Jika sudah mampir silahkan tinggalkan Pesan, Kritik atau Saran pada kolom komentar. Sebagai tanda persahabatan

Senin, 11 Oktober 2010

MENGELOLA STRESS

Setiap orang tentu pernah merasakan sangat tertekan dalam kehidupan. Nah, rasa tertekan tersebut sering juga dinamakan stress. Lalu apa sih stress itu sendiri? Stress adalah cara tubuh kita bereaksi terhadap ketegangan, kegelisahan, dan tugas-tugas berat yang harus dihadapi setiap hari. Ketika tekanan terhadap tubuh semakin besar, kadang-kadang kita manjadi jatuh sakit ataupun mengalami gangguan-gangguan lainnya.

Saat menghadapi stress, otak akan merangsang sekresi adrenalin yang akan menuju ginjal dan memicu proses perubahan glikogen menjadi glukosa sehingga mempercepat aliran darah. Sehingga kemudian aliran darah meningkat, pernafasan semakin cepat, dan pencernaanpun akan terkena dampaknya.

Banyak hal yang dapat menjadi pemicu stress. Mungkin beban kerja yang terlampau berat dan terus menumpuk. Bisa juga suasana kerja yang tidak menentramkan. Ataupun masalah keuangan sehari-hari yang tak kunjung membaik sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Mungkin juga urusan rumah tangga, anak-anak yang bandel dan susah diatur, semua bisa menjadi sumber stress.

Dan cara bereaksi dalam menghadapi tekanan setiap orang berbeda-beda. Sebagian ada yang dapat melawan dan menghadapi masalah dengan mudah, tetapi sebagian yang lain memilih untuk bersembunyi dan ketakutan ketika harus menghadapi masalah. Untuk melawan stress penting bagi kita untuk menetapkan tujuan-tujuan secara jelas dan belajar memilih aktivitas yang sesuai dengan gaya hidup yang sehat.

Tiap-tiap hari kita pasti menghadapi stress pada tingkatan yang berbeda-beda. Adapun tipe stress terbagi dalam tiga jenis yakni:
1. Stress ringan. Adalah tipe stress yang dihadapi oleh setiap orang dari waktu ke waktu, seperti stress menjelang ulangan, stress menghadapi ujian, dikejar deadline pekerjaan, dan sebagainya. Secara umum tipe sress ini menguntungkan bagi kita karena menimbulkan antusiasme, semangat, dan tekanan yang membantu kita untuk berkembang dan menjadi lebih aktif.
2. Stress berlebihan. Stress ini terjadi saat kita menghadapi tekanan secara terus menerus dan berlebihan
3. Stress kronis.
Gejala-gejala emosional yang menyertai stress diantaranya mudah tersinggung, insomnia, apatis, sulit berkonsentrasi, suasana hati mudah berubah-ubah, perilaku impulsif, mudah menangis, mimpi buruk, hiperaktivitas, keresahan, perilaku kompulsif dan ketergantungan.

Secara umum stress dapat mempengaruhi kehidupan pada tahap manapun dan pada usia berapapun. Bahkan stress dapat pula terjadi pada anak-anak. Walaupun mereka masih kecil tetapi mereka hidup di dunia orang dewasa. Mereka juga mengalami stress saat berada di bawah tekanan orang tua mereka yang mengalami stress. Apabila ini terus berlanjut dan menjadi rutinitas, anak-anak menjadi terbiasa terhadap meningkatnya level adrenalin. Akibatnya anak-anak menjadi tidak nyaman, cepat menjadi bosan, saat akhirnya mereka dalam kondisi tenang. Setelah dewasa beberapa diantaranya memberikan tekanan yang berlebihan terhadap diri sendiri karena tidak tahan berada pada situasi tenang. Hal ini merupakan dampak stress yang di bawa pada masa kanak-kanak.

Untuk mengelola stress agar tidak berkepanjangan ada banyak cara yang dapat kita lakukan. Dari sejumlah wacana mengenai stress management, terdapat sejumlah siasat dan tema yang dapat kita pahami untuk bisa mengelola stress dengan baik. Disini kita hendak mengungkap elemen kunci yang amat berpengaruh terhadap derajat kekuatan mental kita dalam menahan tekanan hidup yang datang silih berganti.

Hal pertama adalah tentang persepsi. Pada akhirnya stress yang kita alami sangat tergantung pada persepsi dan cara pandang kita menatap fakta hidup di sekeliling kita. Dua orang mungkin bisa menemui masalah yang persis serupa, namun persepsi dua orang itu atas masalah itu bisa berbeda sama sekali. Individu yang cenderung memiliki persepsi atau pola pikir yang negatif (atau selalu menatap sebuah problem dari kacamata pesimisme dan “buram”) cenderung mudah tergelincir dalam situasi stress.

Sebaliknya, individu yang selalu dibekali dengan positive thinking, yang selalu bisa melihat hikmah dibalik peristiwa cenderung tidak mudah terkena stress. Persepsi mereka atas sebuah masalah selalu berfokus pada solusi dan berorientasi masa depan. Dan ini membuat mereka senantiasa bisa mengelak dari beban stress yang berkepanjangan.

Hal yang kedua adalah LOCUS of CONTROL. Individu dengan “internal locus of control” percaya bahwa mereka paling bertanggungjawab dalam mengendalikan nasib mereka – bukan pihak/orang lain. Sebaliknya, individu dengan “external locus of control” percaya bahwa nasib mereka lebih ditentukan dan dikendalikan oleh kekuatan dari luar; oleh bos mereka, atau oleh “manajemen perusahaan”, atau oleh “kebijakan pemerintah”.

Dari sejumlah penyelidikan, terbukti bahwa orang yang memiliki external locus of control cenderung mudah “menyerah” pada tekanan hidup; mentalnya rapuh, pasif, serta jarang memiliki kegigihan untuk memperbaiki jalan kehidupannya. Orang seperti ini biasanya gampang terkena stress. Sebaliknya, orang yang memiliki internal locus of control cenderung memiliki keyakinan kuat pada dirinya sendiri, dan tidak mudah tergelincir dalam stress.

Aspek terakhir dan paling penting dalam menjaga ketenangan hati adalah faktor spiritual. Seseorang yang selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta selalu akan memperoleh ketenangan dalam hidupnya dan tidak mudah dihinggapi oleh rasa stress. Sebaliknya individu yang tidak pernah dekat dengan penciptanya akan cenderung merasa selalu gelisah dan mudah tergelincir dalam situasi stress.

Disamping itu penting pula bagi kita untuk menerapkan gaya hidup sehat dan berimbang. Jangan membebani diri dengan sesuatu yang diluar batas kemampuan kita. Dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan jalan mengatasi stress yang paling mujarab.

Demikianlah kunci yang mungkin perlu kita pahami dalam proses meraih hidup yang bebas dari kegelisahan dan kegundahan hati. Persepsi yang positif dan raca percaya diri untuk terus berusaha mengendalikan jalan hidup adalah dua tindakan penting yang perlu dijalani. Dari situlah kita barangkali akan terus bisa singgah dalam jalan kehidupan yang penuh makna dan sungguh menentramkan.
Baca Selengkapnya....!

Sabtu, 09 Oktober 2010

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL

Selama dua hari ini tiap pagi aku disibukkan oleh permintaan anakku untuk mencarikannya tumbuh-tumbuhan untuk dibawa ke sekolah. Kemarin minta dicarikan tanaman yang memiliki akar serabut dan akar tunggang. Lha, pagi-pagi pergi ke sawah buat nguber tanaman berakar serabut. Untung kakeknya menanam pohon jagung. Untuk yang berkar tunggang di samping rumah banyak tumbuh tanaman rambutan, sisa pembuangan. Ada gunanya juga ternyata. Dan untuk pagi ini anakku minta dicarikan bermacam-macam dedaunan. Ada daun sirih, daun melati air, daun padi, daun jagung, daun ketela pohon, daun pepaya, dan daun lamtoro.

Pokoknya heboh. Namun aku bersyukur, berarti ada sedikit kemajuan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Para guru tidak lagi menganut pembelajaran abstrak sebagaimana aku sekolah dulu yang hanya mengacu pada model pidato dan buku teks, namun sudah menggunakan pembelajaran model kontekstual. Salut.

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah model pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kontektual ini didasarkan pada hasil penelitian dari John Dewey yang menyimpulkan bahwa anak didik akan belajar dengan baik apabila apa yang dipelajari terkait dengan apa yang diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Juga dilandasi oleh teori belajar dari Jerome Brunner yang mengatakan belajar merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya sehingga siswa mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.

Jadi pembelajaran model kontekstual menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Prosesnya tidak mengharapkan siswa hanya menerima pelajaran akan tetapi ada proses mencari dan enemukan sendiri materi tersebut. Disamping itu pembelajaran kontekstual juga mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman di sekolah dengan kehidupan nyata. Materi pelajaran kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak untuk kemudian dilupakan melainkan diajdikan bekal dalam mengarungi kehidupan nyata.

Prinsip dasar pembelajaran kontekstual:
1. Menekankan pada pemecahan masalah.
2. Kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti di rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
3. Mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali.
4. Menekankan pengajaran dalam konteks kehidupan siswa.
5. Mendorong siswa belajar dari satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama.
6. Menggunakan penilaian authentik.

Karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual:
1. Antar siswa perlu bekerja sama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan dan tidak membosankan.
4. Terintegrasi.
5. Menggunakan berbagai sumber.
6. Siswa aktif.
7. Sharing dengan teman.
8. Siswa kritis dan guru kreatif.
9. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, artikel, humor, dan lain-lain.
10. Laporan kepada orang tua siswa bukan hanya rapor melainkan juga hasil karya siswa, hasil praktikum, karangan siswa, dan lain lain, yang dikemas dalam portofolio.
11. Menggunakan penilaian sebenarnya (authentic assesment)

Karakteristik proses pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah diopelajari, degnan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.
3. Adanya pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari anak tentang pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehingga ada perubahan pada perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.

Langkah yang perlu ditempuh guru dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual:
1. Mengembangkan pemikiran, bahwa anak-anak perlu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya (belajar secara mandiri).
2. Melakukan kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Ungkap rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar, misalnya melalui belajar kelopmpok.
5. Hadirkan model untuk contoh pembelajaran.
6. Malakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual:
1. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari siswa.
2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan menyajikan dengan konsep yang akan dibahas dalam pembelajaran.
4. Merancang pembelajaran dengan mengkaitkan konsep dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5. Melaksanakan penilaian pengalaman siswa, di mana hasilnya nanti dijadikan bahan referensi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran.

Perbedaan pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual dengan pendekatan konvensional:
1. Pendekatan kontekstual:
a. Pemahaman makna.
b. Pemilihan informasi atas dasar kebutuhan siswa.
c. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
d. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata.
e. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
f. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
g. Ketrampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
h. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting.
i. Perilaku baik berdasarkan motivasi instrinsik.
j. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri.
k. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik dengan berbagai cara.
2. Pendekatan Konvensional:
a. Menyandarkan pada hafalan.
b. Pemilihan informasi ditentukan oleh guru.
c. Siswa pasif menerima informasi.
d. Pembelajaran abstrak dan teoritis.
e. Terfokus pada disiplin tertentu.
f. Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan.
g. Ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan.
h. Pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.
i. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.
j. Hadian dari perliku baik adalah nilai (angka rapor)
k. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

Menyusun rencana pembelajaran berbasis kontekstual:
- Program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru.
- Berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswa sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.
- Tercermin tujuan pembelajaran.
- Menggunakan media pembelajaran yang tepat.
- Materi pelajaran jelas.
- Ada langkah-langkah pembelajaran yang akan ditempuh.
- Ada authentic assesment (dengan apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran)

Pembelajaran berbasis kontekstual pada intinya adalah inkuiri, penemuan sendiri oleh siswa, filosofinya adalah konstruktivisme, pembelajarannya dengan model, bekerja dan belajar kelompok, adanya pertanyaan-pertanyaan, penilaiannya adalah penilaian yang sebenarnya dan di akhiri dengan refleksi.

Guru yang profesional selalu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui berbagai model pembelajaran inovatif berbasis kontekstual menuju pendidikan yang bermutu dan fungsional.

Tugas guru memang berat namun mulia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tatanan nilai-nilai luhur sehingga generasi mendatang tidak hanya menjadi generasi yang cerdas namun juga memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi terhadap Allah SWT. Majulah guru Indonesia.

Source: Materi penataran “Membangun Profesionalitas Guru melalui Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kontekstual” oleh Prof. Dr. Rusdarti, M.Si.

Baca Selengkapnya....!

MENGINTIP PEMBELAJARAN DI TK ISLAM TERPADU

Pagi tadi saat bersiap mengawali hari, tiba-tiba HP berdering. Ada SMS masuk yang mengabarkan kalau pagi ini ada pertemuan KKG Gugus Melati. Wah inilah akibat dari kemajuan teknologi. Apa-apa serba SMS dan mendadak pula. Akupun langsung berpikir gimana caranya bisa sampai ke lokasi yang terbilang jauh dari jalan raya itu. Dan akhirnya kepikiran, aku berangkat sama suamiku aja. Alias nunut.

Dan sampai sana sudah pasti aku kepagian. Tapi asyik juga dong, aku bisa sekalian ngintip pembelajaran di TK IT ini. Dan seperti namanya TK Islam Terpadu sudah tentu muatan agamanya sangat kental sekali. Mulai dari pakaian seragam, tata cara mengawali pembelajaran, sangat kental dengan nuansa Islami. Seperti contohnya nih saat baris, anak-anak menghafalkan surat Al Fatihah sekaligus artinya. Juga Asmaul Husna yang berjumlah 99 itu anak-anak juga hafal. Luar biasa.

Aku jadi teringat ketika aku ditawari pindah ke TK IT di daerah Demak. Saat itu belum aku putuskan kuterima atau tidak tawaran menggiurkan itu. Aku bilang akan observasi dulu. Namanya TK IT sudah pasti berbeda dengan TK-ku yang bukan IT dong. Karena pingin tahu model pembelajarannya maka aku sempatkan satu hari survey di sana. Dan alhasil aku kaget bukan main. Soalnya beda jauh dari keseharianku. Banyak hafalan hadist dan Qur’an. Dan hebohnya lagi saat guru meminta anak-anak menyebut suatu hadist, anak-anak langsung menyahut lengkap dengan artinya. Wah, wah luar biasa. Tapi toh akhirnya aku nyerah. Gak sanggup. Padahal sih sebenarnya malas belajar saja. Meaby next time??

Kembali ke pertemuan KKG. Karena akan segera digunakan sebagai tempat pertemuan, maka pembelajaran TK IT hari itu tidak bisa penuh. Anak-anak dipulangkan pagi. Dan sebagaimana anak-anak dari jaman dulu aku sekolah sampai sekarang jadi guru, kalau namanya pulang pagi kok ya senangnya bukan main.

Setelah menunggu lumayan lama, jam 9 akhirnya pertemuan KKG Gugus Melati resmi di mulai. Banyak hal yang dibicarakan dalam pertemuan kali ini. Diantaranya penyusunan program kerja gugus, pembentukan tim perumus kurikulum, alhamdulillah saya dipercaya masuk tim ini. Mudah-mudahan saya mampu menjalankan tugas dengan baik.

Disamping hal-hal tersebut di atas masih ada lagi satu kabar gembira bagi para insan yang berkecimpung di dunia TK. Katanya usulan adanya dana BOS untuk sekolah TK akan disetujui. Walaupun baru sekedar wacana, tak urung kabar itu sedikit melegakan hati kami.

Sebagaimana telah banyak kita ketahui, kendati pendidikan PAUD telah dijadikan salah satu pilar penyelenggaraan pendidikan di negeri ini oleh Mendiknas, namun dalam pelaksanaannya hal tersebut masih jauh panggang dari api. Alias mimpi kali yeee.

Tak terasa pertemuanpun menjelang tengah hari. Kemudian kami merencanakan untuk sowan pada Pengawas Sekolah kami yang akan pergi haji yang kebetulan berdomisili satu desa dengan tempat pertemuan KKG. Wah sayang, ketika sampai di sana ternyata beliau sedang tidak di rumah. Katanya pergi takziyah. Kamipun terpaksa nunggu. Tapi tidak apa-apa. Ada banyak makanan enak di sini. Juga jambu delima yang sekarang sedang musim. Sampai ketemu lagi.
Baca Selengkapnya....!

Jumat, 01 Oktober 2010

TERTIPU JANJI POLITISI

Sebentar lagi kota Demak akan menyelenggarakan pemilukada untuk memilih bupati dan wakil bupati yang akan habis masa jabatannya. Tepatnya besok tanggal 6 Maret 2011. Dan dalam rentang waktu sebelum pemilukada kampanye dari para calon gencar dilakukan. Baik dengan mendatangi desa-desa ataupun pertemuan-pertemuan. Tak ketinggalan pula pertemuan yang diselengggarakan oleh para guru.

Ngomong-ngomong tentang pemilu saya jadi teringat ketika itu ada pemilu DPR. Kampanyenya lebih seru dong. Dan para guru pun tak luput sebagai sasaran kampanye para calon itu baik secara terang-terangan ataupun terselubung. Dan karena pada saat itu para guru sedang dihebohkan oleh musim sertifikasi maka para calon wakil rakyat itu dengan cerdiknya menyelenggarakan seminar-seminar guna menarik simpatisan dari kalangan guru.

Termasuk juga diriku yang waktu itu ikut meramaikan seminar. Selain harganya murah juga sekalian dapat ilmu dan sertifikat. Apalagi seminarnya berkelas nasional dengan narasumber seperti Bapak Baedowi, Bapak Ahmad Dasuki, dan lain-lain. Sambil menyelam minum air lah, asal jangan kelelep aja.

Ada suatu pengalaman yang heboh, lucu, menggelikan sekaligus menjengkelkan pernah aku alami saat ikut seminar yang diselenggarakan salah satu partai negeri ini. Waktu itu seminarnya tentang PTK dan Karya Tulis. Wah sesuatu yang sedang aku gandrungi saat itu. Nah dalam seminar itu pada saat sesi terakhir pembicara yang merupakan calon DPR RI membagikan doorprize. Gak tanggung-tanggung doorprize-nya waktu itu. Beasiswa kuliah S1. Coba bayangkan, siapa yang gak ngiler waktu itu. Sebagai syarat pemerolehan doorprize kita di suruh mengisi angket. Nah didalam angket tersebut kita di suruh menuliskan IPK terakhir kita. Aku tulis saja IPK waktu aku kuliah di D2 3,83. Wah, tapi aku gak ngarepin apa-apa. Soalnya kalau soal undi-undian begitu aku belum pernah beruntung. Lagipula saat itu aku juga sudah kuliah di jenjang S1. Mau apa lagi.

Tapi tak dinyana tak disangka, eh namakulah yang keluar sebagai peraih doorprize beasiswa ke S1. Subhanallah, tentu saja aku kaget bukan kepalang. Dan tentu saja sekaligus senang. Siapa sih yang gak suka barang gratisan. Akhirnya aku bersama seorang rekan guru yang juga terpilih disuruh mengumpulkan berkas.

Namun yang sedikit menggelitik tanya, panitia mengatakan hadiah akan di serahkan nanti pada bulan Oktober. Ooooooo, begitu! Itu sih usai pemilu DPR. Berarti ada udang di balik rempeyek dong.

Akhirnya tunggu punya tunggu sampai kelewat bulan Oktober eh gak ada kabar juga. Bahkan sampai sekarang. Yah, janji politisi, susah dipegang. Dan barangkali juga memang bukan rejeki aku kali yah. Tapi alhamdulillah, dapat ilmu banyak. Salam.
Baca Selengkapnya....!

BREAKING THE RULES

Sudah beberapa bulan ini sejak terdaftar menjadi anggota perpustakaan Daerah Demak aku punya kegiatan rutin yang aku lakukan tiap satu minggu sekali. Yakni menyambangi kantor perpustakaan Demak untuk mngembalikan dan tentu saja meminjam buku lagi. Begitu seterusnya. Mau tidak mau aku harus rutin meminjam dan mengembalikan, sebab kalau telat bakalan di kenai sangsi yakni kartu di tahan dan tidak diperbolehkan meminjam untuk sementara waktu.

Selama ini sih aku selalu mematuhi peraturan, yakni tepat waktu dalam pengembalian. Yang menjadi masalah adalah jumlah buku maksimal hanya dua yang boleh dipinjam bagiku teramat sangat kurang. Namun untuk menambah jumlah juga tidak diperkenankan. Alhasil aku punya akal deh.

KTA suamiku sama anakku yang nggak digunakan untuk meminjam, aku gunakan untuk meminjam. Aslinya kartu kan tidak boleh dipinjamkan sama orang lain. Alhasil enam buku bisa aku peroleh sekali jalan ke perpustakaan. Lumayan. Khan cape bo, kalau mau tiap hari bolak-balik ke perpustakaan. Mana jauh lagi!

Mulanya aku ditegur sama bagian pelayanan. Namun aku punya alasan buat ngeles. Aku bilang saja kalau suamiku tidak mungkin datang sendiri untuk meminjam buku karena disamping tempat kerjanya jauh, jam kerjanya juga tidak memungkinkan. Perpustakaan buka sampai jam 3 sore, sementara suamiku pulang kerja jam 4 sore. Akhirnya bapaknya yang baik hati mau mengerti dan aku diperkenankan meminjamkan buku buat anak dan suamiku. Terimakasih. Aku akan tertib mengembalikan. Namun jangan di tiru, ya.
Baca Selengkapnya....!