Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan

Sabtu, 13 November 2010

DISEMINASI PEMENANG LOMBA KARYA TULIS ILMIAH INOVASI PEMBELAJARAN


Hari ini Sabtu, 13 November 2010 ada undangan diseminasi pemenang lomba Karya Tulis Ilmiah Inovasi pembelajaran guru yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Tengah. Sedianya kemarin saya pergi ke Dinas Kabupaten untuk meminta Surat Tugas. Karena untuk rencana kedepan segala aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan guru harus disertai surat tugas. Namun ternyata Dinas Pendidikan Kabupaten tidak bisa menerbitkan surat Tugas yang saya minta karena belum ada surat tembusan dari Dinas Pendidikan Jawa Tengah. Alias suratnya belum sampai. Karena seperti keterangan Bapak Sutarmanto dari Diknas Jateng, surat undangan tersebut sudah dikirim ke masing-masing Diknas Kabupaten.

Daripada menunggu surat tersebut, akhirnya orang Dinas Kabupaten menyarankan kita untuk berangkat saja. Karena sebagai peserta lomba otomatis kita sudah diundang. Kok bisa belum sampai ya, padahal jarak Semarang-Demak kan dekat. Lalu bagaimana dengan kota-kota lain yang lebih jauh dari Demak ya?

Ini khan sudah jaman modern, mungkin akan lebih afdol kalau dikirimkan lewat fax, misalnya. Jadi tidak ada lagi miss komunikasi karena surat yang terlambat sampai. Begitu bukan, guys?

So, pagi ini rencana aku berangkat naik bis aja. Kasihan suamiku kalau harus antar jemput tiap kali ada acara ke LPMP. Nekat aja. Walau belum pernah naik kendaraan umum ke LPMP. Nah waktu mau siap-siap berangkat nih, BU Nurchasanah yang kemarin juara 3 dari Purwosari Sayung sms, ke LPMP naik apa? Akhirnya kamipun janjian mau sama-sama ke sana. Asyik nih ada temannya. Kita janjian ketemu di pos polisi dekat terminal terboyo. Jam 6 aku berangkat eh baru jam 7 aku sampai di tempat yang dijanjikan. Habisnya bis berjalan pelan banget. Mungkin sambil nyari penumpang kali ya? Sampai di Terboyo, eh Bu Nur dah ada di sana. Karena lama gak ada bis jurusan Banyumanik yang bisa ditumpangi dan karena keraguan karena sama-sama belum pernah ke LPMP pakai kendaraan umum, akhirnya Bu Nur memutuskan naik taxi aja, biar gak usah mikir. Lagian baru dapat hadiah lagi. Wah trim ya,alhamdulillah kecipratan berkah kemenangannya Bu Nur.

Sampai di LPMP kami langsung naik ke Gedung B lantai 3, tempat desiminasi diadakan. Tapi ternyata masih sepi. Setelah tanya-tanya, eh tempat registrasi ada di lantai 1 di sekretariat. Jadi yah turun lagi dong. It,s okey, memang belum olahraga sih. Dan betul lho, dari Demak tidak ada perwakilan yang dikirim. Cuma kita-kita yang kemarin ikut lomba saja yang datang. Karena memang undangannya belum sampai. Eman-eman.

Acara diseminasi dibuka pada pukul 09.00 oleh Kepala Bidang PPTK, Ibu Aufrida Kriswati. Adapun narasumber yang diundang sebagai penyelaras makalah antara lain Bapak Prof. Dr. DYP. Soegiyarto dari Unnes, Bapak Prof. Dr. Slameto dari UKSW, dan lain-lain.

Setelah pembukaan acara dilannjutkan dengan diseminasi yang dibagi antara Dikdas dan Dikmen. Dikdas (TK,SD,SMP) pindah ke Aula H di Gedung H, sedangkan Dikmen (SMA, SMK) tetap di Aula Gedung B. Acara diseminasi berjalan lancar yang diawali oleh Ibu Titik Budi Lestari dari TK Atraktif DPW UNS, Jaten Karanganyar yangkemarin tampil sebagai juara 1. Penampilan Bu Titik sangat OK. Hanya menurut Pak DYP kurang greget. Masih terkesan seperti saat penilaian. Yah maklumlah Prof, kan belum terbiasa. Tapi jempol dua deh buat Bu Titik.

Sementara acara diseminasi berlangsung, di luar cuaca cukup mendung. Kami sempat khawatir kalau-kalau turun hujan. Tapi untunglah hanya gerimis kecil-kecil. Namun dinginnya AC ruang pertemuan terasa mengigilkan kulit. Padahal sudah pakai jaket tetapi tetap terasa dingin. Maklumlah, wong Ndeso, tidak terbiasa dalam ruangan ber-AC.

Setelah para pemateri menyampaikan makalahnya, giliran para penyelaras menampilkan kebolehannya. Prof. DYP menyoroti tentang klarifikasi substansi karya tulis. Sedangkan Prof. Slameto mengkritisi maslah sistematika penyusunan karya tulis. Prof DYP mengatakan kalau kemasan Karya Ilmiah para panelis kurang tajam. Dalam penyampaian kurang menonjolkan sisi inovatif yang seharusnya dipromosikan sebagai krya pemenang. Disamping itu Prof. DYP juga menyoroti masalah kurangnya analisis ilmiah dari karya tulis semua peserta lomba.

Sedangakn Prof Slameto mengupas masalah sistematika penulisan Karya Ilmiah. Dengan kerancuan penerapan masa-masa siklus dalam pembelajaran sehari-hari. Prof mengatakatan kalau PTK itu tidak boleh mengobrak-abrik program sekolah. Yah memang masih harus banyak belajar nih.

Karena sudah pukul 12 lewat sepuluh maka acara diseminasi hari itu ditutup. Setelah makan siang, sertifikatpun dibagikan. Dapat juga uang pesangon, gantinya transport. Sampai ketemu lagi….
Baca Selengkapnya....!

Jumat, 12 November 2010

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MEMBACA PADA ANAK USIA DINI


Pada era globalisasi seperti sekarang ini telah terjadi kemajuan yang sangat pesat pada bidang teknologi informasi. Kemajuan itu menuntut dukungan budaya baca tulis, yaitu perwujudan perilaku yang mencakup kemampuan, kebiasaan, kegemaran, dan kebutuhan baca tulis.

Namun hingga saat ini budaya baca tulis belum sepenuhnya berkembang di masyarakat Indonesia. Karena itu jika bangsa Indonesia ingin berhasil dalam pembangunan di masa depan, pengembangan budaya baca tulis mutlak diperlukan.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah, kapan kemampuan membaca dan menulis mulai diajarkan? Jawaban pertanyaan itu sebenarnya masih berupa polemik. Bagaimana tidak? Sebagian ahli mengatakan membaca dan menulis baru dapat diajarkan setelah anak masuk SD sebagaimana kebijakan kurikulum TK sekarang ini. Tetapi banyak juga ahli yang mengatakan bahwa membaca dan menulis harus diajarkan sejak dini.

Durkin (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.2) telah mengadakan penelitian tentang pengaruh membaca dini pada anak-anak. Dia menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif pada anak-anak yang diajar membaca dini. Steinberg (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.2) juga mengemukakan bahwa anak-anak yang mendapatkan pelajaran membaca dini umumnya lebih maju di sekolah. Hal tersebut masih diperkuat oleh pendapat Moleong (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.3) yang mengatakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak TK adalah kemampuan membaca dan menulis.

Jadi pengembangan kemampuan membaca dan menulis di TK dapat dilaksanakan selama masih dalam batas-batas aturan praskolastik dan sesuai dengan karakteristik anak, yakni belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar.

Untuk mengajarkan kemampuan membaca pada anak TK, guru perlu mengetahui tahapan perkembangan kemampuan membaca pada anak. Menurut Cochrane Efal (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.9), perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak usia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap yakni:

1. Tahap Fantasi (Magical Stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir bahwa buku itu penting dengan cara membolak-balik buku. Kadang anak juga suka membawa-bawa buku kesukaannya. Pada tahap ini orang tua hendaknya memberikan model atau contoh akan arti pentingnya membaca dengan cara membacakan sesuatu untuk anak, atau membicrakan tentang buku bersama anak.
2. Tahap Pembetukan Konsep Diri (Self Concept Stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan dirinya dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku. Orang tua perlu memberikan rangsangan dengan jalan membacakan buku pada anak. Berikan akses pada anak untuk memperoleh buku-buku kesukaannya.
3. Tahap Membaca Gambar (Bridging Reading Stage)
Anak menyadari cetakan yang tampak dan mulai dapat menemukan kata yang sudah dikenal. Orang tua perlu membacakan sesuatu kepada anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada anak melalui lagu atau puisi. Dan berikan kesempatan membaca sesering mungkin.
4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take-off Reader Stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak mulai tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan seperti membaca kardus susu, pasta gigi dan lain-lain. Pada tahap ini orang tua masih harus membacakan sesuatu pada anak. Namun jangan paksa anak untuk membaca huruf demi huruf dengan sempurna.
5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stage)
Anak dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Orang tua dan guru masih harus tetap membacakan buku pada anak. Tindakan tersebut dimaksudkan dapat mendorong anak untuk memperbaiki bacaannya. Bantu anak memilih bacaan yang sesuai.

Huruf dan kata-kata merupakan suatu yang abstrak bagi anak-anak, sehingga untuk mengenalkannya guru harus membuatnya menjadi nyata dengan mengasosiasikan pada hal-hal yang mudah diingat oleh anak. Pertama kali mengenalkan huruf biasanya guru memusatkan hanya pada huruf awal suatu kata yang sudah di kenal anak. Dan agar tidak ada kesan pemaksaan “belajar membaca” pada anak maka harus dilakukan dengan menyenangkan.

Sebelum mengajarkan membaca pada anak, dasar-dasar kemampuan membaca atau kemampuan kesiapan membaca perlu dikuasai anak terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengetahui apakah anak sudah siap diajarkan membaca. Kemampuan kesiapan membaca yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan membedakan auditorial.
Anak-anak harus memahami suara-suara umum di lingkungan mereka. Mereka harus memahami suara yang dihasilkan oleh konsonan atau vokal.
2. Kemampuan diskriminasi visual.
3. Kemampuan membuat hubungan suara-simbol.
4. Kemampuan perseptual motoris.
5. Kemampuan bahasa lisan.
6. Membangun sebuah latar belakang pengalaman.
7. Interpretasi gambar.
8. Progesi dari kiri ke kanan.
9. Kemampuan merangkai.
10. Penggunaan bahasa mulut.
11. Pengenalan melihat kata.
12. Lateralisasi.
13. Koordinasi gerak.

Tanda-tanda kesiapan membaca:
1. Apakah anak sudah dapat memahami bahasa lisan?
2. Apakah anak sudah dapat mengujarkan kata-kata dengan jelas?
3. Apakah anak sudah dapat mengingat kata-kata?
4. Apakah anak sudah dapat mengujarkan bunyi huruf?
5. Apakah anak sudah menunjukkan minat membaca?
6. Apakah anak sudah dapat membedakan bunyi dengan baik?

Banyak metode yang bisa diterapkan dalam upaya mengenalkan huruf diantaranya metode bercerita, tanya jawab serta permainan dengan kartu bergambar.

Sourche:
-Nurbiana Dhieni, (2005) Metode Pengembangan Bahasa : Jakarta, UT
-Depdiknas (2000), Permainan Membaca dan Menulis : Jakarta.
Baca Selengkapnya....!

GREBEG BESAR TELAH MULAI


Telah menjadi tradisi di kota Demak, bahwa tiap memasuki bulah Haji Dzulhijah atau lebih terkenal dengan nama Besar maka di kota Demak akan ada keramaian yang biasa disebut Grebeg Besar. Acara yang dimulai jauh sebelum Lebaran Haji itu ramai diisi oleh berbagai macam pasar rakyat dan puncaknya akan ada kirab atau upacara pencucian pusaka keraton Demak yang akan diadakan di Kadilangu.

Pasar rakyat Grebeg Besar 2010 secara resmi dibuka Bupati Demak Drs H Tafta Zani MM, Jumat (29/10) malam. Sebelumnya, terlebih dulu dilakukan ziarah di makam Sunan Kalijaga dan Sultan-Sultan Demak.

“Tradisi Grebeg Besar merupakan ikon budaya masyarakat Kota Wali yang wajib dilestarikan. Tradisi ini menjadi agenda pariwisata tahunan yang berpotensi meningkatkan kesejehteraan masyarakat Demak,” kata bupati, disela acara pembukaan pasar rakyat.

Setiap tahun, Kabupaten Demak menyelenggarakan kegiatan Grebeg Besar yang rutin dilakukan dalam rangka memelihara kebudayaan leluhur. Kegiatan tersebut mampu membangkitkan semangat dan kebanggaan warga Kabupaten Demak, karena pada saat itu, terpancar kejayaan Kerajaan Demak pada masa lalu.

Catatan sejarah Kabupaten Demak memang tidak bisa lepas dari perjuangan para Wali Sanga sebagai penyebar agama Islam di pulau Jawa yang melakukan aktivitasnya pada abad XV. Figur utamanya adalah Sultan Fatah dan Sunan Kalijaga yang diakui merupakan tokoh besar dan berpengaruh dalam lintas sejarah Kabupaten Demak. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian ada beragam acara dan kegiatan ritual yang diperkenalkan oleh kedua tokoh itu masih berlangsung sampai saat ini dan menjadi semacam ritual yang selalu di nantikan orang, tidak hanya oleh warga Kota Wali sendiri tetapi juga oleh masyarakat luar daerah.

Menurut data sejarah, tradisi grebeg besar sebenarnya pada awalnya tidak hanya sekali setahun pada saat Idul Adha. Semula ada empat Grebeg Besar, yaitu Grebeg Maulid, Grebeg Dal, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar. Kegiatan yang masih berlangsung adalah Grebeg Besar yang sampai sekarang masih menjadi bagian tradisi bernilai jual.

Sementara itu, di luar Kabupaten Demak juga dikenal perayaan sejenis. Solo, Yogyakarta, dan Cirebon, dengan latar belakang sejarah masing-masing daerah yang berbeda, tetapi pada intinya adalah bentuk penghargaan terhadap para pendahulu yang telah berjasa kepada daerah ini.

Sebuah fenomena yang sangat menarik karena merupakan suatu gambaran yang nyata peristiwa menyatunya pejabat dengan rakyat dalam satu tempat sehingga tampak sebuah kerukunan dan kebersamaan langkah untuk menggapai cita- cita.

Bila zaman dahulu diadakan ritual mampu menghilangkan marabahaya, maka untuk saat ini kita perlu mengubah pandangan tersebut menjadi sebuah konsep yang modern, yaitu mencari alternatif penyelesaian masalah dengan cara koordinasi dan konsolidasi pemerintah dengan masyarakat. Ini bisa menjadi lebih baik dan membawa kemajuan Kota Wali. Betapa besar arti Grebeg Besar bagi Kabupaten ini.

Watak Religius Inilah watak religius masyarakat Kabupaten Demak yang selalu menghormati ajaran dan tradisi leluhur, khususnya para Wali tentang keimanan dan ketaqwaan. Bukan hanya sekadar menjalankan ajaran wajib dalam agama tetapi juga tradisi dan budaya Islami yang di kembangkan para Wali untuk menarik perhatian dan membawa masyarakat waktu itu untuk mengikuti ajaran yang mereka sebarkan. Seandainya pelaksanaannya tidak bersamaan dengan Idul Adha mungkin tidak seramai sekarang.

Grebeg Besar bagi pemerintah Kabupaten Demak juga memiliki arti penting, yakni sebagai salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah), melalui biaya sewa kapling-kapling tanah yang disewakan selama perayaan Grebeg. Hal ini ditambah pemasukan dari hasil penjualan tiket masuk ke area keramaian Grebeg Besar.

Sementara itu, bagi warga Kota Wali, Grebeg Besar merupakan kesempatan yang luas untuk mendapatkan tambahan penghasilan dengan keterlibatannya dalam kegiatan, seperti mempromosikan aneka hasil pertanian, kerajinan serta industri kecil lainnya. Demikian besar arti Grebeg Besar bagi Kabupaten Demak sehingga kita perlu membuat inovasi-inovasi kreatif agar mampu meningkatkan kualitasnya. Perubahan- perubahan untuk perbaikan perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan Kabupaten Demak. Perlu daya tarik agar mampu membangkitkan kebanggaan setiap warga.

Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.

Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga, bahkan salah satu wali tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.

Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saati ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.

Prosesi Grebeg Besar Demak
• Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak & Sunan Kalijaga
Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, masing-masing beserta istri/suami, ke makam Sultan-Sultan Demak dilingkungan Masjid agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 WIB; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.
• Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah
Untuk meramaikan perayaan Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah digelar pasar malam rakyat yang dimulai kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum hari raya Idul Adha dan dibuka oleh Bupati Demak setelah ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga.
Pasar malam tersebut dipenuhi dengan berbagai macam dagangan, mulai dari barang barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan mainan anak, hasil kerajinan, makanan/minuman, permainan anak-anak dan juga panggung pertunjukkan /hiburan.
• Selamatan Tumpeng Sanga
Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Adha bertempat di Masjid Agung Demak. Sebelumnya kesembilan tumpeng terebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak. Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga. Selamatan ini dilaksanakan dengan harapan agar seluruh masyarakat Demak diberikan berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT. Acara selamatn tersebut diawali dengan pengajian umum diteruskan dengan pembacaan doa. Sesudah itu kepada para pengunjung dibagikan nasi bungkus. Pembagian nasi bungkus tersebut dimaksudkan agar para pengunjung tidak berebut tumpeng sanga. Sejak beberapa tahun terakhir tumpeng sanga tidak diberikan lagi kepada para pengunjung dan sebagai gantinya dibagikan nasi bungkus tersebut. Pada saat yang sama di Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa, yaitu Selamatan Ancakan, selamatan terebut bertujuan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh anggota Panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan lancar tanpa halangan suatu apapun juga serta untuk menghormati dan menjamu para tamu yang bersilaturahmi dengan sesepuh.
• Slolat Ied
Pada tanggal 10 Dzulhijah Masjid Agung dipadati oleh umat Islam yang akan melaksanakan Sholat Ied, pada saat-saat seperti ini Masjid Agung Demak sudah tidak dapat lagi menampung para jamaah, karena penuh sesak dan melebar ke jalan raya, bahkan sebagian melaksanakan sholat di alun-alun. Pada kesempatan tersebut Bupati Demak beserta Muspida melaksanakan sholat di Masjid Agung Demak dan dilajutkan dengan penyerahan hewan qurban dari Bupati Demak kepada panitia.
• Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga
Setelah selesai Sholat Ied di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk. Konon Kutang Ontokusumo adalah berujud ageman yang dikiaskan pegangan santri yang dipakai sunan kalijaga setiap kali berdakwah. Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat sunan kalijaga sebagai berikut””agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan engkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise uku kukut, agemanku jamas ana.” Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.
Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan “Manunggale kawula lan gusti”, yang dibawakan oleh 9 (sembilan) remaja putri. Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak. Bersamaan dengan itu Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.

Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dilaksanakan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Kalijaga Kalijaga. Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran agama Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebar luaskan oleh Sunan Kalijaga adalah benar. Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati.

Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar Demak.

Sumber : Demak.go.id
Baca Selengkapnya....!

Kamis, 11 November 2010

MENUNGGU, HAL YANG PALING MENJEMUKAN (DARI FINAL LOMBA KTI PEMBELAJARAN JAWA TENGAH)


Menunggu, benar-benar hal paling membosankan dan menjemukan yang harus dialami setiap orang. Hal tersebut aku alami bersama teman-teman sesama finalis lomba KTI Pembelajaran yang berlangsung pada tanggal 8 sampai dengan 11 November 2010 di LPMP Jawa Tengah. Bagaimana tidak? Untuk mempresentasikan hasil karya kita, kita harus menunggu selama seharian dalam ketidakpastian. Sesuatu yang menguras energi dan sangat melelahkan. Membuyarkan konsentrasi dan menurunkan stamina. Apalagi di tengah kondisi cuaca yang diterpa hujan lebat dan gemuruh halilintar yang meremangkan bulu roma, sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan.
Acara final Lomba KTI Pembelajaran dibuka pada hari Senin tanggal 8 November 2010 dibuka secara resmi oleh Ibu Aufrida Kriswati, Kepala Bidang PPTK Diknas Jateng, mewakili Bapak Kunto selaku Kepala Dinas Pendidikan Jateng. 

Di sini telah berkumpul sebanyak 30 finalis dari masing-masing jenjang sekolah yang dilombakan, yakni dari TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Total ada 150 finalis. Mereka ini merupakan peserta yang lolos seleksi pada babak pertama. Dengan menyisihkan para peserta lainnya. Total pengirim naskah ada 308. Dari TK ada 44 naskah yang masuk, dari SD 80 naskah, SMP 84 naskah, SMA 73 naskah dan dari SMK 31 naskah.

Untuk jenjang TK rupa-rupanya akan ada pertarungan seru antar juara. Karena kebetulan para mantan juara tumpah ruah di sini. Ada Ibu Ria Winanti, pemenang pertama KTI tahun 2009, ada Ibu Titiek Budi Lestari juara 2 berturut-turut tahun 2008 dan 2009, ada Ibu Septriwi Antasari guru berprestasi nasional, ada Ibu Heradini Faizah, pemenang ketiga tahun 2008 serta finalis LKG Nasional tahun 2008, ada Ibu Nur Chasanah dan Ibu Monika Mardiana yang malang melintang di Gupres, dan masih banyak nama-nama para Gupres lainnya seperti Ibu Widji, ada Bu Rulli dan Bu Enno dari Karanganyar yang selalu kompak dan selalu masuk sepuluh besar, ada juga penulis FLP, dan masih banyak lagi.
           
Presentasi dilakukan pada hari Selasa, 9 November 2010 di ruang Lab Matematika untuk kategori guru TK. Dengan kriteria penilaian meliputi teknik pemaparan, ketepatan menjawab saat wawancara, dan penguasaan materi. Presentasi dilakukan secara bergiliran dengan cara diundi. Yakni peserta yang telah maju mengambil undian untuk peserta berikutnya. Sungguh bukan undian yang fair kukira. Sistem ini sangat tidak menguntungkan terutama bagi peserta yang memperoleh jatah undian terakhir. Bagaimana tidak? Karena peserta yang belum mendapat giliran maju harus menunggu seharian. Dan itu sangat menguras energi dan stamina. Bisa-bisa persiapan yang telah dilakukan hilang entah kemana karena konsentrasi yang telah buyar. Akan lain halnya kalau peserta sudah mengerti urutan keberapa dia akan presentasi. Setidaknya bisa mengurangi sedikit ketegangan.
                                                                          
Kemudian pemberian peringkat sebelum final dilakukan juga bisa mengurangi semangat juang para peserta. Harusnya biar panitia saja yang tahu urutan peringkat sebelum final. Jadi masing-masing peserta akan sama-sama datang dengan semangat juang yang tinggi untuk menang. Biarlah semua menjadi surprize. Lha kalau peringkat sudah disusun, kasihan yang berada di peringkat bawah. Semangat sudah kendor sebelum berjuang. Maaf, ini hanya sebuah masukan.
                                                                                                   
Dalam perlombaan menang dan kalah merupakan hal yang biasa terjadi. Dan para pemenang tentulah yang terbaik yang telah terpilih. Selamat untuk para pemenang yang semuanya memang hebat. Di bawah ini adalah nama-nama pemenang untuk kategori Taman Kanak-Kanak:
1. Titiek Budi Lestari, S.E, A.Ma. Pd. Guru TK Widya Putra DWP-UNS Jaten Karanganyar.
2. Septriwi Antasari, S.Pd. Guru TK Al Azhar 16 Playgroup and Kindergarten Islam Bilingual, Cilacap.
3. Nur Chasanah, S.Pd. Guru TK Purwosari Sayung Demak.

Masing-masing pemenang memperoleh Piala, Piagam Penghargaan, dan uang pembinaan dengan besaran 10 juta rupiah untuk pemenang pertama, 7,5 juta rupiah untuk pemenang kedua, dan 5 juta rupiah untuk pemenang ketiga. Sedangkan untuk para peserta yang belum juara memperoleh piagam penghargaan dan uang saku pengganti transport.

Para juara 1 dari masing-masing kategori akan didesiminasikan pada hari Sabtu tanggal 13 November 2010 di LPMP Jateng yang akan dihadiri seluruh peserta ditambah tamu undangan.Mudah-mudahan aku bisa ikut hadir.

Untuk tahun ini Demak mewakilkan tiga orang juara, masing-masing dari TK, SD, dan SMK. Sekali lagi selamat untuk para pemenang. Mudah-mudahan tahun depan bisa bertemu lagi. Buat teman-teman yang belum menang, yuk belajar lagi. Biar tambah teman dan bisa saling berbagi pengalaman.

Salam Persahabatan.
Baca Selengkapnya....!

Senin, 08 November 2010

DARI LOMBA CD INTERAKTIF PEMBELAJARAN DI LPMP JAWA TENGAH


Setelah usai final CD Interaktif pembelajaran yang diselenggarakan pada tanggal 3 sampai 4 November 2010 di LPMP Jawa Tengah, baru sekarang sempat nengok blog. Banyak sekali pengalaman dan ilmu yang baru yang aku peroleh selama dua hari mengikuti kegiatan final lomba pembuatan CD Interaktif pembelajaran. Dan tentu saja ketemu teman-teman baru dari seantero Jawa Tengah yang sangat mengasyikkan. Banyak pengalaman yang rasanya hendak segera dibagi. Namun karena kesibukan dan keterbatasan waktu, hal tersebut belum bisa kulakukan.
Kegiatan lomba hari itu dibuka pada pukul 10 pagi oleh Kepala LPMP Jawa Tengah Bapak Dr. Makhali. Menurut beliau ternyata lomba CD Interaktif yang diselenggarakan LPMP tiap tahun itu tidak hanya menarik minat para guru di Jawa Tengah namun juga sampai kepada para guru-guru dari luar Jawa Tengah. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya permintaan yang masuk dari guru-guru di luar Jawa Tengah untuk dapat mengikuti Lomba Pembuatan Multimedia berbasis komputer. Namun Pak Makhali mengatakan kalau LPMP tetap comith pada tujuan semula.


Sampai hari terakhir pendaftaran yakni tanggal 23 Oktober telah masuk naskah sebanyak 275 buah. Namun hanya 176 peserta yang akan dipanggil mengikuti seleksi final. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu peserta yang beruntung.

Seperti niat semula untuk mencari pengalaman, jadi aku berusaha tampil tanpa beban. Dan ternyata karya teman-teman bagus-bagus semua. Penjurian dilaksanakan secara terbuka, sehingga semua peserta bisa mengetahui kelemahan CD pembelajaran ang dibuat. Jadi kita bisa sama-sama belajar. Apalagi para juri ini orang-orang yang sangat berkompeten dalam bidang Multimedia. Ditambah lagi mereka tidak pelit dalam berbagi ilmu dan tip-tip untuk perbaikan CD yang tengah ditampilkan. Jadilah Lomba CD interaktif ini benar-benar merupakan sesuatu yang sangat berarti. Jadi ingin mencoba lagi.

Dan setelah melalui penjurian yang lumayan panjang dan melelahkan, karena kita para peserta harus mengikuti semua sesi sampai selesai, akhirnya tiba juga hari final. Di mana dari masing-masing jenjang TK/SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MAK, terpilih 5 besar sebagai finalis untuk memperebutkan juara 1,2, dan 3. Lagipula sayang kalau ketinggalan pemutaran CD milik teman-teman. Kita tidak bisa belajar. Jadi kita ikuti semua sampai selesai. Alhamdulillah, Demak mengirimkan dua wakilnya untuk final, yakni Bu Wahyuningsih dari SDN Batursari 5 Mranggen dan Bapak Mulyo Utomo dari SMPN 3 Demak.

Acara final dilaksanakan di aula utama dengan disaksikan seluruh peserta dan dinilai oleh semua juri yang berjumlah 9 orang. Wah, persiapan mental banget tuh. Akhirnya dalam suasana hujan deras mengguyur kawasan LPMP final CD interaktif selesai juga.

Di bawah ini adalah nama-nama finalis yang keluar sebagai juara dari setiap jenjang yang diperlombakan:
Jenjang TK/SD:
1. Widhi Astiono dari Kendal.
2. Suryanto.
3. Nur Anisah dari TK Nasima Semarang.
Jenjang SMP/MTs:
1. Feri Adi K
2. Yuka Adi Kristianto
3. Mulyo Utomo dari SMPN 3 Demak.
Jenjang SMA/SMK/MAK:
1. Tri Rusdiono.
2. Fauzan A. Mahanani.
3. Dodi Isdiantoro.

Masing-masing juara mendapat piagam penghargaan, Piala, Laptop dan uang pembinaan dengan besaran 3 juta untuk juara pertama, 2,5 untuk juara kedua, dan 2 juta untuk juara ketiga. Untuk lebih lengkapnya bisa membuka situs LPMP. Juga untuk peringkat lainnya katanya akan di upload. Tunggu saja. Oh ya, salut yang setinggi-tingginya buat TK Nasima, tiap tahun mereka selalu punya juara. Sampai jumpa tahun depan. Insyaallah.

Wasalam.
Baca Selengkapnya....!