ADA APA DENGAN ORANG-ORANG?
Siang hari sepulang mengajar seperti biasa, aku pulang naik bis. Biasanya siang hari begini bis kosong. Jadi biasanya bisa duduk dengan santai. Tapi siang ini entah kenapa bis penuh. Dalam artian tempat duduk telah terisi semua. Ya dah aku berdiri. Sudah terbiasa berdiri lagi.
Setelah berjalan beberapa kilo, serombongan nenek-nenek naik. Betul-betul nenek-nenek. Apa yang terjadi? Tak satupun dari mereka yang duduk, padahal kebanyakan yang duduk itu bapak-bapak, mau berdiri untuk memberikan tempat duduk pada nenek-nenek itu. Kasihan. Padahal untuk berdiri tegak saja mereka tidak mampu, apalagi dalam keadaan kendaraan melaju kencang. Beberapa ada yang tidak bisa menahan tubuhnya. Tapi ya Allah, itu bapak-bapak tetap pada tidak bergeming dari tempat duduknya yang nyaman.
Aku pikir, ada apa dengan orang-orang ini? Apa mereka tidak pernah diajari tata krama, belas kasihan pada orang yang tidak mampu? Dalam hal ini tidak mampu berdiri dengan benar karena sudah tua. Entahlah? Aku kemudian berpikir, apa yang telah mereka pelajari di sekolah dulu? Atau apa yang diajarkan oleh orang tuanya sehingga tidak ada rasa empati sama sekali terhadap lingkungan sekitar. Salah siapa semua ini? Salah guru? Dan kejadian seperti ini bukan hanya hari ini aku alami, tapi sudah berkali-kali. Wallahualam.
Baca Selengkapnya....!
Rabu, 10 Februari 2010
PROFESIONALITAS PENDIDIK PAUD
Pagi itu di suatu sekolah Taman Kanak-Kanak seorang ibu menemui Ibu guru TK. Sang Ibu mengeluh anaknya yang bernama Adi susah di minta untuk minum susu. Dia lalu meminta tolong agar ibu guru mau menasehati anaknya yang masih lima tahun itu agar mau minum susu. Ibu guru tidak keberatan karena memang sudah tugasnya untuk memberikan nasehat yang baik pada anak didik. Hasilnya, sejak saat itu Adi mau minum susu setelah dinasehati bu guru. Ada juga Ali, anak laki-laki itu mogok sekolah gara-gara takut sama ibu guru. Katanya ibu guru galak. Dan mungkin masih banyak contoh-contoh lainnya yang terjadi sehari-hari di kalangan anak usia dini.
Guru, selain berperan sebagai agen pembelajaran juga memiliki peran sebagai pengubah perilaku (behavioral changes) para peserta didik.
Anak usia dini adalah peniru ulung. Apa yang dilihat, didengarnya dari lingkungan akan senantiasa ditirunya. Begitu pula dengan sikap serta perilaku ibu guru akan senantiasa ditiru oleh peserta didik. Untuk itu ibu guru anak usia dini senantiasa dituntut untuk selalu memberikan contoh-contoh yang baik pada anak didik.
Demikian besar pengaruh guru itu terhadap perkembangan anak. Sehingga sudah sepantasnya bila para pendidik PAUD itu selalu bersikap profesional dalam menghadapi anak didik.
Pendidik/guru PAUD profesional yang memiliki kompetensi merupakan faktor yang paling penting dalam melaksanakan program PAUD yang berkualitas . Karena dari tangan-tangan para profesional inilah akan terlahir generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas dalam ilmu tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Profesional adalah sebuah pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan profesional menuntut persyaratan antara lain, menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, menekankan suatu keahlian dalam bidang tertentu, menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai, menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan, memiliki kode etik, memiliki klien dan yang terakhir adalah diakui oleh masyarakat.
Berdasarkan Undang-Undang Guru No. 15 Tahun 2005 dalam Bab II Pasal 2 dinyatakan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional khususnya pada jalur formal untuk jenjang pendidikan anak usia dini. Keprofesionalan guru tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat pendidik.
Dari hasil berbagai penelitian terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang di ajar oleh guru yang profesional dibandingkan dengan siswa yang diajar oleh guru bukan profesional.
Guru yang profesional dikategorikan mempunyai sertifikat pendidik serta mengajar sesuai dengan bidang keahliannya.
Sesuai dengan pasal 29 PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Kualifikasi akademik pendidik PAUD minimal adalah D VI/S1 pada bidang Pendidikan Anak Usia Dini, kependidikan lain, atau psikologi yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat yang relevan dengan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun karakteristik mendasar bagi profesionalitas pendidik anak usia dini menurut Yufiarti dan Titi Chandrawati yaitu, pertama, memiliki penghasilan yang memadai. Guru atau pendidik PAUD memiliki pengetahuan dan perilaku yang profesional sehingga mempunyai implikasi bahwa guru tersebut berhak mendapatkan kompensasi yang memadai. Kedua, memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu yang ditanganinya sebagai seorang ahli sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif. Yang ketiga, menunjukkan kinerja dengan kualitas tinggi. Pendidik PAUD yang profesional mampu menerapkan pengetahuannya dan ketrampilannya dalam praktek pembelajaran sehari-hari.
Disamping memiliki kualifikasi akademik dan karakteristik sebagaimana disebutkan di atas guru/pendidik PAUD juga dituntut untuk memiliki standar kompetensi tertentu. Standar kompetensi tersebut meliputi:
1. Kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran.
2. Kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan personal meliputi: kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, bijaksana dan berwibawa serta menjadi teladan yang baik bagi peserta didik.
3. Kompetensi profesional, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
4. Kompetensi sosial, yaitu mencakup kemampuan guru untuk berinteraksi dengan orang lain meliputi berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan anak didik, dengan teman sejawat, dengan orantua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
Jika di lihat dari kenyataan yang ada sudahkah para pendidik PAUD kita dapat diketegorikan sebagai seorang professional?
Dari data yang dikeluarkan oleh BPPn (Badan Pengembangan Pendidikan) Provinsi Jawa Tengah tahun 2009 rata-rata guru TK mempunyai ijasah setara SMA. Yakni mencapai 70 %. 21 % berijasah D2 dan Sarjana Muda, dan hanya 8,4 % yang mempunyai kualifikasi ijasah setara Sarjana. Sementara untuk pendidik PAUD belum ada pendataan yang akurat.
Masih rendahnya sumber daya manusia di kalangan pendidik PAUD membuat program PAUD sepertinya berjalan terseok-seok. Apalagi saat ini PAUD belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Dalam artian untuk penyelenggaraan sehari-hari PAUD masih ditangani oleh lembaga swadaya masyarakat.
Tetapi semenjak tahun 2006 telah terjadi perubahan yang menggembirakan di kalangan pendidik PAUD. Pada saat itu institusi LPTK telah meluluskan D2 PGTK banyak sekali. Bahkan anjuran untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu ke PG PAUD disambut antusias oleh guru-guru PAUD khususnya guru TK. Dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan.
Hanya saja pada saat sekarang guru-guru TK kebanyakan masih berstatus swasta atau wiyata bhakti. Hal tersebut tentu menyulitkan jika kita ingin membicarakan tentang karir profesional bagi mereka.
Memang tidak menjadi jaminan bahwa guru yang sudah mempunyai kualifikasi pendidikan setara Diploma atau sarjana lalu bersikap profesional. Banyak di antara mereka yang melanjutkan pendidikan sarjana dan motivasi mereka bukan untuk menjadi profesional tetapi sekedar tuntutan dari Dinas yang harus dipenuhi. Karena kalau tidak berpendidikan sarjana mereka akan tersingkir. Kalau tidak sarjana mereka tidak dapat mengikuti sertifikasi. Adanya tunjangan profesi bagi guru seharusnya bisa menjadi pemacu agar para guru itu bisa lebih meningkatkan diri agar manjadi profesional.
Berbicara tentang profesional banyak sekali sisi-sisi menarik yang harus dicermati. Antara kesejahteraan dan sikap profesional merupakan unsur yang saling terkait satu sama lain. Seperti yang di katakan Dr. Baedowi selaku Direktur Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan bahwa tuntutan akan profesionalitas guru harus disertai dengan pemenuhan kebutuhan hak guru atas kesejahteraan atau penghasilan yang layak. Profesional akan meningkat jika kesejahteraan juga meningkat. Walaupun banyak juga di antara mereka yang sudah memperoleh kesejahteraan (golongan PNS) tetapi bersikap tidak professional. Mereka bersikap seenaknya dalam melaksanakan pembelajaran. Mereka tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya. Bahkan mungkin ada yang sudah memperoleh sertifikasi tetapi sikap mereka sangat jauh dari profesional. Karena proses sertifikasi dengan portofolio toh bisa dimanipulasi. Sertifikat seminar bisa dibeli. Betul tidak?
Tidak dapat kita pungkiri bahwa telah terjadi kesenjangan antara guru PNS dan Non PNS di lingkungan pendidik PAUD. Kebanyakan guru-guru PAUD terutama guru TK adalah guru wiyata dan hanya sedikit yang berstatus PNS. Guru PNS ini kebanyakan menjabat sebagai kepala sekolah. Dan kebanyakan dari mereka sudah tidak melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar lagi. Bisa dikatakan guru wiyata baktilah yang kebanyakan aktif melaksanakan proses pembelajaran terhadap anak didik. Tetapi dalam hal kesejahteraan telah terjadi kesenjangan yang luar biasa antara guru PNS dan Non PNS. Bayangkan! Guru PNS dengan golongan IVA bergaji hampir 2,4 juta sebulan. Sedangkan anak buahnya yang Non PNS hanya berhonor 40 ribu tiap bulan plus tunjangan fungsional 200 ribu perbulan.
Itu adalah sebuah keironisan yang terjadi di kalangan pendidik PAUD kita. Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan bagi guru perlu kita dukung. Upaya itu adalah uji sertifikasi bagi yang memenuhi standar kualifikasi. Sertifikasi benar-benar harapan bagi guru wiyata bhakti. Tapi itupun masih harus antri.
Sedangkan penyaringan CPNS yang diselenggarakan pemerintah juga tidak memberikan peluang sedikitpun bagi guru Taman Kanak-kanak. Padahal mereka sudah jauh-jauh hari menyiapkan diri dengan mengikuti pendidikan tingkat lanjut sesuai kualifikasi yakni D2 PGTK dan sekarang S1. Tapi peluang untuk mengikuti seleksi CPNS bagi guru TK sangat kecil bahkan tidak ada. Padahal mereka keburu dikejar usia. Jika keadaannya terus demikian bagaimana mungkin mereka dapat menjadi seorang professional? Bagaimana mereka dapat memikirkan inovasi-inovasi baru untuk dunia pendidikan kalau kesejahteraan mereka masih belum terpenuhi?
Mungkin ada diantara mereka yang terus berusaha untuk menjadi profesional tanpa memikirkan honor yang tidak seberapa. Karena bagaimanapun sikap profesional tidak akan datang dengan tiba-tiba, melainkan mereka telah melatih diri untuk memecahkan berbagai masalah yang terkait dengan bidang tugasnya. Dan kepuasan seorang profesional tidak dapat diukur dengan berapa banyak materi yang dia terima melainkan keberhasilannya dalam menangani suatu masalah. Dan Insya Allah jika guru itu telah bersikap layaknya seorang profesional maka kesejahteraan juga akan menyertainya.
Beberapa saran agar karir guru profesional menjadi produktif dan bermanfaat (Yufiarti, Titi Chandrawati):
1. Menyesuaikan ever-emerging karir baru dalam mengajar di masyarakat.
2. Berkeinginan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
3. Banyak membaca.
4. Berkeinginan untuk mencoba hal-hal baru.
5. Antusias untuk mengajar.
Dengan menjadi seorang yang profesional dalam mengajar diharapkan produk belajar yang dihasilkanpun dapat meningkat sehingga dapat memperbaiki mutu pendidikan dan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas. Karena hasil pendidikan tidak dapat kita nikmati sekarang melainkan beberapa tahun ke depan.
Penulis adalah pendidik Taman Kanak-Kanak yang peduli pada Pendidikan Anak Usia Dini.
Referensi:
Yufiarti & Titi Candrawati (2008). Profesionalitas Guru PAUD. Universitas Terbuka Jakarta.
Samsudi (2009). Materi Seminar Nasional “Membaca Kembali Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidik” Badan Pengembangan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Baedowi (2008)Pedoman Penetapan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Jakarta
Baca Selengkapnya....!
Pagi itu di suatu sekolah Taman Kanak-Kanak seorang ibu menemui Ibu guru TK. Sang Ibu mengeluh anaknya yang bernama Adi susah di minta untuk minum susu. Dia lalu meminta tolong agar ibu guru mau menasehati anaknya yang masih lima tahun itu agar mau minum susu. Ibu guru tidak keberatan karena memang sudah tugasnya untuk memberikan nasehat yang baik pada anak didik. Hasilnya, sejak saat itu Adi mau minum susu setelah dinasehati bu guru. Ada juga Ali, anak laki-laki itu mogok sekolah gara-gara takut sama ibu guru. Katanya ibu guru galak. Dan mungkin masih banyak contoh-contoh lainnya yang terjadi sehari-hari di kalangan anak usia dini.
Guru, selain berperan sebagai agen pembelajaran juga memiliki peran sebagai pengubah perilaku (behavioral changes) para peserta didik.
Anak usia dini adalah peniru ulung. Apa yang dilihat, didengarnya dari lingkungan akan senantiasa ditirunya. Begitu pula dengan sikap serta perilaku ibu guru akan senantiasa ditiru oleh peserta didik. Untuk itu ibu guru anak usia dini senantiasa dituntut untuk selalu memberikan contoh-contoh yang baik pada anak didik.
Demikian besar pengaruh guru itu terhadap perkembangan anak. Sehingga sudah sepantasnya bila para pendidik PAUD itu selalu bersikap profesional dalam menghadapi anak didik.
Pendidik/guru PAUD profesional yang memiliki kompetensi merupakan faktor yang paling penting dalam melaksanakan program PAUD yang berkualitas . Karena dari tangan-tangan para profesional inilah akan terlahir generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas dalam ilmu tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Profesional adalah sebuah pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan profesional menuntut persyaratan antara lain, menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendasar, menekankan suatu keahlian dalam bidang tertentu, menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai, menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan, memiliki kode etik, memiliki klien dan yang terakhir adalah diakui oleh masyarakat.
Berdasarkan Undang-Undang Guru No. 15 Tahun 2005 dalam Bab II Pasal 2 dinyatakan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional khususnya pada jalur formal untuk jenjang pendidikan anak usia dini. Keprofesionalan guru tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat pendidik.
Dari hasil berbagai penelitian terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang di ajar oleh guru yang profesional dibandingkan dengan siswa yang diajar oleh guru bukan profesional.
Guru yang profesional dikategorikan mempunyai sertifikat pendidik serta mengajar sesuai dengan bidang keahliannya.
Sesuai dengan pasal 29 PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Kualifikasi akademik pendidik PAUD minimal adalah D VI/S1 pada bidang Pendidikan Anak Usia Dini, kependidikan lain, atau psikologi yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat yang relevan dengan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun karakteristik mendasar bagi profesionalitas pendidik anak usia dini menurut Yufiarti dan Titi Chandrawati yaitu, pertama, memiliki penghasilan yang memadai. Guru atau pendidik PAUD memiliki pengetahuan dan perilaku yang profesional sehingga mempunyai implikasi bahwa guru tersebut berhak mendapatkan kompensasi yang memadai. Kedua, memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu yang ditanganinya sebagai seorang ahli sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif. Yang ketiga, menunjukkan kinerja dengan kualitas tinggi. Pendidik PAUD yang profesional mampu menerapkan pengetahuannya dan ketrampilannya dalam praktek pembelajaran sehari-hari.
Disamping memiliki kualifikasi akademik dan karakteristik sebagaimana disebutkan di atas guru/pendidik PAUD juga dituntut untuk memiliki standar kompetensi tertentu. Standar kompetensi tersebut meliputi:
1. Kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran.
2. Kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan personal meliputi: kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, bijaksana dan berwibawa serta menjadi teladan yang baik bagi peserta didik.
3. Kompetensi profesional, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
4. Kompetensi sosial, yaitu mencakup kemampuan guru untuk berinteraksi dengan orang lain meliputi berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan anak didik, dengan teman sejawat, dengan orantua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
Jika di lihat dari kenyataan yang ada sudahkah para pendidik PAUD kita dapat diketegorikan sebagai seorang professional?
Dari data yang dikeluarkan oleh BPPn (Badan Pengembangan Pendidikan) Provinsi Jawa Tengah tahun 2009 rata-rata guru TK mempunyai ijasah setara SMA. Yakni mencapai 70 %. 21 % berijasah D2 dan Sarjana Muda, dan hanya 8,4 % yang mempunyai kualifikasi ijasah setara Sarjana. Sementara untuk pendidik PAUD belum ada pendataan yang akurat.
Masih rendahnya sumber daya manusia di kalangan pendidik PAUD membuat program PAUD sepertinya berjalan terseok-seok. Apalagi saat ini PAUD belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Dalam artian untuk penyelenggaraan sehari-hari PAUD masih ditangani oleh lembaga swadaya masyarakat.
Tetapi semenjak tahun 2006 telah terjadi perubahan yang menggembirakan di kalangan pendidik PAUD. Pada saat itu institusi LPTK telah meluluskan D2 PGTK banyak sekali. Bahkan anjuran untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu ke PG PAUD disambut antusias oleh guru-guru PAUD khususnya guru TK. Dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan.
Hanya saja pada saat sekarang guru-guru TK kebanyakan masih berstatus swasta atau wiyata bhakti. Hal tersebut tentu menyulitkan jika kita ingin membicarakan tentang karir profesional bagi mereka.
Memang tidak menjadi jaminan bahwa guru yang sudah mempunyai kualifikasi pendidikan setara Diploma atau sarjana lalu bersikap profesional. Banyak di antara mereka yang melanjutkan pendidikan sarjana dan motivasi mereka bukan untuk menjadi profesional tetapi sekedar tuntutan dari Dinas yang harus dipenuhi. Karena kalau tidak berpendidikan sarjana mereka akan tersingkir. Kalau tidak sarjana mereka tidak dapat mengikuti sertifikasi. Adanya tunjangan profesi bagi guru seharusnya bisa menjadi pemacu agar para guru itu bisa lebih meningkatkan diri agar manjadi profesional.
Berbicara tentang profesional banyak sekali sisi-sisi menarik yang harus dicermati. Antara kesejahteraan dan sikap profesional merupakan unsur yang saling terkait satu sama lain. Seperti yang di katakan Dr. Baedowi selaku Direktur Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan bahwa tuntutan akan profesionalitas guru harus disertai dengan pemenuhan kebutuhan hak guru atas kesejahteraan atau penghasilan yang layak. Profesional akan meningkat jika kesejahteraan juga meningkat. Walaupun banyak juga di antara mereka yang sudah memperoleh kesejahteraan (golongan PNS) tetapi bersikap tidak professional. Mereka bersikap seenaknya dalam melaksanakan pembelajaran. Mereka tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya. Bahkan mungkin ada yang sudah memperoleh sertifikasi tetapi sikap mereka sangat jauh dari profesional. Karena proses sertifikasi dengan portofolio toh bisa dimanipulasi. Sertifikat seminar bisa dibeli. Betul tidak?
Tidak dapat kita pungkiri bahwa telah terjadi kesenjangan antara guru PNS dan Non PNS di lingkungan pendidik PAUD. Kebanyakan guru-guru PAUD terutama guru TK adalah guru wiyata dan hanya sedikit yang berstatus PNS. Guru PNS ini kebanyakan menjabat sebagai kepala sekolah. Dan kebanyakan dari mereka sudah tidak melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar lagi. Bisa dikatakan guru wiyata baktilah yang kebanyakan aktif melaksanakan proses pembelajaran terhadap anak didik. Tetapi dalam hal kesejahteraan telah terjadi kesenjangan yang luar biasa antara guru PNS dan Non PNS. Bayangkan! Guru PNS dengan golongan IVA bergaji hampir 2,4 juta sebulan. Sedangkan anak buahnya yang Non PNS hanya berhonor 40 ribu tiap bulan plus tunjangan fungsional 200 ribu perbulan.
Itu adalah sebuah keironisan yang terjadi di kalangan pendidik PAUD kita. Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan bagi guru perlu kita dukung. Upaya itu adalah uji sertifikasi bagi yang memenuhi standar kualifikasi. Sertifikasi benar-benar harapan bagi guru wiyata bhakti. Tapi itupun masih harus antri.
Sedangkan penyaringan CPNS yang diselenggarakan pemerintah juga tidak memberikan peluang sedikitpun bagi guru Taman Kanak-kanak. Padahal mereka sudah jauh-jauh hari menyiapkan diri dengan mengikuti pendidikan tingkat lanjut sesuai kualifikasi yakni D2 PGTK dan sekarang S1. Tapi peluang untuk mengikuti seleksi CPNS bagi guru TK sangat kecil bahkan tidak ada. Padahal mereka keburu dikejar usia. Jika keadaannya terus demikian bagaimana mungkin mereka dapat menjadi seorang professional? Bagaimana mereka dapat memikirkan inovasi-inovasi baru untuk dunia pendidikan kalau kesejahteraan mereka masih belum terpenuhi?
Mungkin ada diantara mereka yang terus berusaha untuk menjadi profesional tanpa memikirkan honor yang tidak seberapa. Karena bagaimanapun sikap profesional tidak akan datang dengan tiba-tiba, melainkan mereka telah melatih diri untuk memecahkan berbagai masalah yang terkait dengan bidang tugasnya. Dan kepuasan seorang profesional tidak dapat diukur dengan berapa banyak materi yang dia terima melainkan keberhasilannya dalam menangani suatu masalah. Dan Insya Allah jika guru itu telah bersikap layaknya seorang profesional maka kesejahteraan juga akan menyertainya.
Beberapa saran agar karir guru profesional menjadi produktif dan bermanfaat (Yufiarti, Titi Chandrawati):
1. Menyesuaikan ever-emerging karir baru dalam mengajar di masyarakat.
2. Berkeinginan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
3. Banyak membaca.
4. Berkeinginan untuk mencoba hal-hal baru.
5. Antusias untuk mengajar.
Dengan menjadi seorang yang profesional dalam mengajar diharapkan produk belajar yang dihasilkanpun dapat meningkat sehingga dapat memperbaiki mutu pendidikan dan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas. Karena hasil pendidikan tidak dapat kita nikmati sekarang melainkan beberapa tahun ke depan.
Penulis adalah pendidik Taman Kanak-Kanak yang peduli pada Pendidikan Anak Usia Dini.
Referensi:
Yufiarti & Titi Candrawati (2008). Profesionalitas Guru PAUD. Universitas Terbuka Jakarta.
Samsudi (2009). Materi Seminar Nasional “Membaca Kembali Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidik” Badan Pengembangan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Baedowi (2008)Pedoman Penetapan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Jakarta
Baca Selengkapnya....!
Jumat, 22 Januari 2010
MACAM-MACAM TEPUK DALAM PEMBELAJARAN TK
Dalam pembelajaran di Taman Kanak-Kanak agar dapat tercipta suasana gembira dan tidak membosankan maka pembelajaran banyak di selingi oleh berbagai macam tepuk. Guru bisa membuat kreasi tepuk sendiri berdasarkan imajinasi. Di bawah ini ada contoh-contoh tepuk untuk pembelajaran TK. Tepuk-tepuk itu sebagai berikut:
Tepuk TK Larasati (Bisa diganti nama TK masing-masing)
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X anak TK
Tepuk 3X Larasati
Tepuk 3X Bandungrejo
Tepuk 3X Paling Oke
Tepuk 3X Yess
Tepuk Anak Pintar
Tepuk 3X Aku anak pintar
Tepuk 3X Tidak Boleh nakal
Tepuk 3X Patuh orang tua
Tepuk 3X patuh guru kita
Oyeah.
Tepuk Diam
Tepuk 3X Bila aku
Tepuk 3X Sudah tepuk
Tepuk 3X maka aku
Tepuk 3X harus diam
One, two, three, four Yes
Tepuk Rapi
Tepuk 3X Rapi Kanan
Tepuk 3X Rapi kiri
Tepuk 3X rapi semuanya
Yess
Tepuk Empat Kali
Tepuk 4X sambil berhitung satu, dua, tiga, empat
Kaki rapat, tangan di lipat, mulut di kunci, cekrek.
Tepuk Prestasi
Tepuk 1X satu
Tepuk 2X satu dua
Tepuk 3X satu dua tiga
Tepuk 4X satu dua tiga empat
Bisa, bisa Yess
Tepuk Islam
Tepuk 3X Tuhanku
Tepuk 3X Allah
Tepuk 3X Kitabku
Tepuk 3X Al Qur’an
Tepuk 3X Nabiku
Tepuk 3X Muhammad
Tepuk 3X Agamaku
Tepuk 3X Islam
Tepuk Cinta
Tepuk 3X Pertama aku cinta pada Allah
Tepuk 3X Kedua aku cinta Rasullullah
Tepuk 3X Ketiga Aku cinta kepada Ayah Bunda, semoga aku masuk surga
Tepuk 3X Amin, amin, Yess
Tepuk Anak Soleh
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X Anak Soleh
Tepuk 3X rajin sholat
Tepuk 3X Rajin ngaji
Tepuk 3X Orang tua
Tepuk 3X Dihormati
Tepuk 3X Cinta Islam
Tepuk 3X sampai mati
Laillahailallah Muhammaddarusulullah
Islam islam Yess
Tepuk Wudlu
Tepuk 3X Baca Bismillah lalu cuci tangan
Tepuk 3X Kumur-kumur basuh hidung basuh muka
Tepuk 3X dua tangan sampai siku kepala dan telinga terakhir cuci kaki lalu doa
Tepuk 3X yess
Tepuk Badut
Tepuk 3X mata besar
Tepuk 3X hidung tomat
Tepuk 3X perut gendut
Tepuk 3X goyang-goyang
Tepuk Ondel-ondel
Tepuk 3X Ondel-ondel
Tepuk 3X badan besar
Tepuk 3X rambut jagung
Tepuk 3X kalau jalan
Tepuk 3X timplang timplung timplang timplung
Tepuk Ayam
Tepuk 3X piyik-piyik
Tepuk 3X Petok-petok
Tepuk 3X Kukuruyuk
Tepuk Kambing
Tepuk 3X mbek embek
Tepuk 3X embek embek
Tepuk 3X mbeeeek
Tepuk Ikan
Tepuk 3X berenang
Tepuk 3X cari makan
Tepuk 3X sudah kenyang
Tepuk 3X diam
Tepuk Boneka
Tepuk 3X ithik-ithik
Tepuk 3X othok-othok
Tepuk 3X Thik thok, thik thok thik thok
Tepuk Teletubbies (Sambil menirukan gerakan teletubiess)
Tepuk 3X tinkie winkie
Tepuk 3X Dypsi
Tepuk 3X Lala
Tepuk 3X Poo
Es Es Krim
Tepuk 3X Ting ting ting ting
Tepuk 3X Tong tong tong tong
Tepuk 3X Juuuus
Tepuk Pistol
Tepuk 3X ambil pistol
Tepuk 3X isi peluru
Tepuk 3X lalu tembak
Dor dor dor
Tepuk bakso
Tepuk 3X glinding-glinding
Tepuk 3X tambah sambel
Tepuk 3X enak seger
Tepuk 3X bakso
Tepuk sate
Tepuk 3X di iris-iris
Tepuk 3X disunduki
Tepuk 3X dibakar
Tepuk 3X Sate
Tepuk tempe
Tepuk 3X di idak-idak
Tepuk 3X dibunteli
Tepuk 3X di dol
Tepuk empat sehat lima sempurna
Tepuk 3X nasi
Tepuk 3X lauk pauk
Tepuk 3X sayuran
Tepuk 3X buah-buahan
Tepuk 3X susu
Tepuk Panca Indra
Tepuk 3X mata
Tepuk 3X hidung
Tepuk 3X telinga
Tepuk 3X lidah
Tepuk 3X kulit
Tepuk Mata
Tepuk 3X lirik kanan
Tepuk 3X lirik kiri
Tepuk 3X mata
Tepuk Rasa
Tepuk 3X ada asam
Tepuk 3X ada asin
Tepuk 3X ada manis
Tepuk 3X ada pahit
Tepuk 3X macam-macam rasa
Tepuk keluarga
Tepuk 3X ada ayah
Tepuk 3X ada ibu
Tepuk 3X ada kakak
Tepuk 3X ada adik
Tepuk 3X keluarga
Tepuk tanaman
Tepuk 3X akar
Tepuk 3X batang
Tepuk 3X daun
Tepuk 3X bunga
Tepuk 3X buah
Tepuk Honda
Tepuk 3X ngeng ngeng (seperti orang ngegas)
Tepuk 3X ngeng ngeng
Tepuk 3X diiit (Sambil memegang hidung)
Tepuk Mobil
Tepuk 3X naik mobil
Tepuk 3X pegang setir
Tepuk 3X tekan klakson
Tepuk 3X din din din
Tepuk telepon
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X Hallo
Tepuk Huruf vokal
Tepuk 3X a
Tepuk 3X i
Tepuk 3X u
Tepuk 3X e
Tepuk 3X o
Tepuk Tertawa huruf vokal
Tepuk 3X ha ha ha ha
Tepuk 3X hi hi hi hi
Tepuk 3X hu hu hu hu
Tepuk 3X he he he he
Tepuk 3X ho h ho ho
Tepuk Pilot
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak sehat
Tepuk 3X belajar
Tepuk 3X dengan giat
Tepuk 3X sudah besar
Tepuk 3X jadi pilot
Tepuk anak Indonesia
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak Indonesia
Tepuk 3X tanah air
Tepuk 3X kubanggakan
Tepuk 3X cinta damai
Tepuk 3X selamanya
Tepuk Indonesia
Tepuk 3X Indonesia
Tepuk 3X Tanah Airku
Tepuk 3X Indonesia Raya
Tepuk 3X Lagu kebangsaanku
Tepuk 3X Garuda
Tepuk 3X Lambang negaraku
Tepuk 3X Pancasila
Tepuk 3X Dasar negaraku
Tepuk 3X Itulah Indonesiaku
Tepuk Merdeka
Tepuk 3X tujuhbelas
Tepuk 3X agustus
Tepuk 3X empat lima
Tepuk 3X merdeka
Tepuk Pulau Indonesia
Tepuk 3X ada Jawa
Tepuk 3X ada Sumatra
Tepuk 3X ada Kalimantan
Tepuk 3X ada Sulawesi
Tepuk 3X dan Papua
Tepuk 3X itulah Indonesia
Yess
Tepuk Bhinneka Tunggal Ika
Tepuk 3X Berbeda-beda
Tepuk 3X tapi tetap satu juga
Tepuk 3X Bhinneka Tunggal Ika
Tepuk 3X Yess
Tepuk Alam Semesta
Tepuk 3X ada bumi
Tepuk 3X ada bulan
Tepuk 3X ada matahari
Tepuk 3X ada bintang
Tepuk 3X ada komet
Tepuk 3X ada planet
Tepuk 3X alam semesta
Tepuk 3X ciptaan Tuhan
Yesss
Tepuk Pelangi
Tepuk 3X merah
Tepuk 3X jingga
Tepuk 3X kuning
Tepuk 3X hijau
Tepuk 3X biru
Tepuk 3X nila
Tepuk 3X ungu
Tepuk 3X mejikuhibiniu
Tepuk Pramuka
Tepuk 3X
Tepuk 3X
Tepuk 7X
Baca Selengkapnya....!
Tepuk TK Larasati (Bisa diganti nama TK masing-masing)
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X anak TK
Tepuk 3X Larasati
Tepuk 3X Bandungrejo
Tepuk 3X Paling Oke
Tepuk 3X Yess
Tepuk Anak Pintar
Tepuk 3X Aku anak pintar
Tepuk 3X Tidak Boleh nakal
Tepuk 3X Patuh orang tua
Tepuk 3X patuh guru kita
Oyeah.
Tepuk Diam
Tepuk 3X Bila aku
Tepuk 3X Sudah tepuk
Tepuk 3X maka aku
Tepuk 3X harus diam
One, two, three, four Yes
Tepuk Rapi
Tepuk 3X Rapi Kanan
Tepuk 3X Rapi kiri
Tepuk 3X rapi semuanya
Yess
Tepuk Empat Kali
Tepuk 4X sambil berhitung satu, dua, tiga, empat
Kaki rapat, tangan di lipat, mulut di kunci, cekrek.
Tepuk Prestasi
Tepuk 1X satu
Tepuk 2X satu dua
Tepuk 3X satu dua tiga
Tepuk 4X satu dua tiga empat
Bisa, bisa Yess
Tepuk Islam
Tepuk 3X Tuhanku
Tepuk 3X Allah
Tepuk 3X Kitabku
Tepuk 3X Al Qur’an
Tepuk 3X Nabiku
Tepuk 3X Muhammad
Tepuk 3X Agamaku
Tepuk 3X Islam
Tepuk Cinta
Tepuk 3X Pertama aku cinta pada Allah
Tepuk 3X Kedua aku cinta Rasullullah
Tepuk 3X Ketiga Aku cinta kepada Ayah Bunda, semoga aku masuk surga
Tepuk 3X Amin, amin, Yess
Tepuk Anak Soleh
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X Anak Soleh
Tepuk 3X rajin sholat
Tepuk 3X Rajin ngaji
Tepuk 3X Orang tua
Tepuk 3X Dihormati
Tepuk 3X Cinta Islam
Tepuk 3X sampai mati
Laillahailallah Muhammaddarusulullah
Islam islam Yess
Tepuk Wudlu
Tepuk 3X Baca Bismillah lalu cuci tangan
Tepuk 3X Kumur-kumur basuh hidung basuh muka
Tepuk 3X dua tangan sampai siku kepala dan telinga terakhir cuci kaki lalu doa
Tepuk 3X yess
Tepuk Badut
Tepuk 3X mata besar
Tepuk 3X hidung tomat
Tepuk 3X perut gendut
Tepuk 3X goyang-goyang
Tepuk Ondel-ondel
Tepuk 3X Ondel-ondel
Tepuk 3X badan besar
Tepuk 3X rambut jagung
Tepuk 3X kalau jalan
Tepuk 3X timplang timplung timplang timplung
Tepuk Ayam
Tepuk 3X piyik-piyik
Tepuk 3X Petok-petok
Tepuk 3X Kukuruyuk
Tepuk Kambing
Tepuk 3X mbek embek
Tepuk 3X embek embek
Tepuk 3X mbeeeek
Tepuk Ikan
Tepuk 3X berenang
Tepuk 3X cari makan
Tepuk 3X sudah kenyang
Tepuk 3X diam
Tepuk Boneka
Tepuk 3X ithik-ithik
Tepuk 3X othok-othok
Tepuk 3X Thik thok, thik thok thik thok
Tepuk Teletubbies (Sambil menirukan gerakan teletubiess)
Tepuk 3X tinkie winkie
Tepuk 3X Dypsi
Tepuk 3X Lala
Tepuk 3X Poo
Es Es Krim
Tepuk 3X Ting ting ting ting
Tepuk 3X Tong tong tong tong
Tepuk 3X Juuuus
Tepuk Pistol
Tepuk 3X ambil pistol
Tepuk 3X isi peluru
Tepuk 3X lalu tembak
Dor dor dor
Tepuk bakso
Tepuk 3X glinding-glinding
Tepuk 3X tambah sambel
Tepuk 3X enak seger
Tepuk 3X bakso
Tepuk sate
Tepuk 3X di iris-iris
Tepuk 3X disunduki
Tepuk 3X dibakar
Tepuk 3X Sate
Tepuk tempe
Tepuk 3X di idak-idak
Tepuk 3X dibunteli
Tepuk 3X di dol
Tepuk empat sehat lima sempurna
Tepuk 3X nasi
Tepuk 3X lauk pauk
Tepuk 3X sayuran
Tepuk 3X buah-buahan
Tepuk 3X susu
Tepuk Panca Indra
Tepuk 3X mata
Tepuk 3X hidung
Tepuk 3X telinga
Tepuk 3X lidah
Tepuk 3X kulit
Tepuk Mata
Tepuk 3X lirik kanan
Tepuk 3X lirik kiri
Tepuk 3X mata
Tepuk Rasa
Tepuk 3X ada asam
Tepuk 3X ada asin
Tepuk 3X ada manis
Tepuk 3X ada pahit
Tepuk 3X macam-macam rasa
Tepuk keluarga
Tepuk 3X ada ayah
Tepuk 3X ada ibu
Tepuk 3X ada kakak
Tepuk 3X ada adik
Tepuk 3X keluarga
Tepuk tanaman
Tepuk 3X akar
Tepuk 3X batang
Tepuk 3X daun
Tepuk 3X bunga
Tepuk 3X buah
Tepuk Honda
Tepuk 3X ngeng ngeng (seperti orang ngegas)
Tepuk 3X ngeng ngeng
Tepuk 3X diiit (Sambil memegang hidung)
Tepuk Mobil
Tepuk 3X naik mobil
Tepuk 3X pegang setir
Tepuk 3X tekan klakson
Tepuk 3X din din din
Tepuk telepon
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X Hallo
Tepuk Huruf vokal
Tepuk 3X a
Tepuk 3X i
Tepuk 3X u
Tepuk 3X e
Tepuk 3X o
Tepuk Tertawa huruf vokal
Tepuk 3X ha ha ha ha
Tepuk 3X hi hi hi hi
Tepuk 3X hu hu hu hu
Tepuk 3X he he he he
Tepuk 3X ho h ho ho
Tepuk Pilot
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak sehat
Tepuk 3X belajar
Tepuk 3X dengan giat
Tepuk 3X sudah besar
Tepuk 3X jadi pilot
Tepuk anak Indonesia
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak Indonesia
Tepuk 3X tanah air
Tepuk 3X kubanggakan
Tepuk 3X cinta damai
Tepuk 3X selamanya
Tepuk Indonesia
Tepuk 3X Indonesia
Tepuk 3X Tanah Airku
Tepuk 3X Indonesia Raya
Tepuk 3X Lagu kebangsaanku
Tepuk 3X Garuda
Tepuk 3X Lambang negaraku
Tepuk 3X Pancasila
Tepuk 3X Dasar negaraku
Tepuk 3X Itulah Indonesiaku
Tepuk Merdeka
Tepuk 3X tujuhbelas
Tepuk 3X agustus
Tepuk 3X empat lima
Tepuk 3X merdeka
Tepuk Pulau Indonesia
Tepuk 3X ada Jawa
Tepuk 3X ada Sumatra
Tepuk 3X ada Kalimantan
Tepuk 3X ada Sulawesi
Tepuk 3X dan Papua
Tepuk 3X itulah Indonesia
Yess
Tepuk Bhinneka Tunggal Ika
Tepuk 3X Berbeda-beda
Tepuk 3X tapi tetap satu juga
Tepuk 3X Bhinneka Tunggal Ika
Tepuk 3X Yess
Tepuk Alam Semesta
Tepuk 3X ada bumi
Tepuk 3X ada bulan
Tepuk 3X ada matahari
Tepuk 3X ada bintang
Tepuk 3X ada komet
Tepuk 3X ada planet
Tepuk 3X alam semesta
Tepuk 3X ciptaan Tuhan
Yesss
Tepuk Pelangi
Tepuk 3X merah
Tepuk 3X jingga
Tepuk 3X kuning
Tepuk 3X hijau
Tepuk 3X biru
Tepuk 3X nila
Tepuk 3X ungu
Tepuk 3X mejikuhibiniu
Tepuk Pramuka
Tepuk 3X
Tepuk 3X
Tepuk 7X
Baca Selengkapnya....!
Pembentukan POS PAUD
Pos PAUD merupakan program layanan pendidikan yang diintegrasikan dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu. Pos PAUD merupakan salah satu bagian dari Lembaga Satuan PAUD Sejenis.
Dalam penyelenggaraan Pos PAUD seringkali di tangani dengan kurang serius. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga profesional yang menangani Pos PAUD. Di samping itu kurangnya sosialisasi program membuat Pos PAUD hanya berjalan seadanya.
Untuk membentuk Pos PAUD langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
a. Tahap persiapan,
Dimulai dengan identifikasi lapangan menyangkut , Pemilihan Pos yandu, sebaiknya Pos Yandu tersebut aktif, jumlah anak yang dilayani minimal 20 orang dan memiliki Kader aktif minimal 4 orang.
Setelah mengadakan identifikasi lingkungan langkah selanjutnya yaitu mengumpulkan Data lingkungan meliputi junlah sasaran PAUD, tenaga pendidik yang dapat direkrut menjadi kader PAUD, dan pemilihan tempat yang memungkinkan untuk kegiatan PAUD. Tempat bisa berupa balai desa, sekolah, rumah penduduk atau tempat lain yang dapat digunakan untuk kegiatan anak.
Setelah melakukan identifikasi lapangan, langkah yang kedua yakni melakukan sosialisasi program. Langkah yang di tempuh yakni, melakukan koordinasi dengan petugas lapangan, tokoh lingkungan, tokoh masyarakat, dan pengurus posyandu. Mengadakan pertemuan dengan masyarakat khususnya yangmempunyai anak usia 0-6 tahun.
b. Tahap pembentukan
1. Membuat kesepakatan. Bertujuan untuk menyatukan pendapat dan menyusun rencana pelaksanaan kegiatan PAUD yang diintegrasikan dengan layanan BKB dan posyandu. Kesepakatan di buat bersama yang melibatkan orangtua anak, kader, pengelola posyandu, PKK, Tim Pembina dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, PLKB, dan tokoh masyarakat setempat. Kesepakatan yang dibangun meliputi waktu kegiatan, tempat kegiatan, bentuk partisipasi yang diperlukan dan bentuk pembinaan.
2. Pendaftaran calon peserta pos paud. Tujuannya untuk mempermudah pengelompokan anak dan penertiban administrasi.
3. Pendaftaran program ke Dinas Pendidikan Kecamatan.
4. Persiapan pembelajaran. Hal yang perlu dilakukan adalah:
-menyiapkan administrasi kelompok.
-menyusun rencana kegiatan.bertujuan memberikan arah dalam menentukan kemampuan anak yang akan dikembangkan, topik bermain yang akan dilakukan, menentukan alat dan bahan main yang perlu disiapkan, waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan.
Untuk anak usia 0-2 sepenuhnya jenis main sensorimotor, anak usia 2-3 tahun dan 3-4 tahunmain sensorimotor dan mainperan, anak usia 4-6 tahun main pembangunan.
-kalender akademik. Sebaiknya di mulai pada bulan Juli dan diakhiri bulan Juni. Tujuannya agar anak yang akan melanjutkan ke TK atau SD dapat langsung menyambung karena tidak ada perbedaan kalender akademik.
-penyusunan jadwal kegiatan. Hal yang perlu di perhatikan menyangkut: jumlah frekuensi pertemuan dalam satu minggu, lama waktu belajar dalam setiap pertemuan, dan hari serta jam pemberian layanan.
-menyiapkan APE. Kriteria yang perlu diperhatikan adalah APE aman bagi anak, menarik dan dapat dimainkan oleh anak dengan berbagai cara, sertamudah dan murah dalam pembuatannya.
DAFTAR PUSTAKA:
Luluk Asmawati, dkk. (2008) Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini, Penerbit Universitas Terbuka : Jakarta.
Penulis : Sri Wahyuti (Guru Taman Kanak Kanak dan mahasiswa S1 PG PAUD)
Baca Selengkapnya....!
Dalam penyelenggaraan Pos PAUD seringkali di tangani dengan kurang serius. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga profesional yang menangani Pos PAUD. Di samping itu kurangnya sosialisasi program membuat Pos PAUD hanya berjalan seadanya.
Untuk membentuk Pos PAUD langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
a. Tahap persiapan,
Dimulai dengan identifikasi lapangan menyangkut , Pemilihan Pos yandu, sebaiknya Pos Yandu tersebut aktif, jumlah anak yang dilayani minimal 20 orang dan memiliki Kader aktif minimal 4 orang.
Setelah mengadakan identifikasi lingkungan langkah selanjutnya yaitu mengumpulkan Data lingkungan meliputi junlah sasaran PAUD, tenaga pendidik yang dapat direkrut menjadi kader PAUD, dan pemilihan tempat yang memungkinkan untuk kegiatan PAUD. Tempat bisa berupa balai desa, sekolah, rumah penduduk atau tempat lain yang dapat digunakan untuk kegiatan anak.
Setelah melakukan identifikasi lapangan, langkah yang kedua yakni melakukan sosialisasi program. Langkah yang di tempuh yakni, melakukan koordinasi dengan petugas lapangan, tokoh lingkungan, tokoh masyarakat, dan pengurus posyandu. Mengadakan pertemuan dengan masyarakat khususnya yangmempunyai anak usia 0-6 tahun.
b. Tahap pembentukan
1. Membuat kesepakatan. Bertujuan untuk menyatukan pendapat dan menyusun rencana pelaksanaan kegiatan PAUD yang diintegrasikan dengan layanan BKB dan posyandu. Kesepakatan di buat bersama yang melibatkan orangtua anak, kader, pengelola posyandu, PKK, Tim Pembina dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, PLKB, dan tokoh masyarakat setempat. Kesepakatan yang dibangun meliputi waktu kegiatan, tempat kegiatan, bentuk partisipasi yang diperlukan dan bentuk pembinaan.
2. Pendaftaran calon peserta pos paud. Tujuannya untuk mempermudah pengelompokan anak dan penertiban administrasi.
3. Pendaftaran program ke Dinas Pendidikan Kecamatan.
4. Persiapan pembelajaran. Hal yang perlu dilakukan adalah:
-menyiapkan administrasi kelompok.
-menyusun rencana kegiatan.bertujuan memberikan arah dalam menentukan kemampuan anak yang akan dikembangkan, topik bermain yang akan dilakukan, menentukan alat dan bahan main yang perlu disiapkan, waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan.
Untuk anak usia 0-2 sepenuhnya jenis main sensorimotor, anak usia 2-3 tahun dan 3-4 tahunmain sensorimotor dan mainperan, anak usia 4-6 tahun main pembangunan.
-kalender akademik. Sebaiknya di mulai pada bulan Juli dan diakhiri bulan Juni. Tujuannya agar anak yang akan melanjutkan ke TK atau SD dapat langsung menyambung karena tidak ada perbedaan kalender akademik.
-penyusunan jadwal kegiatan. Hal yang perlu di perhatikan menyangkut: jumlah frekuensi pertemuan dalam satu minggu, lama waktu belajar dalam setiap pertemuan, dan hari serta jam pemberian layanan.
-menyiapkan APE. Kriteria yang perlu diperhatikan adalah APE aman bagi anak, menarik dan dapat dimainkan oleh anak dengan berbagai cara, sertamudah dan murah dalam pembuatannya.
DAFTAR PUSTAKA:
Luluk Asmawati, dkk. (2008) Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini, Penerbit Universitas Terbuka : Jakarta.
Penulis : Sri Wahyuti (Guru Taman Kanak Kanak dan mahasiswa S1 PG PAUD)
Baca Selengkapnya....!
Selasa, 12 Januari 2010
HIDUP PULUHAN TAHUN, MATI SIA-SIA
Menyaksikan berita di Metro TV beberapa hari yang lalu tentang ular piton terbesar yang ditemukan di suatu daerah di Sulawesi, saya merasa sangat gelo. Kenapa? Karena ular sebesar itu kenapa harus di bunuh? Kenapa tidak dibiarkan hidup untuk mengukir kesaksian sejarah anak-anak kita tentang ular piton terbesar yang ditemukan itu? Kenapa tidak diusahakan untuk ditangkap hidup-hidup? Kita kan sudah punya pawang ular, Panji. Kenapa tidak memanggil dia? Masuk akal nggak sih
Entahlah. Cuma rasanya gelo saja melihat ular itu mati. Rasa-rasanya kita jadi kurang menghargai ragam kehidupan yang kita punyai di negeri ini. Begitu mudahnya kita membantai suatu kehidupan yang sepertinya menakutkan bagi kita. Sepertinya akan mendatangkan bahaya buat diri kita. Sepertinya....padahal belum tentu seperti yang kita pikirkan.
Saya dan anak-anak saya suka menyaksikan film dokumenter macam killer instinc, crocodile hunter dan national geografic. di situ kami melihat bagaimana para ilmuan itu memperlakukan anaconda di daratan amazon dan juga bagaimana Rob Bridel menangkap ular. Kadang si crocodile hunter Steve Irwin menangkap ular. Terakhir saya cukup gembira bersama anak-anak melihat Panji menaklukan ular.
Pernahkah kita terpikir bahwa untuk mencapai ukuran sebesar itu (panjang mencapai 8 meter dengan besar tubuh seusia anak 3 tahun), membutuhkan waktu berpuluh tahun bagi sang ular. Dan itu pasti butuh perjuangan tersendiri bagi sang ular karena sampai sebesar itu baru tertangkap manusia ketika sang ular hendak berburu makanan terakhirnya? Sayang sekali memang.
Saya bukan pengagum ular dan juga bukan penggemar ular. Malahan saya jijik lihat ular dan nggak mau dekat-dekat dengan ular. Tapi saya akan merasa cukup senang bisa melihat ular sebesar itu bersama anak-anak saya, walau cuma di kerangkeng kandang kebun binatang.
Baca Selengkapnya....!
Entahlah. Cuma rasanya gelo saja melihat ular itu mati. Rasa-rasanya kita jadi kurang menghargai ragam kehidupan yang kita punyai di negeri ini. Begitu mudahnya kita membantai suatu kehidupan yang sepertinya menakutkan bagi kita. Sepertinya akan mendatangkan bahaya buat diri kita. Sepertinya....padahal belum tentu seperti yang kita pikirkan.
Saya dan anak-anak saya suka menyaksikan film dokumenter macam killer instinc, crocodile hunter dan national geografic. di situ kami melihat bagaimana para ilmuan itu memperlakukan anaconda di daratan amazon dan juga bagaimana Rob Bridel menangkap ular. Kadang si crocodile hunter Steve Irwin menangkap ular. Terakhir saya cukup gembira bersama anak-anak melihat Panji menaklukan ular.
Pernahkah kita terpikir bahwa untuk mencapai ukuran sebesar itu (panjang mencapai 8 meter dengan besar tubuh seusia anak 3 tahun), membutuhkan waktu berpuluh tahun bagi sang ular. Dan itu pasti butuh perjuangan tersendiri bagi sang ular karena sampai sebesar itu baru tertangkap manusia ketika sang ular hendak berburu makanan terakhirnya? Sayang sekali memang.
Saya bukan pengagum ular dan juga bukan penggemar ular. Malahan saya jijik lihat ular dan nggak mau dekat-dekat dengan ular. Tapi saya akan merasa cukup senang bisa melihat ular sebesar itu bersama anak-anak saya, walau cuma di kerangkeng kandang kebun binatang.
Baca Selengkapnya....!
Langganan:
Postingan (Atom)