Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat (I.G.A.K Wardhani, 2008)
Prinsip PTK:
1. Tidak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar.
2. Pengumpulan data tidak menuntut waktu.
3. Metodologi yang digunakan taat azas PTK.
4. Masalahnya muncul dari pengajar dan merupakan maslah yang paling merisaukan.
5. Konsisten dan peduli terhadap prosedur dengan tugas.
6. Tidak mengenal kelompok eksperimen dan kontrol.
Hal yang perlu dipahami dalam PTK.
a. PTK untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
b. PTK adalah partisipatori.
c. PTK melalui self-Reflectif Spiral.
d. PTK adalah kolaboratif.
e. PTK proses belajar sistematik.
f. PTK memerlukan bangunan teori tentang praktek pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Fokus PTK adalah berfokus pada PBM di kelasnya (Hal-hal yang terkait dengan PBM di kelasnya dalam upaya peningkatan proses dan hasil belajar)
Karakteristik PTK:
-Permasalahan praktis di kelas.
-Ada kolaborasi sesama peneliti.
-Ada upaya perbaikan/peningkatan pembelajaran.
-Efektivitas metode/teknik/proses yang digunakan.
-Tidak untuk digeneralisasikan.
-Tidak memerlukan populasi dan sampel.
Langkah-langkah PTK:
1. Identifikasi dan analisis masalah. (Apa, mengapa, dan bagaimana?)
2. Merumuskan masalah. (Hubungan variabelnya jelas dan dapat diuji).
3. Merumuskan tindakan. (Alternatif pemecahan masalah, dan cara pengujiannya)
4. Melaksanakan tindakan. (Rencana pembelajaran termasuk menyiapkan instrumen penelitian, lakukan, amati hasilnya)
5. Melakukan refleksi yakni menganalisis hasil pengamatan, menarik kesimpulan untuk tidakan berikutnya.
Kawasan yang dapat dijadikan PTK meliputi:
1. Metode mengajar.
2. Strategi pembelajaran.
3. Evaluasi hasil atau proses.
4. Pemahaman sikap.
5. Perancangan pembelajaran.
6. Pengelolaan pembelajaran.
7. Motivasi, dll
8. Administrasi persekolahan, dll
Pada dasarnya PTK dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran sehingga hasil belajar akan meningkat.
Tahap-tahap dalam pelaksanaan PTK merupakan sistem berdaur (Cyclica) yang dilakukan secara berulang-ulang (siklus) sampai masalah teratasi.
Berapa siklus diperlukan untuk sebuah PTK? Hal tersebut tergantung pada kepuasan peneliti. Namun disarankan tidak kurang dari dua siklus. Umumnya PTK dilaksanakan dalam 3 sampai 5 siklus.
Selamat melakukan PTK dan menjadi guru yang lebih profesional.
Source : Hand out Work Shop Penelitian Tindakan Kelas.
Baca Selengkapnya....!
Jumat, 15 Oktober 2010
CALISTUNG PADA ANAK USIA DINI
Tahun ajaran baru telah berlalu, namun kontroversi pemberian pelajaran calistung bagi anak usia dini seakan menjadi topik yang tak pernah basi. Selalu dan selalu calistung menjadi kontroversi. Antara peraturan yang berlaku dan kenyataan yang terjadi di lapangan rupanya tidak seiring sejalan. Peraturan mengatakan bahwa tidak dibenarkan memberikan calistung pada anak usia dini. Namun banyak sekolah-sekolah Taman Kanak-Kanak memberikan calistung pada siswanya. Baik itu dilakukan dengan terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Mengapa demikian?
Masalahnya untuk memasuki lembaga pendidikan Sekolah Dasar, terutama SD favorit menerapkan adanya tes yakni lulus calistung. Tentu saja orang tua banyak yang dibuat gusar dengan masalah ini. Sebenarnya untuk memasuki SD anak-anak hanya didasarkan pada usia. Bila usia mereka telah mencukupi maka tanpa syarat apapun mereka bisa memasuki pendidikan dasar tersebut. Namun perkembangan yang terjadi untuk menjaring mutu input siswa banyak sekolah-sekolah favorit menerapkan adanya tes calistung.
Hal itu tentu bertentangan dengan aturan yang diberlakukan oleh Dinas Pendidikan. Yang mana tertuang dalam surat edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indonesia. Dalam surat edaran tersebut menyebutkan bahwa kriteria calon peserta didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 tahun, pengecualian terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten seperti konselor sekolah/madrasah maupun psikolog. Apapun bentuknya tes tidak diperkenankan.
Mengajarkan calistung pada usia dini memang tidak diperkenankan dalam pendidikan prasekolah atau Taman Kanak-Kanak. Piaget seorang ahli perkembangan anak usia dini menilai anak-anak di bawah usia tujuh tahun berada dalam tahapan perkembangan praoperasional. Dimana anak-anak masih menggunakan simbol dan pikiran internal dalam memecahkan masalah. Pikiran mereka masih terkait dengan obyek konkret yang dihadapi saat ini dan sekarang(Lara Fridani, dkk: 2009). Sementara pelajaran calistung yang memerlukan cara berpikir terstruktur hanya cocok diberikan pada fase perkembangan operasional konkret. Yakni usia 8-12 tahun.
Tetapi pada kenyataannya calistung sudah diberikan sejak usia TK. Dengan asumsi bahwa anak-anak yang tidak memperoleh pembelajaran calistung akan ketinggalan saat duduk di SD nanti. Disamping itu juga adanya tuntutan dari para orang tua yang menghendaki anak-anaknya sudah mahir calistung begitu keluar dari TK. Sehingga mereka dapat memasukkan anak-anak mereka ke SD favorit yang kebanyakan menerapkan seleksi lulus calistung. Untuk itu mau tidak mau pembelajaran di TK juga sudah memperkenalkan calistung. Karena TK-TK yang tidak menyertakan calistung dalam pembelajaran sehari-hari kurang diminati. Disamping itu jika dilihat kurikulum SD sekarang tidak ada kurikulum belajar membaca untuk anak kelas 1 SD. Mereka langsung disuguhi pelajaran berupa teks yang cukup banyak yang otomatis membutuhkan kemampuan membaca untuk bisa mengikutinya.
Sebenarnya bukan masalah boleh atau tidak boleh calistung diberikan pada anak usia TK. Yang perlu ditekankan di sini adalah cara penyampaiannya harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini memegang prinsip belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Calistung dapat saja diberikan pada anak usia dini asalkan dilakukan sambil bermain dan menyenangkan. Jadi anak-anak tidak merasa terbebani.
Untuk mulai belajar calistung, tidak harus diperlukan waktu khusus. Ada kalanya pelajaran calistung dapat membaur dengan kegiatan lainnya yang sudah dirancang dalam kurikulum TK tanpa membuat anak-anak merasa tertekan.
Untuk mulai mengenalkan membaca pendidik tidak harus menyuruh anak menghafal abjad satu demi satu. Demikian juga untuk mulai mengenalkan angka-angka pada anak tidak harus menghapal simbol-simbol angka yang ada. Tetapi hal tersebut dapat dilakukan sambil bermain. Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Dan anak-anak akan dapat belajar dengan lebih bermakna jika mereka merasa senang. Sudah banyak permainan dan metode yang dirancang untuk pembelajaran calistung. Tinggal kreativitas pendidiklah yang perlu dibenahi agar pembelajaran calistung dapat berlangsung secara alami dan menyenangkan. Baca Selengkapnya....!
Masalahnya untuk memasuki lembaga pendidikan Sekolah Dasar, terutama SD favorit menerapkan adanya tes yakni lulus calistung. Tentu saja orang tua banyak yang dibuat gusar dengan masalah ini. Sebenarnya untuk memasuki SD anak-anak hanya didasarkan pada usia. Bila usia mereka telah mencukupi maka tanpa syarat apapun mereka bisa memasuki pendidikan dasar tersebut. Namun perkembangan yang terjadi untuk menjaring mutu input siswa banyak sekolah-sekolah favorit menerapkan adanya tes calistung.
Hal itu tentu bertentangan dengan aturan yang diberlakukan oleh Dinas Pendidikan. Yang mana tertuang dalam surat edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indonesia. Dalam surat edaran tersebut menyebutkan bahwa kriteria calon peserta didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 tahun, pengecualian terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten seperti konselor sekolah/madrasah maupun psikolog. Apapun bentuknya tes tidak diperkenankan.
Mengajarkan calistung pada usia dini memang tidak diperkenankan dalam pendidikan prasekolah atau Taman Kanak-Kanak. Piaget seorang ahli perkembangan anak usia dini menilai anak-anak di bawah usia tujuh tahun berada dalam tahapan perkembangan praoperasional. Dimana anak-anak masih menggunakan simbol dan pikiran internal dalam memecahkan masalah. Pikiran mereka masih terkait dengan obyek konkret yang dihadapi saat ini dan sekarang(Lara Fridani, dkk: 2009). Sementara pelajaran calistung yang memerlukan cara berpikir terstruktur hanya cocok diberikan pada fase perkembangan operasional konkret. Yakni usia 8-12 tahun.
Tetapi pada kenyataannya calistung sudah diberikan sejak usia TK. Dengan asumsi bahwa anak-anak yang tidak memperoleh pembelajaran calistung akan ketinggalan saat duduk di SD nanti. Disamping itu juga adanya tuntutan dari para orang tua yang menghendaki anak-anaknya sudah mahir calistung begitu keluar dari TK. Sehingga mereka dapat memasukkan anak-anak mereka ke SD favorit yang kebanyakan menerapkan seleksi lulus calistung. Untuk itu mau tidak mau pembelajaran di TK juga sudah memperkenalkan calistung. Karena TK-TK yang tidak menyertakan calistung dalam pembelajaran sehari-hari kurang diminati. Disamping itu jika dilihat kurikulum SD sekarang tidak ada kurikulum belajar membaca untuk anak kelas 1 SD. Mereka langsung disuguhi pelajaran berupa teks yang cukup banyak yang otomatis membutuhkan kemampuan membaca untuk bisa mengikutinya.
Sebenarnya bukan masalah boleh atau tidak boleh calistung diberikan pada anak usia TK. Yang perlu ditekankan di sini adalah cara penyampaiannya harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini memegang prinsip belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Calistung dapat saja diberikan pada anak usia dini asalkan dilakukan sambil bermain dan menyenangkan. Jadi anak-anak tidak merasa terbebani.
Untuk mulai belajar calistung, tidak harus diperlukan waktu khusus. Ada kalanya pelajaran calistung dapat membaur dengan kegiatan lainnya yang sudah dirancang dalam kurikulum TK tanpa membuat anak-anak merasa tertekan.
Untuk mulai mengenalkan membaca pendidik tidak harus menyuruh anak menghafal abjad satu demi satu. Demikian juga untuk mulai mengenalkan angka-angka pada anak tidak harus menghapal simbol-simbol angka yang ada. Tetapi hal tersebut dapat dilakukan sambil bermain. Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Dan anak-anak akan dapat belajar dengan lebih bermakna jika mereka merasa senang. Sudah banyak permainan dan metode yang dirancang untuk pembelajaran calistung. Tinggal kreativitas pendidiklah yang perlu dibenahi agar pembelajaran calistung dapat berlangsung secara alami dan menyenangkan. Baca Selengkapnya....!
MENGAPA GURU ENGGAN MELAKUKAN PTK?
Suatu hari saat pembinaan guru sekecamatan, beberapa teman menemui saya. Mereka meminta tolong, ingin meminjam laporan PTK saya untuk dicontoh dalam rangka memenuhi tugas kuliah. Dan teman-teman saya itu mengatakan kalau mereka awam soal PTK, gak ngerti sama sekali, gak begitu paham. Wah, saya jadi GR, sedikit besar kepala nih. Tapi apa ya saya pantas disanjung seperti itu? Harus instrospeksi diri nih. Lha wong saya juga masih belajar bagaimana membuat PTK yang bagus kok.
Saya jadi ingat dulu gimana kalang kabutnya pingin ngerti soal PTK. Soalnya waktu kuliah tutornya juga gak begitu ngerti soal PTK. Kala itu PTK masih jadi barang langka. Karena penasaran pingin tahu tentang PTK, maka setiap ada penyelenggaraan seminar PTK pasti saya ikuti. Walau itu berbiaya mahal untuk ukuran saya. Waktu itu saya sangat terinspirasi dengan cerita tutor saya yang kebetulan juara lomba PTK nasional (Juara LKG dalam pembelajaran dan LIPPI). Sayangnya nih tutor saya yang juara LKG itu kok malah tidak mengampu kuliah PTK. Sayang sekali. Mungkin penyelenggara perkuliahannya kurang tahu.
So dengan berbekal ilmu PTK yang tidak seberapa aku coba-coba bikin PTK. Simple sekali PTK yang aku lakukan waktu itu. Dan kebetulan saat lagi googling nemu link ada lomba PTK. Maka dengan berbekal nekat PTK yang aku buat aku tulis laporannya untuk diikutsertakan dalam perlombaan. Gak menang sih, tapi alhamdulillah bisa nengok LPMP Jateng untuk kesempatan presentasi. Dan setelah itu tiap tahun ketagihan pingin bikin lagi dan lagi.
Melakukan PTK sebenarnya hal yang mudah karena itu terkait dengan tugas kita sehari-hari. Hanya saja mungkin teman-teman malas untuk mendokumentasikan apa yang telah kita lakukan. Padahal bisa saja apa yang kita lakukan setiap hari itu menjadi PTK, kan?
Seperti sering dikatakan Pengawas Sekolah tempat saya pedoman guru dalam melaksanakan tugas itu cuma tiga hal, yakni mencatat apa yang kita rencanakan, melaksanakan apa yang telah kita rencanakan, dan mencatat apa yang telah kita laksanakan. intinya kan seperti itu. tapi seringkali banyak guru yang malas membuat perencanaan. mengajar sekedar mengajar. wah, banyak lho yang masih seperti itu.
Ada banyak hal yang membuat para guru enggan melakukan PTK. Mungkin karena kurang tahu tentang PTK, malas mencari tahu, dan tidak ketinggalan pula faktor biaya jadi kendala. Terutama bagi para guru wiyata bhakti seperti saya.
Bagaimana tidak? Dalam melakukan PTK sebelumnya kita harus menyiapkan berbagai macam instrumen untuk mendukung penelitian kita, belum lagi menyiapkan alat peraga pembelajaran, dan terlebih lagi menulis laporan PTK yang sudah tentu menghabiskan biaya. Apalagi jika tidak ada perangkat komputer pribadi, hal tersebut semakin mempersulit keinginan para guru untuk mewujudkan niat melakukan PTK. Coba saja hitung berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk rental komputer, print out hasil laporan ataupun membeli kertas dan tinta. Belum lagi kalau ada kesalahan dalam pengetikan yang menuntut semua harus diedit dari awal.
Ini saya kutip dari pengakuan teman saya yang saya ajak membuat PTK, tetapi menolak dengan alasan tidak ada komputer dan kurang begitu menguasai teknologi komputer. Hari gini belum dapat menggunakan komputer, apa kata dunia? Apalagi mereka adalah guru. Harusnya lebih pintar dari anak didiknya, ya kan? Tapi kenyataan ini memang tidak bisa kita pungkiri. Masih sangat banyak guru-guru kita yang pegang komputer saja belum pernah, apalagi mengoperasikannya? Itu adalah tantangan bagi para guru semua untuk bersikap lebih profesional.
Namun apapun rintangannya asalkan ada niat bukankah banyak jalan menuju terwujudnya PTK? Sekali lagi niat memang perlu di kuatkan. Selamat melakukan PTK. Baca Selengkapnya....!
Saya jadi ingat dulu gimana kalang kabutnya pingin ngerti soal PTK. Soalnya waktu kuliah tutornya juga gak begitu ngerti soal PTK. Kala itu PTK masih jadi barang langka. Karena penasaran pingin tahu tentang PTK, maka setiap ada penyelenggaraan seminar PTK pasti saya ikuti. Walau itu berbiaya mahal untuk ukuran saya. Waktu itu saya sangat terinspirasi dengan cerita tutor saya yang kebetulan juara lomba PTK nasional (Juara LKG dalam pembelajaran dan LIPPI). Sayangnya nih tutor saya yang juara LKG itu kok malah tidak mengampu kuliah PTK. Sayang sekali. Mungkin penyelenggara perkuliahannya kurang tahu.
So dengan berbekal ilmu PTK yang tidak seberapa aku coba-coba bikin PTK. Simple sekali PTK yang aku lakukan waktu itu. Dan kebetulan saat lagi googling nemu link ada lomba PTK. Maka dengan berbekal nekat PTK yang aku buat aku tulis laporannya untuk diikutsertakan dalam perlombaan. Gak menang sih, tapi alhamdulillah bisa nengok LPMP Jateng untuk kesempatan presentasi. Dan setelah itu tiap tahun ketagihan pingin bikin lagi dan lagi.
Melakukan PTK sebenarnya hal yang mudah karena itu terkait dengan tugas kita sehari-hari. Hanya saja mungkin teman-teman malas untuk mendokumentasikan apa yang telah kita lakukan. Padahal bisa saja apa yang kita lakukan setiap hari itu menjadi PTK, kan?
Seperti sering dikatakan Pengawas Sekolah tempat saya pedoman guru dalam melaksanakan tugas itu cuma tiga hal, yakni mencatat apa yang kita rencanakan, melaksanakan apa yang telah kita rencanakan, dan mencatat apa yang telah kita laksanakan. intinya kan seperti itu. tapi seringkali banyak guru yang malas membuat perencanaan. mengajar sekedar mengajar. wah, banyak lho yang masih seperti itu.
Ada banyak hal yang membuat para guru enggan melakukan PTK. Mungkin karena kurang tahu tentang PTK, malas mencari tahu, dan tidak ketinggalan pula faktor biaya jadi kendala. Terutama bagi para guru wiyata bhakti seperti saya.
Bagaimana tidak? Dalam melakukan PTK sebelumnya kita harus menyiapkan berbagai macam instrumen untuk mendukung penelitian kita, belum lagi menyiapkan alat peraga pembelajaran, dan terlebih lagi menulis laporan PTK yang sudah tentu menghabiskan biaya. Apalagi jika tidak ada perangkat komputer pribadi, hal tersebut semakin mempersulit keinginan para guru untuk mewujudkan niat melakukan PTK. Coba saja hitung berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk rental komputer, print out hasil laporan ataupun membeli kertas dan tinta. Belum lagi kalau ada kesalahan dalam pengetikan yang menuntut semua harus diedit dari awal.
Ini saya kutip dari pengakuan teman saya yang saya ajak membuat PTK, tetapi menolak dengan alasan tidak ada komputer dan kurang begitu menguasai teknologi komputer. Hari gini belum dapat menggunakan komputer, apa kata dunia? Apalagi mereka adalah guru. Harusnya lebih pintar dari anak didiknya, ya kan? Tapi kenyataan ini memang tidak bisa kita pungkiri. Masih sangat banyak guru-guru kita yang pegang komputer saja belum pernah, apalagi mengoperasikannya? Itu adalah tantangan bagi para guru semua untuk bersikap lebih profesional.
Namun apapun rintangannya asalkan ada niat bukankah banyak jalan menuju terwujudnya PTK? Sekali lagi niat memang perlu di kuatkan. Selamat melakukan PTK. Baca Selengkapnya....!
Senin, 11 Oktober 2010
PERMAINAN FISIK MOTORIK DI TAMAN KANAK-KANAK 2
Ini adalah sambungan dari artikel Permainan Fisik Motorik di Taman Kanak-Kanak. baru kelar, jadi mesti dibuat bersambung. semoga bermanfaat bagi rekan semua. selamat mempraktekkan dan membuat variasi yang lain.
1. Bola Beranting di Atas Kepala
Tujuan: meningkatkan koordinasi tangan.
Cara bermain: seluruh anak dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah yang sama banyak, lalu diberiskan berbanjar menjadi beberapa baris sesuai dengan jumlah bola yang tersedia. Barisan menghadap satu arah. Jarak antar baris kira-kira satu rentangan tangan. Permainan dimulai dari anak yang terdepan memegang bola. Setelah peluit dibunyikan maka bola dipindahkan kebelakang melalui atas kepala, dan teman dibelakang menerima bola tersebut kemudian mengangsurkan bola keteman dibelakangnya lagi dengan cara yang sama. Pemenangnya adalah bola yang lebih dulu sampai pada baris anak paling belakang.
2. Bermain Menebak Gambar
Siapkan gambar-gambar yang berlainan. Gambar bisa disesuaikan dengan tema. Pilih pemain dua anak. Anak lainnya duduk melingkar. Tempeli masing-masing pemain dengan gambar yang berbeda. Tentu saja tanpa sepengetahuan lawan main anak. Masing-masing pemain kemudian menebak gambar di punggung lawan mainnya. Namun masing-masing pemain harus bergerak agar gambar pada punggung tidak mudah tertebak. Biar lebih seru iringi dengan musik. Siapa yang menebak duluan dialah pemenangnya. Permainan bisa dilanjutkan anak berikutnya.
3. Jalan Bervariasi.
Siapkan simbol-simbol pada lantai. Bisa berupa gambar dengan kapur atau bahan lain yang tidak membahayakan anak. Misalnya simbol lingkaran untuk jalan berjinjit, simbol segitiga untuk jalan berjongkok, simbol segiempat untuk jalan dengan satu kaki dan simbol jajaran genjang untuk anak melompat. Tiap anak bergantian melewati simbol dilantai dengan melakukan variasi jalan sesuai dengan petunjuk simbol.
4. Berjalan di atas rel
Siapkan lintasan dari tali plastik atau tali rafia atau digambar dengan kapur tulis dengan bentuk persegiempat pada lantai. Siapkan pula beban untuk dibawa anak di kepala. Bisa berupa kantong biji atau buku. Sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan anak berjalan mulai mengikuti lintasan. Mula-mula anak berjalan maju kedepan kemudian berjalan ke menyamping kamudian berjalan mundur dan berjalan menyamping lagi mengikuti garis lintasan.
Disamping berbagai macam permainan di atas masih banyak lagi permainan fisik motorik yang lain. Diharapkan para guru kreatif untuk menciptakan bermacam permainan untuk anak, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan bagi anak. Baca Selengkapnya....!
1. Bola Beranting di Atas Kepala
Tujuan: meningkatkan koordinasi tangan.
Cara bermain: seluruh anak dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah yang sama banyak, lalu diberiskan berbanjar menjadi beberapa baris sesuai dengan jumlah bola yang tersedia. Barisan menghadap satu arah. Jarak antar baris kira-kira satu rentangan tangan. Permainan dimulai dari anak yang terdepan memegang bola. Setelah peluit dibunyikan maka bola dipindahkan kebelakang melalui atas kepala, dan teman dibelakang menerima bola tersebut kemudian mengangsurkan bola keteman dibelakangnya lagi dengan cara yang sama. Pemenangnya adalah bola yang lebih dulu sampai pada baris anak paling belakang.
2. Bermain Menebak Gambar
Siapkan gambar-gambar yang berlainan. Gambar bisa disesuaikan dengan tema. Pilih pemain dua anak. Anak lainnya duduk melingkar. Tempeli masing-masing pemain dengan gambar yang berbeda. Tentu saja tanpa sepengetahuan lawan main anak. Masing-masing pemain kemudian menebak gambar di punggung lawan mainnya. Namun masing-masing pemain harus bergerak agar gambar pada punggung tidak mudah tertebak. Biar lebih seru iringi dengan musik. Siapa yang menebak duluan dialah pemenangnya. Permainan bisa dilanjutkan anak berikutnya.
3. Jalan Bervariasi.
Siapkan simbol-simbol pada lantai. Bisa berupa gambar dengan kapur atau bahan lain yang tidak membahayakan anak. Misalnya simbol lingkaran untuk jalan berjinjit, simbol segitiga untuk jalan berjongkok, simbol segiempat untuk jalan dengan satu kaki dan simbol jajaran genjang untuk anak melompat. Tiap anak bergantian melewati simbol dilantai dengan melakukan variasi jalan sesuai dengan petunjuk simbol.
4. Berjalan di atas rel
Siapkan lintasan dari tali plastik atau tali rafia atau digambar dengan kapur tulis dengan bentuk persegiempat pada lantai. Siapkan pula beban untuk dibawa anak di kepala. Bisa berupa kantong biji atau buku. Sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan anak berjalan mulai mengikuti lintasan. Mula-mula anak berjalan maju kedepan kemudian berjalan ke menyamping kamudian berjalan mundur dan berjalan menyamping lagi mengikuti garis lintasan.
Disamping berbagai macam permainan di atas masih banyak lagi permainan fisik motorik yang lain. Diharapkan para guru kreatif untuk menciptakan bermacam permainan untuk anak, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan menyenangkan bagi anak. Baca Selengkapnya....!
PERMAINAN FISIK MOTORIK DI TAMAN KANAK-KANAK
Masa lima tahun pertama pertumbuhan dan perkembangan anak sering disebut sebagai masa keemasan karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala kemampuan anak sedang berkembang dengan pesat. Salah satu kemampuan yang sedang pesat berkembang adalah kemampuan motorik. Proses tumbuh kembang kemampuan motorik anak berhubungan dengan kemampuan gerak anak yang dapat terlihat jelas dengan berbagai gerakan dan ragam permainan yang dapat dilakukan anak.
Bermain merupakan dunia anak. Oleh karena itu dalam penyampaian pengembangan di TK perlu dilakukan melalui bermain. Prinsipnya bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.
Ragam permainan fisik di Taman Kanak-Kanak.
1. Menjala Ikan
Bertujuan meningkatkan kemampuan ketrampilan gerak anak, juga menyalurkan hasrat bergerak dan menciptakan suasana gembira pada anak-anak. Pelaksanaannya: 2-3 anak di suruh bergandengan tangan dan berperan sebagai jala ikan. Sedangkan anak-anak lainnya berperan sebagai ikan. Mereka yang berperan sebagai ikan bebas berlarian di lapangan ataupun dalam ruangan. Bila ada tanda (peluit atau hitungan atau tepukan tangan) dari guru anak-anak yang berperan sebagai jala harus berusaha menangkap ikan (anak-anak yang berlarian dalam ruangan/lapangan) sebanyak-banyaknya dengan cara mengurungnya dalam lingkaran tangan. Usahakan jala jangan tercerai berai. Sedangkan anak yang berperan sebagai ikan berusaha lari menghindar jangan sampai tertangkap. Anak-anak yang telah tertangkap ikut bergabung sebagai jala, sehingga semakin lama jala semakin lebar. Sedangkan ikan yang harus ditangkap semakin sedikit. Permainan berakhir jika sudah tidak ada ikan yang perlu di tangkap lagi.
Permainan ini dapat dimodifikasi dengan memasang beberapa kelompok anak (2-3 pasang) sebagai jala. Lalu kelompok jala ini saling bersaing untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya.
2. Mencari pasangan
Bertujuan meningkatkan kemampuan anak dalam berhitung.
Pelaksanaannya: ajaklah anak-anak membentuk lingkaran. Setelah dilakukan pemanasan, ajaklah anak berkeliling dalam lingkaran dengan menyanyikan lagu Pak Pung Pak Mustape sambil bertepuk tangan. (Syair: Pak Pung Pak Mustape, tapene enak dewe, ayo konco rame-rame golek bolo dewe-dewe). Pada akhir lagu guru memberi tanda bisa dengan tangan atau kartu angka. Misalnya angka 3. Maka tiap-tiap anak harus berusaha mencari teman sebanyak tiga anak. Bagi yang tidak mendapatkan teman, anak bisa di beri hukuman dengan misalnya di suruh menyanyi.
3. Elang dan Anak Ayam
Tujuan: melatih kemampuan anak untuk mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: bagi anak menjadi beberapa kelompok. Paling banyak anggotanya berjumlah sepuluh tiap kelompok. Dalam satu kelompok pilih satu untuk berperan sebagai elang, sedangkan yang lin berperan sebagai ayam. Bariskan anak-anak yang berperan sebagai ayam. Tiap anak berpegangan pada pundak teman didepannya. Anak yang paling depan berperan sebagai induk ayam dan bertugas melindungi anak ayam dari kejaran burung elang dengan cara merentangkan kedua tangan. Burung elang bebas menangkap anak ayam yang paling belakang. Anak ayam yang tertangkap harus keluar dari barisan. Usahakan barisan anak ayam jangan sampai terputus. Permainan berakhir jika sudah tidak ada anak ayam yang tersisa. Setelah itu bisa diganti dengan kelompok berikutnya.
4. Kucing dan Tikus
Tujuan: melatih kemampuan anak mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: ajak anak-anak membentuk lingkaran dengan bergandengan tangan. Pilih dua orang anak yang akan berperan sebagai tikus dan salah satunya sebagai kucing. Tikus ini mulanya berada dalam lingkaran, sedangkan sang kucing berada di luar lingkaran. Pada saat aba-aba di mulai kucing berupaya menangkap tikus dengan cara memasuki lingkaran. Tikus berusaha menghindar. Namun yang berperan sebagai lingkaran hendaknya berusaha menutup jalan agar kucing tidak bisa masuk dalam lingkaran. Sebaliknya membebaskan sang tikus untuk keluar masuk lingkaran. Cara lingkaran menutup jalan kucing adalah dengan berjongkok jika kucing berusaha melewati bawah gandengan tangan, dan berdiri jika kucing berusaha melompati gandengan tangan. Permainan berakhir jika tikus sudah tertangkap.
5. Tepuk bersama
Tujuan: melatih koordinasi tangan dan kekompakan.
Pelaksanaannya: anak-anak membentuk dua barisan yang saling berhadapan. Kemudian ajak mereka bertepuk tangan dan saling bertukar tepuk dengan anak dihadapannya. Cara tepuk, mula-mula anak bertepuk sendiri satu kali kemudian tepukkan tangan kanan ke tangan kanan teman yang ada didepannya, lanjutkan dengan tangan kiri, tangan memegang bahu, bertepuk tangan sendiri, arahkan tangan kanan ke tangan kanan teman didepan, ganti tangan kiri dan seterusnya. Tepuk bisa dibuat lebih bervariasi. Anak-anak senang melakukan tepuk ini.
6. Permainan Hitam-Hijau
Tujuan: melatih kecepatan lari dan bereaksi
Siapkan lapangan segiempat. garis batas bisa dibuat dengan kapur atau tali. Bagi lapangan menjadi dua. Lalu pada masing-masing bagian siapkan garis bebas dekat sisi terluar lapangan.
Pelaksanaan permainan: bagi anak menjadi dua regu. Regu hitam dan regu hijau. Bariskan kedua regu di tengah lapangan. Masing-masing anak berhadapan satu sama lain. Tugas setiap regu adalah memperhatikan/mendengarkan nama baris yang disebutkan guru. Bila guru menyebut, Hiii…jau, berarti Hijau harus segera berlari meninggalkan tempatnya menuju garis bebas. Sedangkan baris hitam berusaha menangkap pasangan dari baris hijau sebelum melewati garis bebas. Dan begitu pula sebaliknya untuk baris hitam. Pemenangnya adalah regu yang anggotanya paling sedikit tertangkap.
7. Permainan Lintang Ngaleh (Bintang Berpindah)
Tujuan: Melatih kecepatan lari dan bereaksi.
Bagi anak dalam kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 2 atau 3 anak. Namun dalam pembagian kelompok harus menyisakan dua anak yang berperan sebagai bintang berpindah dan bintang pengejar. Tiap-tiap kelompok berbaris dua-dua atau tiga kebelakang. Saat peluit permainan dimulai, anak yang berperan sebagai bintang berpindah di kejar oleh bintang pengejar. Untuk menhindari kejaran kemudian bintang berpindah hinggap pada salah satu kelompok bintang. Dan kelompok bintang yang dihinggapi salah satu anggotanya harus berlari untuk untuk menghindari tangkapan dari bintang pengejar. Bila bintang berpindah tertangkap dia harus berganti peran menjadi bintang pengejar.
Bersambung..... Baca Selengkapnya....!
Bermain merupakan dunia anak. Oleh karena itu dalam penyampaian pengembangan di TK perlu dilakukan melalui bermain. Prinsipnya bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.
Ragam permainan fisik di Taman Kanak-Kanak.
1. Menjala Ikan
Bertujuan meningkatkan kemampuan ketrampilan gerak anak, juga menyalurkan hasrat bergerak dan menciptakan suasana gembira pada anak-anak. Pelaksanaannya: 2-3 anak di suruh bergandengan tangan dan berperan sebagai jala ikan. Sedangkan anak-anak lainnya berperan sebagai ikan. Mereka yang berperan sebagai ikan bebas berlarian di lapangan ataupun dalam ruangan. Bila ada tanda (peluit atau hitungan atau tepukan tangan) dari guru anak-anak yang berperan sebagai jala harus berusaha menangkap ikan (anak-anak yang berlarian dalam ruangan/lapangan) sebanyak-banyaknya dengan cara mengurungnya dalam lingkaran tangan. Usahakan jala jangan tercerai berai. Sedangkan anak yang berperan sebagai ikan berusaha lari menghindar jangan sampai tertangkap. Anak-anak yang telah tertangkap ikut bergabung sebagai jala, sehingga semakin lama jala semakin lebar. Sedangkan ikan yang harus ditangkap semakin sedikit. Permainan berakhir jika sudah tidak ada ikan yang perlu di tangkap lagi.
Permainan ini dapat dimodifikasi dengan memasang beberapa kelompok anak (2-3 pasang) sebagai jala. Lalu kelompok jala ini saling bersaing untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya.
2. Mencari pasangan
Bertujuan meningkatkan kemampuan anak dalam berhitung.
Pelaksanaannya: ajaklah anak-anak membentuk lingkaran. Setelah dilakukan pemanasan, ajaklah anak berkeliling dalam lingkaran dengan menyanyikan lagu Pak Pung Pak Mustape sambil bertepuk tangan. (Syair: Pak Pung Pak Mustape, tapene enak dewe, ayo konco rame-rame golek bolo dewe-dewe). Pada akhir lagu guru memberi tanda bisa dengan tangan atau kartu angka. Misalnya angka 3. Maka tiap-tiap anak harus berusaha mencari teman sebanyak tiga anak. Bagi yang tidak mendapatkan teman, anak bisa di beri hukuman dengan misalnya di suruh menyanyi.
3. Elang dan Anak Ayam
Tujuan: melatih kemampuan anak untuk mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: bagi anak menjadi beberapa kelompok. Paling banyak anggotanya berjumlah sepuluh tiap kelompok. Dalam satu kelompok pilih satu untuk berperan sebagai elang, sedangkan yang lin berperan sebagai ayam. Bariskan anak-anak yang berperan sebagai ayam. Tiap anak berpegangan pada pundak teman didepannya. Anak yang paling depan berperan sebagai induk ayam dan bertugas melindungi anak ayam dari kejaran burung elang dengan cara merentangkan kedua tangan. Burung elang bebas menangkap anak ayam yang paling belakang. Anak ayam yang tertangkap harus keluar dari barisan. Usahakan barisan anak ayam jangan sampai terputus. Permainan berakhir jika sudah tidak ada anak ayam yang tersisa. Setelah itu bisa diganti dengan kelompok berikutnya.
4. Kucing dan Tikus
Tujuan: melatih kemampuan anak mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: ajak anak-anak membentuk lingkaran dengan bergandengan tangan. Pilih dua orang anak yang akan berperan sebagai tikus dan salah satunya sebagai kucing. Tikus ini mulanya berada dalam lingkaran, sedangkan sang kucing berada di luar lingkaran. Pada saat aba-aba di mulai kucing berupaya menangkap tikus dengan cara memasuki lingkaran. Tikus berusaha menghindar. Namun yang berperan sebagai lingkaran hendaknya berusaha menutup jalan agar kucing tidak bisa masuk dalam lingkaran. Sebaliknya membebaskan sang tikus untuk keluar masuk lingkaran. Cara lingkaran menutup jalan kucing adalah dengan berjongkok jika kucing berusaha melewati bawah gandengan tangan, dan berdiri jika kucing berusaha melompati gandengan tangan. Permainan berakhir jika tikus sudah tertangkap.
5. Tepuk bersama
Tujuan: melatih koordinasi tangan dan kekompakan.
Pelaksanaannya: anak-anak membentuk dua barisan yang saling berhadapan. Kemudian ajak mereka bertepuk tangan dan saling bertukar tepuk dengan anak dihadapannya. Cara tepuk, mula-mula anak bertepuk sendiri satu kali kemudian tepukkan tangan kanan ke tangan kanan teman yang ada didepannya, lanjutkan dengan tangan kiri, tangan memegang bahu, bertepuk tangan sendiri, arahkan tangan kanan ke tangan kanan teman didepan, ganti tangan kiri dan seterusnya. Tepuk bisa dibuat lebih bervariasi. Anak-anak senang melakukan tepuk ini.
6. Permainan Hitam-Hijau
Tujuan: melatih kecepatan lari dan bereaksi
Siapkan lapangan segiempat. garis batas bisa dibuat dengan kapur atau tali. Bagi lapangan menjadi dua. Lalu pada masing-masing bagian siapkan garis bebas dekat sisi terluar lapangan.
Pelaksanaan permainan: bagi anak menjadi dua regu. Regu hitam dan regu hijau. Bariskan kedua regu di tengah lapangan. Masing-masing anak berhadapan satu sama lain. Tugas setiap regu adalah memperhatikan/mendengarkan nama baris yang disebutkan guru. Bila guru menyebut, Hiii…jau, berarti Hijau harus segera berlari meninggalkan tempatnya menuju garis bebas. Sedangkan baris hitam berusaha menangkap pasangan dari baris hijau sebelum melewati garis bebas. Dan begitu pula sebaliknya untuk baris hitam. Pemenangnya adalah regu yang anggotanya paling sedikit tertangkap.
7. Permainan Lintang Ngaleh (Bintang Berpindah)
Tujuan: Melatih kecepatan lari dan bereaksi.
Bagi anak dalam kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 2 atau 3 anak. Namun dalam pembagian kelompok harus menyisakan dua anak yang berperan sebagai bintang berpindah dan bintang pengejar. Tiap-tiap kelompok berbaris dua-dua atau tiga kebelakang. Saat peluit permainan dimulai, anak yang berperan sebagai bintang berpindah di kejar oleh bintang pengejar. Untuk menhindari kejaran kemudian bintang berpindah hinggap pada salah satu kelompok bintang. Dan kelompok bintang yang dihinggapi salah satu anggotanya harus berlari untuk untuk menghindari tangkapan dari bintang pengejar. Bila bintang berpindah tertangkap dia harus berganti peran menjadi bintang pengejar.
Bersambung..... Baca Selengkapnya....!
Langganan:
Postingan (Atom)