Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan

Kamis, 09 Februari 2012

KETIKA GURU KEHILANGAN PERHATIAN MURIDNYA

Pada saat-saat tertentu ada kalanya para guru kehilangan sentuhan ajaibnya sehingga anak-anak tidak lagi memperhatikan aksi si guru. Pada saat seperti itu guru, terlebih yang mengajar di Taman Kanak-Kanak dimana peserta didiknya memiliki rentang konsentrasi yang sangat pendek, memerlukan trik tersendiri agar perhatian murid kembali tertuju pada kegiatan yang disajikan.

Ada banyak cara dan trik untuk mengembalikan perhatian murid. Yang paling ampuh adalah dengan mengajak anak-anak meneriakkan yel-yel. Contoh yel ada di bawah, silahkan disimak:

1. Yel Kelas
“B1,” kata guru.
“Oyea, oyea, Yes!” sahut anak-anak.
Biasanya habis meneriakkan yel perhatian mereka kembali kepadaku.
Kebetulan saya ngajar di kelompok B1. Kelas dengan rangking usia paling tua, kelas paling pinter karena sudah bisa diajak untuk berpikir, kelas paling rame dan sangat dinamis. Tak jarang menghabiskan energi gurunya. Butuh teknik pembelajaran tertentu agar mereka tertarik untuk mengikuti pembelajaran.

2. Gerakan sederhana sambil melagukan syair.
a. “Di atas ada Allah,” dua tangan diangkat ke atas.
“Di samping malaikat,” dua tangan memegang kedua pundak kanan dan kiri.
“Di depan Nabi Muhammad,” dua tangan merentang ke depan.
“Duduk yang manis tangan dilipat,” dua tangan dilipat ke dada.
Setelah melafalkan syair ini biasanya anak-anak yang tadinya mulai rame akan kembali memperhatikan guru.

b. “Ini lambang jujur,” dua telapak tangan disatukan didepan dada seperti gerakan menyembah.
“Ini kerja sama,” jari-jari tangan kanan dan kiri dimasukkan satu sama lain.
“Ini tanggung jawab,” dua tangan disilangkan dipundak. Tangan kanan diletakkan di tangan kiri, tangan kiri diletakkan di tangan kanan.
“Ini adil dan damai,” saat mengatakan adil buatlah gerakan dengan dua tangan mendatar ke kanan dan ke kiri di depan dada. Pada saat mengatakan dan damai, buatlah gerakan membentuk segitiga dengan menyatukan ujung jari jemari tangan kanan dan kiri.

3. Bersorak
“Bersorak!” kata guru.
“Hore…!” sahut anak.
Kalau masih belum berhasil ulangi sekali lagi.
“Bersorak!” kata guru
“Hore…!” sahut anak.
Ulangi lagi sampai anak memperhatikan guru.

4. Bermain tepuk
a. “Tepuk satu kali,” kata guru sambil bertepuk satu kali. Anak menirukan. Kalau belum berhasil ulangi lagi.
“Satu kali.”
Anak bertepuk.
“Satu jari.”
Anak bertepuk memakai satu jari.
“Dua jari.”
“Dua kali.”
“Satu kali.”
Tepuk yang berganti-ganti akan memancing anak untuk kembali berkonsentrasi memperhatikan instruksi guru. Karena anak yang keliru bertepuk bisa jadi malu dengan teman-temannya.

b. “Tepuk empat kali,” ajak guru.
Bertepuk pelan-pelan sambil dihitung.
“Satu,” sambil tepuk.
“Dua,” sambil tepuk.
“Tiga,” sambil tepuk.
“Empat,” sambil tepuk.
“Kaki rapat, tangan dilipat, mulut dikunci, cekrek,”
Anak biasanya kan terus duduk rapi. Tepuk ini sempat diprotes karena mengekang kebebasan anak untuk bergerak. Akan tetapi jika anak tidak diarahkan untuk berkonsentrasi, ya sudah, bubarlah kelas, padha ribut semua.

c. “Tepuk Diam,” ajak guru.
“Bila aku...,” anak bertepuk tiga kali.
“Sudah tepuk...,” anak bertepuk tiga kali.
“Maka aku...,” anak bertepuk tiga kali.
“Harus diam, one, two, three, four, yes!”
d. “Tepuk tangan, tepuk paha!” ajak guru.
“Anak bertepuk tangan dua kali, lalu menepuk pahanya dua kali, ulangi lagi semakin lama ritme dipercepat. Anak-anak sangat suka sekali. Tepuk ini efektif untuk mengalihkan perhatian anak. Setelah itu anak bisa diajak kembali berkegiatan.

Selamat berkreasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar