Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan merupakan nomor penting yang wajib dmiliki oleh guru dan tenaga pendidikan di seluruh Indonesia. Melalu nomor sakti ini para PTK dapat mengikuti program-program yang diadakan oleh pemerintah seperti:
- Sertifikasi PTK
- Uji Kompetensi PTK
- Diklat PTK, dan
- Aneka Tunjangan PTK
Tanpa adanya NUPTK maka para PTK akan kehilangan hak-haknya. Dan untuk keperluan itu, akan diadakan pemutakhiran data yang bisa dilakukan oleh para PTK secara online. Jadi para PTK-lah yang mesti berperan aktif untuk melakukan pemutakhiran. Bagi PTK yang sudah memiliki NUPTK jika tidak melakukan pemutakhiran data maka akan dianggap tidak aktif.
Untuk melakukan pemutakhiran data bisa dilakukan dengan cara mengunduh formulir yang disediakan oleh BPSDMPK-PMP selaku pengelola NUPTK. Setelah mengunduh formulir di sini maka para PTK akan memperoleh akun untuk pemutakhiran data NUPTK yang bisa dilakukan setiap saat selama 24 jam secara online. Jadi kita tidak perlu lagi capek-capek menunggu orang diknas untuk mengurus data-data NUPTK kita.
Suatu kemajuan yang patut diacungi jempol. Tetapi sayangnya karena kurang sosialisasi, masih banyak PTK yang belum mengerti akan mekanisme baru dalam pemutakhiran NUPTK.
Untuk lebih jelasnya kunjungi langsung situsnya. Kunjungi juga akun ini. Ikuti langkahnya, dan semoga sukses.
Baca Selengkapnya....!
Jumat, 07 Juni 2013
[BUKU] Cerdas Sain 2

Alhamdulillah, akhirnya Buku Cerdas Sain 2 yang kutulis untuk Penerbit Gurita (lini dari Zikrul Hakim) terbit sudah. Buku itu diantarkan sales-nya langsung ke TK justru pada saat aku ijin tidak masuk karena mengurus khitannya anak lelakiku. Lima eks buku yang sangat aku nanti-nantikan. Walau waktunya jadi kurang tepat.
Buku itu sedianya aku ikutkan dalam berkas portofolio untuk lomba Guru Berprestasi Tingkat Jawa Tengah. Tapi karena masih dalam proses distribusi, akhirnya aku hanya mengirimkan dummy-nya saja. Mudah-mudahan bisa diterima dewan yuri.
Buku Cersa sain 2 merupakan buku panduan belajar untuk anak-anak TK kelompok B. Untuk kelompok A ditulis oleh Mbak Diyah Rahma. Buku ini diterbitkan oleh Gurita.
Merupakan buku paket untuk TK yang disesuaikan dengan Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Rangkaian materinya sangat menunjang proses pembelajaran di TK. Mengenalkan pada anak tentang sain permulaan. Ada eksperimen sederhana yang asyik. Dan cara-cara belajar yang menarik.
Dari buku ini anak bisa mengenal banyak hal. Mulai dari proses pertumbuhan,sifat cermin, macam-macam rasa, panas dan dingin, asal mula nasi, melengakpi puzzel, membedakan kasar dan halus, pencampuran warna, siang dan malam, sifat kaca pembesar, perkembangbiakan katak, mencari bayangan pohon, pengenalan waktu, alat gerak kendaraan, tetesan air, terapung dan tenggelam, dan masih banyak lagi.
Ilustrasinya juga menarik. Sehingga membuat anak tertarik untuk belajar.
Ayo jangan sampai ketinggalan. Baca Selengkapnya....!
Kamis, 06 Juni 2013
Sayembara Penghargaan Sastra Untuk Pendidik 2013
Teman-teman guru sekalian, ada lomba unik untuk para guru yang senang dengan sastra dan penulisan buku. Kali ini tentang Sayembara Penghargaan Sastra Untuk Pendidik Tahun 2013. Sejujurnya baru tahu tentang lomba ini. Dan kali ini istimewa karena lomba ini tidak hanya diperuntukkan bagi guru bahasa dan sastra saja, melainkan untuk semua guru.
Jangan lewatkan kesempatan ini. Lihat pengumumannya pada gambar ya. Selamat berlomba.

Baca Selengkapnya....!
Jangan lewatkan kesempatan ini. Lihat pengumumannya pada gambar ya. Selamat berlomba.

Baca Selengkapnya....!
Rabu, 05 Juni 2013
Sayembara Penulisan Novel Serial Muslimah Rainbow Stories
KETERANGAN TAMBAHAN:
Mohon karya di-cc juga ke email: luttfi.fatahillah22@gmail.com
Untuk informasi lebih lanjut bisa email ke general.grafindo@grafindo.co.id dan di-cc ke email luttfi.fatahillah22@gmail.com Baca Selengkapnya....!
Minggu, 02 Juni 2013
[Resensi Buku] FIRST NOVEL MENARI BERSAMA HIU
Senang sekali rasanya melihat buku saya First Novel Menari Bersama Hiu diresensi untuk diikutkan dalam Lomba Resensi Buku yang diselenggarakan oleh Forum Penulis Bacaan Anak.
Terima kasih untuk Bunda Dwi Dira Rahmawati yang telah berkenan meresensi buku saya.
Ini adalah Resensi yang beliau tulis. Saya copas langsung dari blog beliau.
[Resensi Buku] Menari Bersama Hiu
By : Dwi Dira Rahmawati

Judul : Menari Bersama Hiu
Penulis : Sri Wahyuti
Penerbit : Tiga Ananda
Tebal buku : 63 halaman
Cetakan : I, Februari 2013
ISBN : 978-602-7690-67-7
Cerita ini unik, karena mengangkat latar belakang kehidupan nelayan di perairan Karimunjawa. Imran, tokoh utamanya adalah anak seorang nelayan yang hidup sederhana. Saat membuka bab pertama, penulis mulai membangun konflik cerita.
... Kalau boleh memilih, ia lebih suka berada di pantai seharian. Menurutnya, sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Di sana ia tidak memimiliki teman. ... (hal. 6 -8)
Hati saya tersentuh saat membaca paragraf ini.
Imran membuka tudung saji. Sepiring nasi aking dengan lauk ikan asin dan sambal terasi. Tak lupa Imran berdoa. (hal.11)
Ejekan Yanto memancing amarah Imran, membuatnya semakin tak tahan berada di sekolah. Dari sini awal pertemuannya dengan hiu tutul yang selanjutnya menjadi sahabat barunya.
Konflik kembali muncul, Imran dikhianati Tono, teman baiknya di sekolah. Yang mengecewakan, justru dari Tono lah teman-teman lainnya mengetahui keberadaan hiu tutul. Dan sejak saat itu hiu tutul menghilang. Ke manakah ia pergi?
Kehilangan sahabat membuat Imran sedih. Ia menjadi lebih pendiam. Imran menuangkan kerinduannya pada hiu tutul dalam bentuk tulisan yang diikutsertakan dalam lomba mengarang. Dalam tulisannya, Imran mengungkapkan harapan-harapannya, mengajak orang lain agar tidak lagi memburu hiu untuk diambil siripnya.
Berita gembira dituangkan dalam bab 7 (hal 52). Imran memenangkan lomba mengarang. Piala dan hadiah berupa uang membuat Imran senang. Tapi, Yanto malah kecewa, padahal teman-temannya bangga dengan prestasi Imran. Kenapa ya, Yanto kecewa?
Pada bab akhir (hal. 58) ketegangan kembali memuncak. Yanto semakin marah saat ia menyaksikan hiu tutul dengan mata kepalanya. Yanto melempar batu ke arah hiu dan Imran, sampai tubuhnya tercebur, padahal ia tak bisa berenang. Apa yang terjadi selanjutnya? Temukan lanjutan kisahnya dengan membaca buku ini.
Penulis mampu menyampaikan pesan bahwa kita harus bisa mensyukuri apa yang kita miliki, selalu memaafkan, dan berbuat baik kepada siapa saja, termasuk kepada teman yang memusuhi kita.
Menurut saya, sebaiknya penulis meninggalkan pesan bahwa tidak semua hiu bisa berteman dengan manusia. Karena pada kesempatan berbeda, anak saya mendapat informasi dari berita TV tentang penyelam yang diserang hiu. Saya pun harus pandai menjawab pertanyaannya, “Kenapa hiu itu menggigit penyelam, tidak sama seperti hiu tutul?
Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi Forum Penulis Bacaan Anak
Sungguh menarik. Terima kasih Bunda Dwi Dira untuk masukan dan juga resensinya. Mudah-mudahan sukses lombanya. :) Baca Selengkapnya....!
Terima kasih untuk Bunda Dwi Dira Rahmawati yang telah berkenan meresensi buku saya.
Ini adalah Resensi yang beliau tulis. Saya copas langsung dari blog beliau.
[Resensi Buku] Menari Bersama Hiu
By : Dwi Dira Rahmawati

Judul : Menari Bersama Hiu
Penulis : Sri Wahyuti
Penerbit : Tiga Ananda
Tebal buku : 63 halaman
Cetakan : I, Februari 2013
ISBN : 978-602-7690-67-7
Cerita ini unik, karena mengangkat latar belakang kehidupan nelayan di perairan Karimunjawa. Imran, tokoh utamanya adalah anak seorang nelayan yang hidup sederhana. Saat membuka bab pertama, penulis mulai membangun konflik cerita.
... Kalau boleh memilih, ia lebih suka berada di pantai seharian. Menurutnya, sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Di sana ia tidak memimiliki teman. ... (hal. 6 -8)
Hati saya tersentuh saat membaca paragraf ini.
Imran membuka tudung saji. Sepiring nasi aking dengan lauk ikan asin dan sambal terasi. Tak lupa Imran berdoa. (hal.11)
Ejekan Yanto memancing amarah Imran, membuatnya semakin tak tahan berada di sekolah. Dari sini awal pertemuannya dengan hiu tutul yang selanjutnya menjadi sahabat barunya.
Konflik kembali muncul, Imran dikhianati Tono, teman baiknya di sekolah. Yang mengecewakan, justru dari Tono lah teman-teman lainnya mengetahui keberadaan hiu tutul. Dan sejak saat itu hiu tutul menghilang. Ke manakah ia pergi?
Kehilangan sahabat membuat Imran sedih. Ia menjadi lebih pendiam. Imran menuangkan kerinduannya pada hiu tutul dalam bentuk tulisan yang diikutsertakan dalam lomba mengarang. Dalam tulisannya, Imran mengungkapkan harapan-harapannya, mengajak orang lain agar tidak lagi memburu hiu untuk diambil siripnya.
Berita gembira dituangkan dalam bab 7 (hal 52). Imran memenangkan lomba mengarang. Piala dan hadiah berupa uang membuat Imran senang. Tapi, Yanto malah kecewa, padahal teman-temannya bangga dengan prestasi Imran. Kenapa ya, Yanto kecewa?
Pada bab akhir (hal. 58) ketegangan kembali memuncak. Yanto semakin marah saat ia menyaksikan hiu tutul dengan mata kepalanya. Yanto melempar batu ke arah hiu dan Imran, sampai tubuhnya tercebur, padahal ia tak bisa berenang. Apa yang terjadi selanjutnya? Temukan lanjutan kisahnya dengan membaca buku ini.
Penulis mampu menyampaikan pesan bahwa kita harus bisa mensyukuri apa yang kita miliki, selalu memaafkan, dan berbuat baik kepada siapa saja, termasuk kepada teman yang memusuhi kita.
Menurut saya, sebaiknya penulis meninggalkan pesan bahwa tidak semua hiu bisa berteman dengan manusia. Karena pada kesempatan berbeda, anak saya mendapat informasi dari berita TV tentang penyelam yang diserang hiu. Saya pun harus pandai menjawab pertanyaannya, “Kenapa hiu itu menggigit penyelam, tidak sama seperti hiu tutul?
Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi Forum Penulis Bacaan Anak
Sungguh menarik. Terima kasih Bunda Dwi Dira untuk masukan dan juga resensinya. Mudah-mudahan sukses lombanya. :) Baca Selengkapnya....!
Langganan:
Postingan (Atom)
