Alhamdulillah hari Rabu kemarin, 22 Juni 2022 guru-guru TK, KB beserta ustadzah Muslimat NU Demak berkesempatan melakukan tabadur alam bersama.
Destinasi wisata yang dipilih diantaranya Candi Gedong Songo, Pasar Bandungan, Pemandian Alam Umbul Sidomukti dan pusat oleh-oleh Cimory.
Pukul 7 pagi berkumpul dan alhamdulillah setengah delapan cus berangkat. Mendekati kota Semarang arus lalu lintas padat merayap. Namun setelahnya alhamdulillah lancar.
Menggunakan armada "Annisa Tour and Travel" yang kebetulan milik dari salah satu guru TK Muslimat NU sendiri Ibu Annisaturrohmah. Dan dipiloti special oleh suami beliau sang owner yang full service dan full banyolan Pak Bro Ansori Ahmad.
Destinasi pertama Candi Gedong Songo. Jam 9 pagi kita sudah sampai di puncak gunung Ungaran tempat Candi Gedong Songo bermukim. Kabut masih menyapa saat kami turun dari kendaraan. Disambut hawa dingin pegunungan yang syahdu.
Tiket masuk di sini 15.000 untuk pengunjung Domestik dan 75.000 untuk tourist mancanegara. Tujuan kami ke sini pingin berendam di air panas biar hilang segala penat. Sayangnya ketika sampai di sana ternyata kolam air panasnya bocor dan belum diperbaiki. Ada sih pancuran buat mandi. Akhirnya kita batal berendam. Dan hanya ambil foto di beberapa spot. Kami gak naik memutari candi karena pastinya akan menghabiskan waktu. Kita kongkow sejenak sembari menikmati hangatnya jagung godog yang manis. Sambil berfoto bersama. Habis itu lanjut perjalanan ke Umbul Sidomukti.
Tetapi karena Umbul Sidomukti rutenya agak ke bawah setelah Pasar Bandungan, maka kita mampir dulu di Pasar Bandungan buat beli oleh-oleh. Sayuran, buah-buahan dan bunga. Tak lupa menikmati seporsi sate kelinci di Warung Sate Pak Narso. Yang gak doyan kelinci karena kebayang manisnya saudara BOBO itu loncat-loncat bisa memilih sate ayam.
Habis itu turun ke bawah untuk kembali naik ke Umbul Sidomukti. Haha, perjalanan naik ke Umbul sempat bikin senam jantung karena jalanan yang sempit dan menanjak. Maklumlah biasa berjalan-jalan di dataran.
Namun spot jantung yang kami alami terbayar sudah dengan indahnya pemandangan yang ada di kawasan Umbul Sidomukti. Belum lagi udara sejuk dan segar yang menyapa. Sungguh indah ciptaan Allah. Maa syaa Allah. Berada di puncak begini menyadarkan kita betapa kecilnya kita. Betapa lemahnya kita yang hanya seperti remahan remahan remahan debu di semesta raya. 🥺🥺
Kembali ke Umbul ya. Oh ya tiket masuk di Umbul hanya 5.000 rupiah per kepala. Dan tiket renang hanya 20.000 rupiah. Anak-anak sudah tidak sabar ingin segera nyemplung kolam. Kebetulan beberapa guru membawa anak-anak mereka. Tetapi karena waktunya sudah masuk waktu dhuhur, kita sholat dulu.
Habis itu, cuss kita kungkum di kolam Umbul Sidomukti. Maa syaa Allah airnya dingin dan sejuk segar. Perlu penyesuaian dulu nih biar badan gak kaget. Ongkang-ongkang kaki dulu di air sebelum akhirnya berendam. Berasa kembali jadi anak kecil lagi.
Kita memilih kolam bawah karena beberapa guru gak bisa berenang. Sembari menemani anak-anak. Namun ada juga beberapa guru yang mencoba berenang di kolam atas. Kolam atas memiliki kedalaman 1,3 dan 1,6 m. Sementara kolam bawah 1,2 dan ada yang lebih dangkal.
Puas berendam kita lanjut perjalanan. Karena si perut sudah mulai padha bernyanyi. Pilihan kita ke Rumah Makan Suharno 2 di Jimbaran. Menikmati gurami bakar yang lezat.
Habis dari Suharno kita otw ke Cimory buat beli oleh-oleh. Di ufuk barat langit sudah memerah saga. Pertanda pergantian waktu akan segera tiba. So kita di Cimory hanya sebentar saja. Lanjut perjalanan pulang ke Demak kota tercinta.
Karena sudah masuk waktu maghrib, kita melipir cari tempat sholat. Habis itu pulang. Perjalanan lumayan lancar.
Kalau ada macet merambat karena terkendala air rob yang naik ke jalanan di wilayah Sayung.
Alhamdulillah sampai di Demak pukul 8 malam dengan selamat.
Ayo, sekali-kali piknik biar gak panik.😚
Sekali-kali healing biar gak sinthing🤩
Sekali-kali refreshing biar gak pusing. 😍
Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya. 🙏🙏
Baca Selengkapnya....!
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Juni 2022
Minggu, 15 November 2020
Goes to Rahtawu
Cuaca minggu pagi yang cerah. Kami berkendara berdua. Menyusur jalan sepanjang sisi kota Kudus. Hanya berdua. Karena si kecil sudah mulai masuk pondok. Habis ngantar pesanan ke pondok, kami putuskan buat refresging tipis-tipis. Pingin merasakan hawa gunung. Nge-charge stamina tubuh dengan ion negative yang banyak bertebaran di pegunungan. Dan tujuan kali ini adalah ke Rahtawu. Kebetulan Rahtawu terletak satu jalur dengan pondok si anak cantik.
Setelah berjalan kurang lebih 20 menit dari pusat kota Kudus, jalanan mulai menyempit. Dan pohon-pohon mulai merimbun. Hawa pegunungan mulai terasa. Dan kami terus melaju berdua. Ini adalah kunjungan ketiga kami ke puncak Rahtawu. Memasuki gerbang desa wisata Rahtawu, cuaca masih cukup cerah. Jalanan mulai berkelok dan naik turun. Butuh keahlian berkendara yang mumpuni. Karena di satu sisi jalan, jurang menganga cukup dalam. Namun keindahan panorama yang ditawarkan sangatlah memukau. Sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kendati ngeri-ngeri sedap dengan jalanan yang dilalui, tangan ini gak mau berhenti mengabadikan keindahan surgawi yang diciptakan Allah di kawasan lereng Rahtawu ini.
Saat beranjak naik, adzan dhuhur mulai terdengar. Kami memutuskan untuk singgah di masjid terdekat. Pilihan kami jatu pada masjid Jami’ yang terletak di tepi jalan. Masjidnya cukup bersih. Dengan air wudhu sumber dari gunung yang sejuk, dingin, dan menyegarkan. Usai sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan kami bertemu dengan para pesepeda yang baru kembali dari arah puncak. Wah, cukup berani juga meluncur di atas sepeda di jalanan menurun seperti itu. Tentunya butuh keahlian dan juga nyali yang besar.
Setelah melalui jalanan yang berkelok, menanjak, menurun, dan sempit, kami pun sampai. Tujuan kami adalah bersantai di tepi sungai Watu Nganten. Di sini kita gak perlu bayar tiket masuk. Cukup bayar parkir kendaraan saja. Selain Sendang Watu Nganten banyak juga tempat bersantai di Rahtawu ini. Sambil bermain air di tepian sungai yang gemericik mengalir sembari menikmati indahnya pemandangan kawasan puncak Rahtawu ini.
Hari ini kawasan Rahtawu cukup ramai dengan orang-orang yang ingin bersantai ria menghabiskan hari Minggu. Banyak anak-anak kecil berenang-renang dan bermain air di sekitaran kali. Kalinya nggak dalam. Dan arusnya juga tidak begitu deras. Cukup aman untuk anak-anak bermain air. Namun tentunya masih perlu pengawasan juga.
Jikalau lapar tak perlu merasa kuatir. Di dekat Sendang Watu Nganten ada banyak warung makan. Diantaranya Warung Makan menthog dan ayam goreng Mbak Ngatri. Di sana dijual menu makanan khas Rahtawu yaitu menthog goreng dengan lalapan dan sambel yang super mantap. Sambalnya bias milih, sambal bawang atau sambel tomat. Dua-duanya yummy. Dan soal harga juga ramah dikantong. Dua porsi menthog goreng plus dua gelas wedang jeruk hangat dihargai hanya Rp 40.000,- Itupun sudah cukup mengenyangkan. Karena porsi nasi yang lumayan banyak.
Bagi yang hobby selfi, mengabadikan foto-foto perjalanan, banyak spot cantik bias jadi pilihan. Mau di dasar sungai berarus, di atas jembatan, atau di atas batu besar semuanya asyik dengan pemandangan yang cantik.
Habis foto-foto ayang babe ngajak naik ke puncak Rahtawu. Cuaca hari itu lumayan cerah. Tapi nggak tahu juga kalau tiba-tiba hujan. Kata bapak tukang parkir sih begitu. Cuaca gak bias diprediksi. Apalagi ini sudah masuk musim hujan.
Tapi karena penasaran dengan puncak Rahtawu, akhirnya kami naik juga. Aduh, banyak tumbuh bunga mawar kampung di sepanjang sisi jalan. Bunga mawar kampong yang wangi itu lho. Bukan mawar hybrid yang banyak dijual di pasar kembang lho ya. Ini mawar kampung dengan keharuman yang eksotis. Saya dulu pernah punya. Saying sudah mati mawarnya. Agenda selanjutnya yakni berburu mawar kampung itu. Sayange nih yang punya gak stand by di tempat. Gak boleh petik sembarangan lhoh ya. Takut sama dosa ey. Ingat umur, sudah tinggi.
Kalau mau naik sampai ke puncak baiknya bawa motor saja. Soalnya semakin ke atas jalanan semakin menyempit. Dan tentu saja semakin membuat spot jantung. Jalanan khas daerah pegunungan. Jadi persiapkan motormu dengan baik ya. Tapi kalau soal pemandangan, jangan ditanya lagi. Hey, masyaallah. Gak nyesel pokoknya naik ke Rahtawu.
Oh ya, di puncak ada tempat nongkrong asyik yang bernama Semliro. Di sana ada café dengan view pemandangan yang sangat cantik. Di sana aku lihat juga ada bunga pacar cina yang bunganya besar dan warnanya itu lho guys… Ungu gelap you know. Baru kali itu sih aku lihat yang seperti itu.
Tadinya kami mau nongkrong di Semliro. Tapi tiba-tiba mendung dating bergumpal-gumpal. Dan karena gak mau kehujanan di atas gunung, maka kami pun turun. Acara turun ini lebih membuat spot jantung lho guys. Tapi untungnya yang di depan ini mantan pembalap. Jadi rada tenang juga turu di jalanan yang curam kayak gitu.
Ketika kami turun, eh ketemu sama rombongan anak-anak muda yang baru mau naik. Ya, udahlah biar akunya turun saja. Next time mungkin bias kembali lagi ke Semliro. Kalau ayang babe sih sudah berkali-kali naik ke Rahtawu dulu pas mudanya. Iyalah, kan doi mantan pendaki. Katanya kapan-kapan pingin ajak anak-anak mendaki puncak Rahtawu. Ntar lihat sunrise di sana. Ya, semoga saja… Baca Selengkapnya....!
Setelah berjalan kurang lebih 20 menit dari pusat kota Kudus, jalanan mulai menyempit. Dan pohon-pohon mulai merimbun. Hawa pegunungan mulai terasa. Dan kami terus melaju berdua. Ini adalah kunjungan ketiga kami ke puncak Rahtawu. Memasuki gerbang desa wisata Rahtawu, cuaca masih cukup cerah. Jalanan mulai berkelok dan naik turun. Butuh keahlian berkendara yang mumpuni. Karena di satu sisi jalan, jurang menganga cukup dalam. Namun keindahan panorama yang ditawarkan sangatlah memukau. Sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kendati ngeri-ngeri sedap dengan jalanan yang dilalui, tangan ini gak mau berhenti mengabadikan keindahan surgawi yang diciptakan Allah di kawasan lereng Rahtawu ini.
Saat beranjak naik, adzan dhuhur mulai terdengar. Kami memutuskan untuk singgah di masjid terdekat. Pilihan kami jatu pada masjid Jami’ yang terletak di tepi jalan. Masjidnya cukup bersih. Dengan air wudhu sumber dari gunung yang sejuk, dingin, dan menyegarkan. Usai sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan kami bertemu dengan para pesepeda yang baru kembali dari arah puncak. Wah, cukup berani juga meluncur di atas sepeda di jalanan menurun seperti itu. Tentunya butuh keahlian dan juga nyali yang besar.
Setelah melalui jalanan yang berkelok, menanjak, menurun, dan sempit, kami pun sampai. Tujuan kami adalah bersantai di tepi sungai Watu Nganten. Di sini kita gak perlu bayar tiket masuk. Cukup bayar parkir kendaraan saja. Selain Sendang Watu Nganten banyak juga tempat bersantai di Rahtawu ini. Sambil bermain air di tepian sungai yang gemericik mengalir sembari menikmati indahnya pemandangan kawasan puncak Rahtawu ini.
Hari ini kawasan Rahtawu cukup ramai dengan orang-orang yang ingin bersantai ria menghabiskan hari Minggu. Banyak anak-anak kecil berenang-renang dan bermain air di sekitaran kali. Kalinya nggak dalam. Dan arusnya juga tidak begitu deras. Cukup aman untuk anak-anak bermain air. Namun tentunya masih perlu pengawasan juga.
Jikalau lapar tak perlu merasa kuatir. Di dekat Sendang Watu Nganten ada banyak warung makan. Diantaranya Warung Makan menthog dan ayam goreng Mbak Ngatri. Di sana dijual menu makanan khas Rahtawu yaitu menthog goreng dengan lalapan dan sambel yang super mantap. Sambalnya bias milih, sambal bawang atau sambel tomat. Dua-duanya yummy. Dan soal harga juga ramah dikantong. Dua porsi menthog goreng plus dua gelas wedang jeruk hangat dihargai hanya Rp 40.000,- Itupun sudah cukup mengenyangkan. Karena porsi nasi yang lumayan banyak.
Bagi yang hobby selfi, mengabadikan foto-foto perjalanan, banyak spot cantik bias jadi pilihan. Mau di dasar sungai berarus, di atas jembatan, atau di atas batu besar semuanya asyik dengan pemandangan yang cantik.
Habis foto-foto ayang babe ngajak naik ke puncak Rahtawu. Cuaca hari itu lumayan cerah. Tapi nggak tahu juga kalau tiba-tiba hujan. Kata bapak tukang parkir sih begitu. Cuaca gak bias diprediksi. Apalagi ini sudah masuk musim hujan.
Tapi karena penasaran dengan puncak Rahtawu, akhirnya kami naik juga. Aduh, banyak tumbuh bunga mawar kampung di sepanjang sisi jalan. Bunga mawar kampong yang wangi itu lho. Bukan mawar hybrid yang banyak dijual di pasar kembang lho ya. Ini mawar kampung dengan keharuman yang eksotis. Saya dulu pernah punya. Saying sudah mati mawarnya. Agenda selanjutnya yakni berburu mawar kampung itu. Sayange nih yang punya gak stand by di tempat. Gak boleh petik sembarangan lhoh ya. Takut sama dosa ey. Ingat umur, sudah tinggi.
Kalau mau naik sampai ke puncak baiknya bawa motor saja. Soalnya semakin ke atas jalanan semakin menyempit. Dan tentu saja semakin membuat spot jantung. Jalanan khas daerah pegunungan. Jadi persiapkan motormu dengan baik ya. Tapi kalau soal pemandangan, jangan ditanya lagi. Hey, masyaallah. Gak nyesel pokoknya naik ke Rahtawu.
Oh ya, di puncak ada tempat nongkrong asyik yang bernama Semliro. Di sana ada café dengan view pemandangan yang sangat cantik. Di sana aku lihat juga ada bunga pacar cina yang bunganya besar dan warnanya itu lho guys… Ungu gelap you know. Baru kali itu sih aku lihat yang seperti itu.
Tadinya kami mau nongkrong di Semliro. Tapi tiba-tiba mendung dating bergumpal-gumpal. Dan karena gak mau kehujanan di atas gunung, maka kami pun turun. Acara turun ini lebih membuat spot jantung lho guys. Tapi untungnya yang di depan ini mantan pembalap. Jadi rada tenang juga turu di jalanan yang curam kayak gitu.
Ketika kami turun, eh ketemu sama rombongan anak-anak muda yang baru mau naik. Ya, udahlah biar akunya turun saja. Next time mungkin bias kembali lagi ke Semliro. Kalau ayang babe sih sudah berkali-kali naik ke Rahtawu dulu pas mudanya. Iyalah, kan doi mantan pendaki. Katanya kapan-kapan pingin ajak anak-anak mendaki puncak Rahtawu. Ntar lihat sunrise di sana. Ya, semoga saja… Baca Selengkapnya....!
Minggu, 22 Januari 2017
Goes To Bandengan Beach at January 22, 2017
Hari ini alhamdulillah berkesempatan jalan-jalan bersama anak-anak. Pilihan kami ke Pantai Tirto Samudra di Bandengan. Sudah lama sekali kami tidak pergi ke sana. Terakhir ke Bandengan itu sekitar tahun 2014 bulan September. Jadi cukup lama juga kan.
Tadinya mau sempat batal berangkat. Karena cuaca kurang mendukung. Gerimis rintik-rintik. Tapi menjelang siang, Alhamdulillah cuaca kembali benderang. Dan kamipun berangkat menuju Bandengan. Karena lama tidak ke sana, jadi lupa juga sama rutenya. Tapi Alhamdulillah juga akhirnya sampai ke pantai Bandengan. Tidak kesasar sih, Cuma lewat jalan lain yang tidak biasanya kami lalui. Jadi rute lebih panjang. Syukur-syukur lewatnya pesawahan, jadi cukup terhibur juga dengan pemandangan yang ada.
Sampai di gerbang selamat dating, kami beli tiket dulu. Untuk hari libur tiketnya seharga Rp 7.000 per orang. Kalau hari biasa Senin-Jum’at tiketnya Rp 5.000.
Sampai di pantai cuaca cukup terik juga. Padahal masih jam 11. Karena tadi berangkatnya kesiangan sih ya, nunggu gerimis reda. Jadinya malas mau turun ke laut. Padahal sudah siap baju ganti. Anak-anak juga enggan turun ke laut. Paling hanya bermain ombak saja.
Banyak yang telah berubah dari pantai Bandengan ini. Sepanjang pinggir pantai sebelah kiri dermaga sudah dipasangi talut pemecah ombak. Dan sepertinya garis pantai mulai bergeser ke daratan. Jadi pantainya tambah sempit kayaknya. Ataukah hanya perasaanku saja ya…
Selain itu airnya tidak sejernih dulu lagi. Dan di pesisir pantai banyak sekali karang yang mati. Sungguh sayang sekali. Karang-karang itu mati karena pemanasan global. Naiknya suhu udara di lautan menjadikan adanya coral bleaching. Karang-karang jadi kepanasan dan akhirnya mati. Sungguh sayang sekali. Jadinya terumbu karang kita jadi berkurang dong ya…
Batal nyebur ke laut, akhirnya kita kongkow saja di bibir pantai. Bermain ombak. Habis itu nyari buah kersen yang banyak tumbuh di sepanjang pantai. Berdampingan dengan pandan laut dan kepoh. Lumayan banyak juga buah kersennya. Dan ada buah kersen yang rasanya asin lho. Apa karena tumbuh di dekat pantai kali ya…
Puas kongkow di pinggir pantai, kami lalu pulang. Tadinya mau mampir ke Teluk Awur. Tapi takutnya kesorean. Jadi batal deh ke Teluk Awurnya. Meaby next time ya. Pokoknya hari ini senang karena bias pergi komplit bersama anak-anak. Biasanya si sulung sudah mulai enggan kalau mau diajak jalan-jalan. Si Abegeh itu maunya jalan sendiri sama teman-temannya.
By the way, semoga hari ini kamu senang ya son…
Baca Selengkapnya....!
Tadinya mau sempat batal berangkat. Karena cuaca kurang mendukung. Gerimis rintik-rintik. Tapi menjelang siang, Alhamdulillah cuaca kembali benderang. Dan kamipun berangkat menuju Bandengan. Karena lama tidak ke sana, jadi lupa juga sama rutenya. Tapi Alhamdulillah juga akhirnya sampai ke pantai Bandengan. Tidak kesasar sih, Cuma lewat jalan lain yang tidak biasanya kami lalui. Jadi rute lebih panjang. Syukur-syukur lewatnya pesawahan, jadi cukup terhibur juga dengan pemandangan yang ada.
Sampai di gerbang selamat dating, kami beli tiket dulu. Untuk hari libur tiketnya seharga Rp 7.000 per orang. Kalau hari biasa Senin-Jum’at tiketnya Rp 5.000.
Sampai di pantai cuaca cukup terik juga. Padahal masih jam 11. Karena tadi berangkatnya kesiangan sih ya, nunggu gerimis reda. Jadinya malas mau turun ke laut. Padahal sudah siap baju ganti. Anak-anak juga enggan turun ke laut. Paling hanya bermain ombak saja.
Banyak yang telah berubah dari pantai Bandengan ini. Sepanjang pinggir pantai sebelah kiri dermaga sudah dipasangi talut pemecah ombak. Dan sepertinya garis pantai mulai bergeser ke daratan. Jadi pantainya tambah sempit kayaknya. Ataukah hanya perasaanku saja ya…
Selain itu airnya tidak sejernih dulu lagi. Dan di pesisir pantai banyak sekali karang yang mati. Sungguh sayang sekali. Karang-karang itu mati karena pemanasan global. Naiknya suhu udara di lautan menjadikan adanya coral bleaching. Karang-karang jadi kepanasan dan akhirnya mati. Sungguh sayang sekali. Jadinya terumbu karang kita jadi berkurang dong ya…
Batal nyebur ke laut, akhirnya kita kongkow saja di bibir pantai. Bermain ombak. Habis itu nyari buah kersen yang banyak tumbuh di sepanjang pantai. Berdampingan dengan pandan laut dan kepoh. Lumayan banyak juga buah kersennya. Dan ada buah kersen yang rasanya asin lho. Apa karena tumbuh di dekat pantai kali ya…
Puas kongkow di pinggir pantai, kami lalu pulang. Tadinya mau mampir ke Teluk Awur. Tapi takutnya kesorean. Jadi batal deh ke Teluk Awurnya. Meaby next time ya. Pokoknya hari ini senang karena bias pergi komplit bersama anak-anak. Biasanya si sulung sudah mulai enggan kalau mau diajak jalan-jalan. Si Abegeh itu maunya jalan sendiri sama teman-temannya.
By the way, semoga hari ini kamu senang ya son…
Baca Selengkapnya....!
Minggu, 10 Juli 2016
Jalan-Jalan ke Sam Poo Kong
Habis dari Reuni Ekstemba 87 bareng suami, kami mampir dulu ke Sam Poo kong. Saat itu masih pukul dua. Tadinya pingin ke Umbul Sidomukti Bandungan. Tapi kejauhan. Mau ke kebun binatang Mangkang, takut terkena macet arus balik. Akhirnya nyari yang dekat saja. Sekalian refreshing.
Sam Poo Kong merupakan klenteng bekas persinggahan pertama Laksamana dari Cina yang beragama Islam. Dia adalah Laksamana Cheng Ho. Klenteng Sam Poo Kong terletak di daerah Simongan, Semarang. Sebelah barat kota Semarang.
Sampai di Sam Poo Kong, ternyata pengunjung cukup ramai. Parkiran hampir penuh. Sam Poo Kong ini merupakan kuil peninggalan dari Laksamana Cheng Hoo. Sebelum masuk ke kuil, kami membeli tiket dulu. Dewasa seharga lima ribu rupiah. Sedang untuk anak-anak seharga tiga ribu rupiah saja.
Sebagaimana bangunan khas Cina, maka kuil Sam Poo Kong ini juga didominasi warna merah. Ada banyak lampion di sana. Lampion tidak hanya menghiasi bangunan gedung. Namun juga pohon-pohon di arah pintu masuk. Penuh dengan lampion. Sekarang Sam Poo Kong dijadikan sebuah tempat pemujaan dan juga temapt berziarah. Ada banyak patung diletakkan di sana. Padahal Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim. Beliau merupakan keturunan Persia. Namun bagi masyarakat Cina, Cheng Ho sudah dianggap seperti dewa. Mengingat kepercayaan agama Kong Hu Cu atau Tau beranggapan bahwa orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Bangunan inti dari kelenteng ini adalah sebuah gua batu. Namun gua asli sudah tertutup longsor pada tahun 1700-an. Lalu oleh masyarakat setempat gua itu dibangun kembali sebagai penghormatan terhadap Laksamana Cheng Ho.
Tidak setiap pengunjung boleh masuk kuil. Hanya yang benar-benar ingin sembahyang yang boleh masuk. Sementara para wisatawan bisa melihat-lihat dari balik pagar.
Klenteng Sam Poo Kong ini sudah mengalami renovasi pada tahun 2002. Dan baru selesai pada tahun 2005 dengan menelan biaya sebesar 20 miliar. Setelah itu Sam Poo Kong lebih menarik minat pengungjung untuk datang berwisata . halaman kuil cukup luas. Di sinilah biasa digelar atraksi kesenian Cina. Atraksi biasa dilakukan untuk memperingati hari-hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya Cina.
Dan ternyata hari ini di Sam Poo Kong tengah ada pertunjukan barong sai dan naga cina. Pantas saja ramai pengunjung. Ketika kami tiba pertunjukan hampir berakhir. Tapi lumayanlah. Jadinya kita foto-foto saja bareng anak-anak. Puas foto-foto kami kembali lagi ke rumah. Bersiap untuk aktivitas selanjutnya.
Baca Selengkapnya....!
Sam Poo Kong merupakan klenteng bekas persinggahan pertama Laksamana dari Cina yang beragama Islam. Dia adalah Laksamana Cheng Ho. Klenteng Sam Poo Kong terletak di daerah Simongan, Semarang. Sebelah barat kota Semarang.
Sampai di Sam Poo Kong, ternyata pengunjung cukup ramai. Parkiran hampir penuh. Sam Poo Kong ini merupakan kuil peninggalan dari Laksamana Cheng Hoo. Sebelum masuk ke kuil, kami membeli tiket dulu. Dewasa seharga lima ribu rupiah. Sedang untuk anak-anak seharga tiga ribu rupiah saja.
Sebagaimana bangunan khas Cina, maka kuil Sam Poo Kong ini juga didominasi warna merah. Ada banyak lampion di sana. Lampion tidak hanya menghiasi bangunan gedung. Namun juga pohon-pohon di arah pintu masuk. Penuh dengan lampion. Sekarang Sam Poo Kong dijadikan sebuah tempat pemujaan dan juga temapt berziarah. Ada banyak patung diletakkan di sana. Padahal Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim. Beliau merupakan keturunan Persia. Namun bagi masyarakat Cina, Cheng Ho sudah dianggap seperti dewa. Mengingat kepercayaan agama Kong Hu Cu atau Tau beranggapan bahwa orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Bangunan inti dari kelenteng ini adalah sebuah gua batu. Namun gua asli sudah tertutup longsor pada tahun 1700-an. Lalu oleh masyarakat setempat gua itu dibangun kembali sebagai penghormatan terhadap Laksamana Cheng Ho.
Tidak setiap pengunjung boleh masuk kuil. Hanya yang benar-benar ingin sembahyang yang boleh masuk. Sementara para wisatawan bisa melihat-lihat dari balik pagar.
Klenteng Sam Poo Kong ini sudah mengalami renovasi pada tahun 2002. Dan baru selesai pada tahun 2005 dengan menelan biaya sebesar 20 miliar. Setelah itu Sam Poo Kong lebih menarik minat pengungjung untuk datang berwisata . halaman kuil cukup luas. Di sinilah biasa digelar atraksi kesenian Cina. Atraksi biasa dilakukan untuk memperingati hari-hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya Cina.
Dan ternyata hari ini di Sam Poo Kong tengah ada pertunjukan barong sai dan naga cina. Pantas saja ramai pengunjung. Ketika kami tiba pertunjukan hampir berakhir. Tapi lumayanlah. Jadinya kita foto-foto saja bareng anak-anak. Puas foto-foto kami kembali lagi ke rumah. Bersiap untuk aktivitas selanjutnya.
Baca Selengkapnya....!
Sabtu, 09 Juli 2016
Reuni Ekstemba Angkatan 87 di SMK N 7 Semarang (STM Pembangunan)
![]() |
| Wajah Depan STM Pembangunan Sekarang |
![]() |
| Mengenang Masa Lalu dengan Bermain Futsal |
![]() |
| Edisi Senior Junior |
![]() |
| Foto Bersama EkStemba 87 |
![]() |
| Rockernya Ekstemba 87 |
![]() |
| Fun Game yang Asyik |
![]() |
| Ketemu Sahabat Lama, Sama-Sama Wong Demak |
![]() |
| Berkeliling Kelas Mengenang Masa Lalu |
![]() |
| Narsis Dulu yach |
Acara reuni dimulai pagi-pagi sekali. Jam 7 pagi para alumni sudah berdatangan. Bagi yang belum sarapan, sudah tersedia bubur ayam. Habis itu acara dibuka dengan pertandingan futsal antar alumni. Katanya untuk mengenang masa lalu. Bahkan untuk kostum awal pun ditentukan dalam rangka mengenang masa-masa di Ekstemba Semarang. Dulu ada hari di mana para siswa Ekstemba diharuskan memakai celanan jeans dan hem putih. Nah, dalam rangka mengenang masa lalu, peserta reuni diharuskan memakai celana jeans dan hem putih. Suamiku yang nggak pernah memakai celana jeans jadinya ya beli jeans baru.
![]() |
| Terima Penghargaan Para Pemenang Fun Game |
![]() |
| Guru-Guru Tercinta |
![]() |
| Slanker Ekstemba 87 yang Jago Main Bola dan Naik Gunung |
![]() |
| Bu Guru Cantik Tak Mau Kalah, Duet sama Muridnya |
![]() |
| Ngerumpiin Masa Lalu |
Acara reuni yang mengambil tema ‘Kita Jalin Silaturahim dan Persaudaraan Menuju Kemanfaatan Bersama’ itu berlangsung cukup sukses. Walaupun tidak semua bisa hadir. Namun mampu mengobati rasa kangen akan kebersamaan 25 tahun silam. Acara usai sekitar pukul dua siang. Dengan harapan persaudaraan mereka akan tetap terjalin. Ingat, persaudaraan itu lebih penting daripada saudara sekalipun.
Baca Selengkapnya....!
Minggu, 24 April 2016
Outbound ke nDayu Park Sragen

Hari Sabtu kemarin tanggal 23 April 2016 mendampingi anak-anak TK Muslimat NU Demak Outbound. Lokasi yang dituju yakni nDayu Park Sragen. Lumayan jauh juga. Pukul 6 pagi anak-anak sudah berkumpul di depan LP Demak. Tepat bus yang akan kami tumpangi standby. Setelah check in peserta dan briefing untuk kru bus Senja Furnindo, kami pun berangkat pada pukul 7 pagi. Jalur yang ditempuh melalui Purwodadi.
Rupanya di jalur Purwodadi sedang terjadi perbaikan jalan. Alhasil kami pun terjebak macet. Belum lagi jalanan berlubang yang kami lalui. Sukses bikin goyangan dombret. Selain itu keberadaan sinyal yang byar pet membuat komunikasi dengan pihak nDayu Park jadi terhambat. Perkiraan waktu tempuh selama 2 jam akhirnya jadi molor. Pukul 11.30 WIB kami baru sampai di lokasi. Itu pun belum komplit. Baru bus 4 saja yang sudah sampai.
Setelah semua bus tiba, anak-anak segera dikumpulkan di aula. Sambutan dari pihak nDayu Park lumayan ramah. Manajer Marketing Bapak Krestiyanto menyambut kami dengan antusias. Demikian pula dengan kakak-kakak pemandu.
Karena kedatangan kami yang sangat terlambat dari jadwal, maka perubahan rencana segera disusun. Usai penyambutan, kami langsung makan siang, sholat dan setelah itu baru melaksanakan kegiatan outbound.
Anak-anak dibagi per kelas. Jadi ada 5 kelompok. Masing-masing kelompok bergerak sesuai arahan dari pemandu dengan didampingi guru kelas masing-masing. Sementara anak-anak melakukan kegiatan outbound, wali murid bebas berjalan-jalan di mini zoo atau areal nDayu Park.

Untuk kelompok B 1, kami menuju lokasi pembuatan roti donat kentang. Di sini anak-anak diajari cara membuat donat kentang. Anak-anak langsung praktek membuat kue donat. Habis itu kami menuju lokasi memberi makan ikan. Banyak sekali ikannya. Besar-besar lagi. jenis ikan yang dipelihara adalah ikan tawes. Anak-anak senang sekali memberi makan ikan. Terlebih setelah ikan-ikan itu bermunculan berebut makanan.

Habis dari tempat pemeliharaan ikan, kami menuju mini zoo. Di sana anak-anak diperkenalkan dengan aneka binatang. Cocok untuk menanamkan cinta satwa pada anak-anak. Binatang yang dipelihara diantaranya aneka ikan seperti patin, lele, ikan buaya dan lain-lain. Di dalam lokasi mini zoo ada juga tempat untuk terapi ikan. Arifnya murah banget. Hanya lima ribu rupiah saja.
Selain bermacam-macam ikan, ada pula kera, buaya, burung merak, kasuari, rusa jawa, rusa totol, ular, landak, kebo bule, ada pula beruang lho. Habis dari mini zoo, anak-anak menuju tempat perah susu. Di kandang sapi sudah menunggu Pak Sabar. Dengan sabar beliau memandu anak-anak praktek memerah susu sapi. Ada insiden kecil terjadi. Saat kami tiba di kandang sapi, sudah ada kelompok lain yang juga praktek memerah susu. Jadi kami harus menunggu sementara waktu sampai merek selesai. Sementara menunggu, ada anak iseng menggoyang-goyangkan pohon karsen. Dan ternyata di pohon karsen itu sedang ada ulatnya. Hiii, ulatnya besar-besar. Ulat bulu lagi. alhasil beberapa anak mengalami gatal-gatal. Pertolongan segera dilakukan. Dan perah susu sapi pun berlanjut. Walau beberapa anak mengalami gatal.
Habis itu kami lalu menuju lokasi menangkap ikan. Di sana sudah menunggu kakak pemandu dengan jaringnya. Di sini anak-anak diajak praktik menangkap ikan. Wow, seru sekali. Walau tak ada ikan yang berhasil ditangkap.

Habis dari lokasi tangkap ikan, anak-anak diajak ke lokasi penanaman ketela. Di lahan yang tak begitu luas itu anak-anak diajak praktik menanam ketela rambat. Dijelaskan cara menanam dan juga manfaat dari ketela rambat ini. Anak-anak jadi tambah wawasan. Habis itu anak-anak diajak terjun ke sawah untuk menanam padi. Berbecek-becek di lumpur. Namun anak-anak senang sekali. Jangan takut kaki menjadi kotor. Ada bak khusus untuk membasuh lumpur yang menempel di kaki. Kendati demikian ada pula anak-anak yang merasa jijik. Mereka tidak mau turun ke sawah.
Dan usai tanam padi adalah saat yang ditunggu-tunggu. Saatnya ke kolam renang. Anak-anak senang sekali. Mereka bisa berenang beramai-ramai. Tak lupa beberapa ibu guru ikut turun ke kolam.
Usai dari kolam renang, saatnya untuk check out dari nDayu Park. Jangan khawatir, anak-anak tidak akan pulang dengan tangan kosong. Ada roti donat, susu sapi dan ikan sebagai oleh-oleh untuk anak-anak. Ada pula oleh-oleh ubi jalar untuk para gurunya.
Anak-anak sangat senang. Perjalanan outbound kali ini sungguh berkesan. Terima kasih kepada pihak Ndayu Park untuk kerja samanya sehingga kegiatan outbound berjalan lancar.
Karena jalanan yang kurang bersahabat, maka pulangnya kami lewat jalur Salatiga. Di sini kami mampir untuk beli oleh-oleh. Dan kami tiba kembali di Demak pukul 10 malam. Capai, namun sangat berkesan.
Baca Selengkapnya....!
Rabu, 16 Desember 2015
#Goes to Malang 3: Perpisahan yang Mengharukan di Masjid Turen
![]() |
| Serambi Pondok Pesantren |
![]() |
| Masjid Tiban yang terkenal itu |
![]() |
| Area Sholat di lantai 1 |
Bangunan pesantren ini juga sangat luas. Area parkirnya luas. Dan ada pula rest area untuk para sopir. Dan parkir di sini gratis lhoh. Demikian pula masuknya. Kita hanya perlu lapor dan nanti dikasih kartu. Kalau kita pulang kartu ini kita kembalikan. Ibaratnya kalau orang bertamu itu kan pakai permisi, demikian pula kalau pulang ya harus pamit. Saat itu banyak sekali pengunjung yang datang. Parkiran sampai penuh. Demikian pula dengan pengunjung yang berjalan kaki.
Tak beda dengan bangunan pesantrennya, bangunan toilet-nya pun terkesan unik. Serasa di jaman kerajaan dahulu kala. Karena sudah tiba waktu dhuhur, kamipun melaksanakan sholat berjamaah dahulu. Habis itu langsung mencari lokasi yang nyaman buat acara perpisahan.
![]() |
| Foto bersama |
Setelah berkeliling komplek pesantren, kami akhirnya mengadakan acara perpisahan di emperan pondok. Maunya di tingkat atas, tetapi para pengurus yayasan yang sudah sepuh tidak sanggup kalau harus naik tinggi-tinggi.
Perpisahan kali ini cukup mengharukan. Sedikit sambutan dari pengurus yayasan. Dan sepatah kata dari guru yang mutasi. Disertai wejangan tentunya. Lalu diakhiri dengan penyerahan cindera mata. Waduh, pakai basah nih mata. Saingan dengan gerimis yang tiba-tiba turun membasahi area pesantren.
![]() |
| Jalan-jalan mengitari komplek pesantren |
Habis acara perpisahan maunya kita keliling-keliling pesantren. Karena konon di lantai 7 dan 8 ada pusat perbelanjaan yang dikelola para santri. Oh ya bangunan pesantren ini ada 10 tingkat lho. Tingkat 1 sampai 4 digunakan untukkegiatan para santri. Ada pusat penjualan souvenir juga di lantai 1. Ada pula pajangan akuarium raksasa. Terus di lantai 2 sampai 6 mata dimanjakan dengan pahatan kaligrafi yang menawan. Dan dari lantai 9, 10 kita bisa melihat pemandangan kota Malang yang asri kehijauan.
Hanya sayangnya nih, kita nggak keliling sampai sana. Mengingat waktu sudah semakin siang, dan esok hari kami sudah harus sampai di Demak. Bahkan beli oleh-olehpun cepat-cepat. Kami belinya di Lancar Jaya. Harganya lebih miring. Kendati semua oleh-oleh di sini harganya lebih miring dibanding di kota kami. Yah, kan sini pusatnya ya. Kerpik apel, keripik nangka, keripik telo madu, keripik salak, brem, dan yang tak boleh lupa, sari apel.
![]() |
| Narsis dulu ya |
Dan alhamdulillah, Subuh saya sampai di rumah. Suami dah nunggu di depan gapura buat mbantuin membawa oleh-oleh. Hihihi, ternyata banyak juga bawaannya. Padahal kan tadi tekadnya nggak bakalan beli banyak oleh-oleh. Namanya emak-emak, lihat temannya beli, kok kayaknya asyik ya ngikut saja. Hadeuh, see u.
Sebelumnya di sini
Baca Selengkapnya....!
Selasa, 15 Desember 2015
#Goes to Malang 2: Wisata Petik Apel
![]() |
| Foto Bersama |
Habis mandi, kebetulan masuk waktu Subuh. Teman-teman ngajakin sholat jamaah ke Mushola yang kebetulan ada di depan rumah. Yach, sekalian kenalan sama para tetangga. Habis sholat, sebagian bantu-bantu tuan rumah menyiapkan sarapan. Dan masih ada lho yang nunggu giliran buat mandi. Lha kamar mandinya cuma satu. Sambil nunggu teman-teman siap, kami foto-fotolah di halaman rumah, sembari menunggu matahari terbit di Sidoarjo. Habis itu sarapan rame-rame. Tapi masih nunggu Pak Sopir yang belum lagi siap. Jadinya foto-foto dulu yach.
![]() |
| Menunggu matahari terbit di Sidoarjo |
Pukul enam pagi, kamipun meluncur ke Malang. Kali ini rombongan bertambah dengan putranya Bu Sakdiyah. Tapi mereka berangkat dengan mobil sendiri. Bahkan para pengurus Yayasan pindah mobil. Wah, kami yang kemarin sempat sungkan buat berkelakar jadi rame deh dalam minibus. Tapi karena diserang kantuk, ya kelakarnya kalah sama tidur. Waktu itu masih begitu pagi, Sidoarjo masih diselimuti kabut. Tapi kami sudah meluncur ke Kota Malang. Tepatnya ke Batu, buat wisata petik apel.
![]() |
| Nunggu Pak Sopir |
![]() |
| Selamat datang di kebun apel |
![]() |
| Apelnya manis |
Tapi tunggu dulu, kami mesti beli tiket dulu. Dua puluh ribu rupiah per orang, kami bebas memetik dan memakan buah apel sepuas kami. Namun untuk yang dibawa pulang mesti ditimbang dulu dan dibayar yach. Per kilo-nya 20.000 rupiah. Lebih mahal dari yang dipasar. By the way, jaminan kesegarannya tak tertandingi. Habis bayar tiket, kami dapat welcome drink berupa sariapel. Segar. Kami lalu diberi arahan, apel yang kayak apa yang mesti dipetik. Apel yang di sini jenis apel manalagi. Rasanya manis segar. Dan tahu nggak, ternyata yang enak tuh yang kulitnya bruntusan. Itu pertanda apel sudah tua. Bukannya yang masih mulus yach.
Sayang saat itu kebun sedang becek. Mungkin semalam turun hujan, wah. Licin juga jalannya. Mana waktu itu pakai gamis lagi. tahu gitu tadi pakai celana yach. Lha aku pikir kebun apel ini datar-datar saja seperti kebun strawberry. Tak tahunya menjanjak. Terasiring gitu. Mana licin lagi, tapi semangat deh, mau petik apel, kendati mesti angkat gamis tinggi-tinggi. Hihihi, don’t worry, pakai dalaman panjang lagi.
![]() |
| Bersama Dik Novi |
Wah, kami semangat petik apelnya. Sayang sekali nih, buah yang ada di jangkauan tangan kecil-kecil. Buah gedenya ada di pucuk, tak terjangkau. Ya iyalah, sudah pasti yang berada dalam jangkauan sudah diambil pengunjung yang lebih dulu. Tapi untungnya tuh Bu Tutik nemu kayu panjang, buat menjolok apel. Bu Zul sampai manjat-manjat buat nemuin buah yang gede-gede. Dan apel yang baru dari pohon ini rasanya memang renyah banget. Beda sama yang di pasar. Jadi semangat deh.
![]() |
| Pohon apel dengan buahnya yang menggiurkan |
![]() |
| Ngantuk cantik di perjalanan |
Selain beli apel, ada juga lho penjual bibit sayuran, satu renteng berisi aneka macam bibit sayuran. Dan harganya 15.000 saja. Next trip, ke Turen ya… Ke mana lagi kalau bukan ke Masjid Tiban
Bacaan sebelumnya di sini
Bacaan selanjutnya: di sini
Baca Selengkapnya....!
Senin, 14 Desember 2015
#Goes to Malang 1: Menunggu itu Melelahkan
![]() |
| Menunggu itu melelahkan |
Kami akan pergi bertiga belas. Delapan guru, tiga pengurus yayasan serta dua guru undangan. Sayangnya zarkasi kali ini tidak diikuti komplit oleh semua guru. Bu Musdalifah serta Maklah sebagai petugas kebersihan, tidak bisa ikut. Demikian pula Ibu Sunarsih, dari pengurus Yayasan Pendidikan Muslimat.
![]() |
| Nampang dulu ya, kendati kesal menunggu |
Kami berencana untuk berangkat pukul sepuluh pagi. Jadi semua anak baik dari kelompok A maupun kelompok B masuk pagi semua. Begitu anak-anak pulang, kami langsung bersiap. Bahkan beberapa tamu undangan sudah berdatangan. Sambil bercanda-canda kami menunggu minibus yang hendak mengantarkan perjalanan kami ke daerah Malang. Rencananya nanti kami akan mampir ke Tuban untuk ziarah ke tempatnya Sunan Bonang. Lalu ke Gresik mengunjungi makam Sunan Ampel. Habis itu rencananya kami mau ke Tanggulangin di Sidoarjo untuk belanja tas. Oh ya, rencananya nanti kami akan menghabiskan malam untuk beristirahat di rumah anak salah seorang pengurus Yayasan kami, yakni Bu Sakdiyah. Esok paginya baru melanjutkan perjalanan untuk berwisata di daerah Malang.
Wah, jadi kepikiran kalau Malang itu daerah tinggi. Jadi masing-masing dari kami tak lupa menyiapkan jaket tebal. Darpada ntar kedinginan. Itu sih rencana manisnya. Tak tahunya rencana yang sudah disusun dengan rapi bisa juga meleset lhoh.
![]() |
| Edisi melatih kesabaran |
Tunggu punya tunggu hingga waktupun berlalu. Jam mulai bergeser beranjak semakin siang. Namun minibus yang ditunggu tak kunjung datang. Waktu kru dari minibus dihubungi juga tidak bisa. Kami jadi gelisah juga. Jadi pergi gak ya. Soalnya sudah masuk waktu dhuhur. Itu sudah molor lebih dari dua jam. Sementara minibusnya juga belum datang. Pengurus Yayasan yang bersangkutan dengan pemesanan minibus pun mulai kebakaran jenggot. Aih, siapa yang nggak kesal coba, yah. Janjian jam sepuluh berangkat, masak sampai waktu dhuhur lewat, belum juga datang. Akhirnya kami sholat dhuhur dulu, sekalian buka bekal makan siang.
Dan tahu nggak jam berapa minibusnya datang? Jam 1! Bisa dibayangkan bagaimana payahnya kami menunggu. Sudah dandan okey, jadinya berantakan lagi. dan bisa dibayangkan omelan yang beruntun buat kru mnibus yang molor itu. Karena menunggu itu memang sangat melelahkan. Dan ternyata telah terjadi miss komunikasi antara kru minibus dengan makelarnya. Ini bukan kesalahan minibusnya. Karena memang mereka dipesan jam satu oleh sang makelar. Hadeuh.
Jadi langsung tancap gas deh, perjalanan ke Malang. Di langit awan hitam menggumpal. Namun kami berdoa semoga perjalanan berjalan dengan lancar. Walau kadang ditingkahi dengan gerimis. Dan karena waktu keberangkatan yang super molor, maka buyarlah rencana kami semula. Tujuan zarkasi ke Tuban dan Gresik yang rencananya dilakukan di awal keberangkatan ditukar besoknya kalau pulang. Karena Maghrib kami baru memasuki perbatasan Jawa Timur. Tadi terkena macet di daerah Kudus karena ada perbaikan jalan. Untungnya minibusnya cukup nyaman. Jadi kami bisa beristirahat selama perjalanan. Walaupun sopirnya kurang enak sih nyetirnya.
Jam sepuluh malam kami tiba di Sidoarjo. Dan kendati sudah malam, kami mampir ke Tanggulangin buat lihat-lihat tas. Sebagain besar toko sudah pada tutup. Tapi ya sekalian mampirlah. Kalau aku sih lihat-lihat doang. Rencananya perjalanan kali ini gak mau beli banyak oleh-oleh. Ogah repot bawanya. Dari rumah saja sudah bawa tiga tas, apa nggak tambah repot kalau borong banyak barang. Tapi lihat tas bagus-bagus dengan harga murah, bikin mata ijo juga. Tapi yes, kali ini aku menang. Bisa ngalahin keinginan mata ijo lihat tas murah dan bagus.
![]() |
| Nenteng barang bawaan ke minibus |
Puas lihat-lihat tas, kami melnajutkan perjalanan. Kali ini mobil berhenti lama. Tak tahunya nunggu jemputan dari putranya Bu Sakdiyah. Karena Bu Sakdiyah nih lupa rute jalan ke rumah anaknya. Maklumlah waktu itu malam hari. Dan ternyata kami menginap di Sidoarjo, bukan di Malang. Sampai rumah anaknya Bu Sakdiyah, sudah malam banget. Jam sebelas. Karena belum sholat Isya, kami sholat dulu berjamaah. Habis itu makan malam yang terlambat. Dan antri nunggu giliran untuk mandi. Banyak teman-teman yang nggak mandi. Tapi aku kagak bisa begitu. Kalau tak mandi alamat bakalan tak bisa tidur. Karena udah keringetan seharian. Jadi kendati cuaca lumayan dingin, dan airnya juga dingin, paksain buat mandi. Segar, bersih, baru bisa istirahat.
Psst, kami harus bangun pagi-pagi, karena kabarnya kota Malang sekarang sering macet. See U in the next trip, yach. Destinasi pertama, wisata petik apel.
Selanjutnya di sini
Baca Selengkapnya....!
Langganan:
Postingan (Atom)













































