjungi saudara-saudara kami di desa. Semua gembira, kecuali adikku Agus.


“Mau apa sih liburan di desa. Enakan juga ke Bali.” protes Agus karena keinginannya untuk melihat pulau dewata kembali tertunda.

“Ke Balinya semester depan saja, Gus. Ayah ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan.” kata Ayah.

“Ada apa sih di desa? Paling-paling cuma ada sapi dan kodok.” Agus masih kelihatan kecewa.

Agus bilang begitu karena dia belum pernah pergi ke desa. Sebaliknya aku, aku sangat rindu pada alam pedesaan yang indah dan damai. Aku rindu pada gunung dan rindu pada air terjun dekat rumah paman. Aku rindu pada hamparan padi yang menguning. Pada burung-burung pipit yang terbang menukik berebut tanaman padi. Rindu memanjat pohon jambu di belakang rumah, rindu pada sungai yang jernih mengalir, yang karena saking jernihnya kita bisa melihat batu-batu di dasarnya. Dan tentu saja aku rindu pada udara pedesaan yang bersih dan sejuk. Sebentar lagi semua kerinduanku itu akan dapat terobati.

Akhirnya tibalah juga hari yang kunanti-nanti tersebut. Hari di mana kami bertiga, aku, adikku Agus dan Susi berangkat ke desa. Kami bertiga naik kereta.

“Jaga adik-adikmu, Di.” pesan ayah padaku.

“Ya, Ayah.” aku mengangguk.

Sepanjang perjalanan kami di hibur oleh indahnya pemandangan. Gunung, laut semua telah kami lewati. Juga hamparan tanaman padi yang luas membentang. Laksana karpet hijau yang menyejukkan mata.

Sayang sekali agus melewatkan itu semua. Dia lebih memilih tidur dalam perjalanan. Sampai di stasiun hari sudah malam. Tapi Paman kami telah menunggu dengan mobilnya. Perjalanan kami lanjutkan dengan mobil yang dibawa paman. Kedua adikku sudah tidak dapat menahan kantuknya. Mungkin kelelahan.

Pagi hari saat kami bangun, udara segar langsung menyapa. Beda sekali dengan udara yang kami rasakan sehari-hari. Yang begitu pengap dan kotor oleh debu dan asap knalpot.

“Wow, Kak Adi, lihat ada gunung di depan rumah paman!” seru Agus dari halaman. Dia tampak sangat kegirangan. Maklum baru sekali ini Agus berkunjung ke rumah paman. Biasanya pamanlah yang pergi ke tempat kami.

Akupun segera keluar menemui Agus. Kulihat di sana dia sudah bergaul akrab dengan anak-anak tetangga. Mereka ramai sekali memanjat pohon karsem yang tumbuh di halaman. Itulah adikku Agus. Dia mudah sekali bergaul.

“Lihat Kak, pohon ini memiliki buah seperti cherry.” katanya seraya menunjukkan buah karsem yang kemerahan.

“Itu pohon karsem.” kataku seraya ikut bergabung dengan mereka. Sementara adikku Susi tampak asyik bermain dengang Andini, putrinya paman.

“Kalian mau ikut ke sawah?” Paman tiba-tiba sudah ada di samping kami. Dibahunya terpanggul sebuah cangkul.Tampaknya beliau bersiap-siap pergi ke sawah.

“Aku ikut.” kata Tono, putra paman.

“Aku juga ikut.” kata Agus bersemangat.

Akhirnya kami berempat berangkat ke sawah. Kami berjalan menyusuri pematang. Sementara di kanan kiri kami padi-padi sudah mulai menguning. Beberapa petani bahkan telah memanen padi mereka. Ada yang memeotong padi. Ada yang merontokkan padi. Semua bekerja dengan semangat sekali.

“Kita sudah sampai.” kata Paman.

“Mana padinya?” tanya Agus.

“Padinya telah selesai di panen, Gus. Sekarang paman sedang mempersiapkan tanah untuk musim tanam berikutnya. Kalian main-mainlah dulu.” kata Paman.

“Lihat, ada belut.” pekik Tono yang langsung terjun ke sawah. Dengan sigap dia mengejar belut yang tadi sempat menampakkan moncongnya ke permukaan tanah yang berair. Belut malang itupun dapat ditangkap oleh Tono. Lalu kamipun ikut-ikutan mencari belut. Tapi yang terjadi, kami malahan mandi lumpur. Sementara tak satupun belut dapat kami tangkap. Paman tertawa-tawa melihat keadaan kami.


“Pergilah kalian mandi ke sungai. Tapi hati-hati ya, batunya licin.” kata Paman.

Bertiga kamipun menuju ke sungai di dekat sawah paman. Sungai itu tampak dangkal. Kami lalu mencari tempat yang agak dalam. Setelah ketemu kami kemudian mandi di situ.


“Kak lihat, ada ikan berkaki.” teriak Agus.

Kami terkejut dan penasaran dengan temuan Agus. Kami kemudian berlari menghampiri Agus.

“Mana sih ikan berkaki?” tanyaku penasaran.

“Itu!” Agus menunjuk segerombolan anak katak yang asyik berenang-renang.

“Ha…ha…ha.” Tono tiba-tiba terbahak-bahak. “Itu bukan ikan berkaki,. Itu kecebong. Kecebong itu anak katak. Bukan ikan.” kata Tono kemudian.

Akupun ikut tersenyum.

“Dasar anak kota! Masa anak katak dibilang ikan.”

Aku maklum. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh besar di kota, Agus tentu belum pernah melihat anak katak yang sesungguhnya. Proses perkembangan katak mulai dari berudu menjadi katak, mungkin Agus tahu. Tapi dia belum pernah melihatnya secara langsung. Jadi dia mengira kalau anak katak itu ikan berkaki. Karena memang bentuk berudu seperti ikan.

Liburan kali ini benar-benar menyenangkan dan memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami. Terutama buat adikku Agus.


Selamat Menikmati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar