Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan

Jumat, 15 November 2013

[RESENSI BUKU] PENANGSANG TARIAN REMBULAN LUKA


Judul Buku : Penangsang, Tarian Rembulan Luka

Penulis : Nassirun Purwokartun

Penerbit : MetaMind Tiga Serangkai

Jumlah Halaman : xvi, 648 halaman 14 X 21 cm

ISBN : 978-602-9251-18-0

Harga : Rp. 86.000

“Penget!

Layang ingsun Kanjeng Sultan Pajang

Tumeka marang Harya Penangsang

Yen sira nyata wong lanang sarta kendel

Payo prang ijen, aja nggawa bala

Nyabranga marang sakulon bengawan iki

Sun enteni ing kana!

(poenika Serat Babad Tanah Djawi

Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647,

Kaetjab wonten ing Tanah Nederlan ing taoen 1941)

Dalam kesumat yang mengakar demi menegakkan kehormatan para gurunya, Hadiwijaya, Si Karebet Pengging, menebarkan genderang pergolakan tanpa jarak pada seterunya, Penangsang. Baginya, Sang Adipati Jipang itu menjadi penghalang nyata yang paling mengancam langkahnya mengendalikan Demak, jantung penyebaran Islam di Tanah Jawa. Upaya Hadiwijaya memecah belah trah Kesultanan Demak makin benderang ketika didapati kenyataan bahwa peran para Waliyyul Amri tak lagi mendapatkan sambutan peduli dari banyak orang.


Dibalik upaya Hadiwijaya melekatkan bentuk kesultanan menjadi kerajaan pada Demak, para kerabat Pengging, penasihat Hadiwijaya, merakit siasat yang lebih ulung, merebut Demak dari barisan trah Raden Patah dengan “meminjam” tangan Hadiwijaya. Tak peduli, muslimat itu melewati jalinan masa yang panjang hingga saatnya Hadiwijaya terkubur dalam waktu.

Gelapnya perjalanan Penangsang dalam menghadapi seteru hidupnya tak lantas melahirkan selongsong gelap dalam jiwa makrifatullahnya. Dalam ancaman surat penantang dan perlawanan dari kubu Hadiwijaya, kedekatannya pada Illahi Rabbi mengantarkanannya untuk menempa alam pikirannya dengan lebih bestari. Meladeni tanding senjata dengan Hadiwijaya atau menjatuhkan pilihan lain yang lebih sakral meskipun itu mengalirkan cekung-cekung luka dan mengabarkan duka layaknya tarian rembualan luka.


Sejarah adalah cermin. Membersihkan sejarah dari manipulasi artinya membersihkan cermin agar selalu berguna untuk berkaca. Dan penulisan novel Penangsang adalah salah satunya. (Hidayat Nur Wahid, Mantan ketua MPR RI)

Tulisan yang mengalir dan enak dibaca tentang perang suksesi Kesultanan Demak pasca mangkatnya Sultan Trenggono. Dalam buku ini kita disuguhi narasi sejarah dan imajinasi yang sangat memikat. (Agus Sunyoto, Penulis Walisongo,Rekonstruksi Sejarah Yang Dsingkirkan)

Sebuah petualangan sejarah yang mengasyikkan, ditulis berdasarkan riset yang cermat dan cerdas. (Joni AriaDinata, Redaktur Majalah Sastra Horison)

Sejarah selalu membuka ruang kosong imajinasi untuk menyampaikan kebenaran dan atau menyangkalnya. Haryo Penangsang paraga yang luar biasa, ksatria yang memesona dan karenanya dirindukan, menemukan gema yang menggetarkan dan menyempurnakan keberadaannya. (Arwendo Atmowiloto, Penulis Senopati Pamungkas.

Membaca novel ini membuat saya sangat terkaget-kaget dengan fakta realita yang disajikan. Apa yang tergambar tentang citra diri Penangsang langsung memporak-porandakan mindset saya tentang sosok Adipati Jipang, pewaris syah tahta Kasultanan Demak.
Dari buku tentang Joko Tingkir yang pernah saya baca saat SD dulu sosok Aryo Penangsang digambarkan sebagai seorang yang ambisius, pemarah, gila jabatan, dan mengahalalkan segala cara demi ambisinya menguasai dinasti Kesultanan Demak. Sebaliknya dengan si Hadiwijaya atau Joko Tingkir digambarkan sebagai seorang yang luar biasa kepahlawannya, budi pekertinya, dan semua itu bertolak belakang dengan gambaran masing-masing tokoh yang saya baca di novel Penangsang Tarian Rembulan Luka tulisan dari Nassirun Purwokartun ini.

Terkejut, kaget, dan sempat menjadi bingung juga dengan kenyataan yang saya baca. Sedangkan dalam novelnya Pak Nassirun ini watak Penangsang memang keras hati, namun ia sama sekali tidak memiliki ambisi untuk menduduki tahta Kesultanan Demak kendati secara garis keturunan dia sangat berhak. Justru si Hadiwijaya Joko Tingkir inilah yang licik dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisinya menguasai Kesultanan Demak. Termasuk juga perilaku bejatnya yang suka mengumbar hawa nafsu. Betul-betul membuat bingung.

Akhirnya saya pun berkesempatan berdialog dengan Pak Nassirun mengenai novel ini. Dan beliau menulis novel ini tidak sekedar nulis saja. Tetapi melalui riset yang panjang. Katanya beliau memerlukan waktu 10 tahun untuk memantapkan hati menuliskan kebenaran ini. Dan mengenai perilaku si Hadiwijaya Karebet Pengging ini mengenai peristiwa Dadung Awuk dan pertempuran dengan buaya (rakit sinangga bajul) pada buku Joko Tingkir yang saya baca waktu kecil ternyata penuh dengan makna kiasan.

Wah, saya jadi rada emosi menuliskan resensi ini. Tak apa, hanya sedikit rasa kecewa saya pada si Joko Tingkir yang sempat menjadi idola masa kecil saya. Saya benar-benar merasa tertipu dengan pemahaman masa kanak-kanak saya. Sebagai mana seorang kanak-kanak kita tentu akan mengidolakan sang pahlawan. Dan ternyata sang pahlawan itu adalah seorang pecundang.

Selain itu dalam novel ini yang digambarkan tewas dalam pertempuran berdarah di tepi Bengawan Sore kala purnama itu bukanlah Aryo Penangsang Sang Adipati Jipang. Karena jauh sebelum surat tantangan itu sampai kepada Adipati Jipang, Sang Aryo Penangsang telah hijrah mengikuti saran gurunya, yakni Sunan Kudus.

Sebagai orang Demak saya memang tertarik untuk mengetahui sejarah daerah saya. Dan sedikit banyak saya tahu tentang silsilah dan suksesi yang terjadi. Kecuali tentang kebalik-baliknya penggambaran sosok Joko Tingkir dan Aryo Penangsang selama ini.
Namun yang pasti novel ini sangatlah luar biasa. Membacanya kita serasa terhanyut dalam berbagai peristiwa yang terjadi para era 1500 yang lampau. Sayangnya yang saya baca ini langsung seri ke 3. Saya jadi penasaran dengan seri 1 dan seri 2-nya. Mudah-mudahan saya beroleh kesempatan untuk membacanya juga. Karena dengar-dengar novel 1 sudah sold out.

4 komentar:

  1. jadi penasaran nih. sejujurnya saya kurang suka baca kisah2 sejarah, tapi kalau dinovelkan sepertinya menggiurkan.
    nice review, mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Damae, novelnya syik dibaca. Saya juga penasaran sama seri 1 dan 2-nya. Gemes, karena sejarah kebanyakan ditulis atas permintaan penguasa. Yang gelap jadi terang, yang terang jadi gelap, byuh byuh. By the way, terima kasih telah mampir ya mak, :)

      Hapus
  2. Lagi nyari seri pertamanya,smp skrg belum sempat nemuin bukunya.lebih ingin tahu awalnya spt apa.alhamdulilah seri kedua n ketiga dah punya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya yang seri 1 sudah sold out. Belum cetak ulang lagi. Saya juga penasaran ingin tahu secara keseluruhan. Terima kasih telah mampir, :)

      Hapus